Sebelumnya
Zayyan melirik Lex. "Lo nunggu paket?"
Lex mengernyit. "Nggak."
Dia bangkit dari sofa dan berjalan ke pintu. Begitu membukanya, dia sedikit terkejut melihat siapa yang berdiri di depan.
.
.
.
.
Lex masih berdiri di ambang pintu, menatap cowok yang baru datang dengan tatapan sedikit kaget.
"Dongbin?" Suaranya terdengar sedikit terkejut.
Cowok di depan pintu itu-Dongbin-langsung menyeringai, mengangkat satu tangan sambil melambai kecil. "Hello, my cousin! Long time no see!"
Ekspresi lex langsung berubah dari kaget menjadi malas. Dia memutar bola matanya sebelum menjawab dengan nada datar, "helleh, sok inggris lo. Pulang sana."
Dongbin buru-buru mengulurkan kakinya ke ambang pintu, seolah takut lex bakal benar-benar menutup pintu di depannya. "Eh, eh, di usir nih? Capek tau kesini!"
Zayyan, yang duduk di sofa sambil memperhatikan interaksi mereka, akhirnya angkat suara. "Temen lo, Lex?" tanyanya, penasaran.
Lex mendesah pelan sebelum akhirnya membuka pintu lebih lebar. "Bukan, sepupu."
"Ohh." Zayyan mengangguk-angguk, matanya memperhatikan Dongbin yang masih berdiri dengan tas besarnya.
"Nah, gitu dong!" Dongbin langsung nyelonong masuk tanpa menunggu izin lebih lanjut. Dia menurunkan tasnya ke lantai dengan suara berdebam, lalu menghempaskan diri ke sofa seolah ini rumahnya sendiri. "Gila, jauh banget, gue udah kayak perjalanan lintas kota."
Lex mendudukkan diri di sofa sebelahnya, melipat tangan di dada. "Ngapain lo ke sini?"
Dongbin mengangkat bahu santai. "Nganter makanan dari Tante Yuna." Dia menepuk tasnya. "Plus ada sedikit tambahan dari gue sama nyokap."
Lex melirik tas itu dengan ekspresi malas. "Nggak perlu repot-repot."
Dongbin terkekeh. "Telat, gue udah di sini."
Zayyan, yang sejak tadi memperhatikan interaksi mereka, menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Lo jauh-jauh ke sini cuma buat anter makanan?"
"Gue anak yang baik hati," jawab Dongbin sambil tersenyum penuh percaya diri. "Dan juga, sekalian ngelihat kehidupan sepupu gue yang katanya udah mandiri."
Lex mendesah. "Udah kelihatan kan? Udah, balik sana."
"Wah, tega banget." Dongbin berpura-pura mengelus dadanya. "Sepupu yang nggak tahu terima kasih."
Dongbin mengangguk. "dan ya Lumayan Kangen juga sama sepupu gue ini."
"Yang bener?" Lex menaikkan satu alis.
Dongbin nyengir. "Enggak, bohong."
Lex mendengus. "Gue tonjok ya muka lo"
Mereka bertiga terdiam sebentar sebelum akhirnya Dongbin bersandar lebih nyaman di sofa. "Oh iya, kalian udah makan?"
Zayyan mengangguk. "Tadi udah di sekolah."
"Bagus deh. Tapi tetep cobain makanan yang gue bawa, enak banget, serius," Dongbin berkata sambil mulai membuka tasnya.
Lex melirik isi tas Dongbin dengan tatapan malas. "Kalau makanan gratis mah nggak nolak."
Dongbin tertawa kecil. "Nah, gitu dong."
Zayyan, yang masih menikmati interaksi mereka, ikut tersenyum kecil. Sepertinya sore ini bakal lebih seru dari yang dia kira.
Dongbin mulai mengeluarkan beberapa kotak makanan dari tasnya dan meletakkannya di meja. Ada tteokbokki, ayam goreng, dan beberapa camilan lainnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
VEGEANCE ( xodiac )
Mystery / ThrillerHanya sebuah kisah tentang sekumpulan remaja yang di teror X beyond the world Xodiac 입니다
