19

250 27 30
                                        

Di Taman Rumah Sakit

Setelah memastikan Beomsoo sudah selesai makan dan tertidur, Gyumin dan Sing memutuskan untuk keluar dari kamar agar tidak mengganggu istirahatnya. Mereka berjalan keluar rumah sakit dan menuju taman kecil di dekatnya.

Di taman, suasana terasa lebih tenang meskipun pikiran mereka tetap dipenuhi kekhawatiran. Mereka duduk di bangku panjang di bawah pohon rindang.

Gyumin memecah keheningan. "Gila sih, pelaku ini bener-bener psikopat. Sampe segitunya dia neror kita. Dua temen kita udah jadi korban."

Sing hanya tersenyum tipis, menatap rerumputan di depannya. "Mungkin si pelaku punya dendam sama salah satu dari kita. Dendam yang nggak bisa dimaafin. Makanya dia rela ngelakuin semua ini, bahkan sampai ada korbannya."

Gyumin menoleh cepat, wajahnya serius. "Maksud lo? Siapa yang punya dendam sama kita?"

Sing langsung mengalihkan pandangannya, seolah sadar dia sudah bicara terlalu jauh. Dia tersenyum kecil, mencoba meredakan suasana. "Nggak, gue cuma ngomong kemungkinan aja. Lagian, kita juga nggak tahu pasti. Eh, ngomong-ngomong, temen-temen kita yang lain gimana ya? Apa mereka udah nemuin petunjuk baru soal simbol itu?"

Gyumin memandang Sing dengan curiga, tapi akhirnya menghela napas dan mengikuti alur pembicaraan. "Entahlah. Gue harap mereka nemu sesuatu. Gue udah capek banget mikirin ini semua, tapi kita nggak bisa berhenti. Pelaku ini kayak nggak bakal berhenti sebelum dia dapet apa yang dia mau."

Sing mengangguk pelan, tapi pandangannya tetap kosong, seperti sedang memikirkan sesuatu yang lain. "Ya, kita harus tetep kerja sama. Kalau nggak, kita bakal kalah sama dia."

Gyumin menatap langit malam yang mulai gelap. "Gue cuma pengen ini semua cepet selesai, Sing. Gue pengen semuanya balik kayak dulu lagi. Nggak ada teror, nggak ada korban. Gue capek hidup dalam ketakutan."

Sing menepuk bahu Gyumin pelan. "Sabar, Min. Kita pasti nemuin jawabannya. Tapi buat sekarang, kita harus tetep kuat. Jangan kasih pelaku kesempatan buat ngeliat kita lemah."

Gyumin mengangguk, meskipun rasa lelah masih jelas terlihat di wajahnya. Mereka terdiam sejenak, menikmati angin malam yang sejuk, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menghadapi apa yang akan datang.

Setelah beberapa saat berbincang di taman, Sing dan Gyumin memutuskan untuk kembali ke kamar Beomsoo. Langkah mereka terasa lebih berat, terutama setelah pembicaraan mereka sebelumnya. Pikiran tentang pelaku dan segala kemungkinan terus menghantui mereka.

Saat mereka mendekati kamar Beomsoo, suasana langsung terasa berbeda. Di depan pintu kamar, banyak perawat yang tampak sibuk lalu lalang. Beberapa membawa alat medis, sementara yang lain terlihat berbicara serius.

Gyumin menghentikan langkahnya, merasa ada yang tidak beres. "Eh, Sing, kok rame banget ya?" tanyanya dengan suara cemas.

Sing mengerutkan kening, lalu menatap ke arah perawat yang sedang berjalan cepat melewati mereka. "Permisi, Bu. Ada apa ya di dalam? Itu kamar temen kami, Beomsoo."

Perawat itu berhenti sejenak, wajahnya terlihat tegang. "Pasien Beomsoo... kondisinya semakin memburuk," jawabnya singkat sebelum kembali berjalan tergesa-gesa.

Jawaban itu langsung membuat Gyumin dan Sing saling pandang dengan wajah panik. "Buruk? Kok bisa?" Gyumin bergumam, suaranya bergetar.

Mereka berdua berdiri dengan gelisah di depan pintu kamar, menunggu kabar lebih lanjut. Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka, dan seorang dokter keluar dengan langkah berat. Wajahnya terlihat sedih, seolah-olah ada kabar buruk yang ingin disampaikan.

Sing langsung mendekat, mencoba tetap tenang meskipun jelas ia juga panik. "Dok, gimana keadaan Beomsoo?" tanyanya dengan suara yang berusaha stabil.

Dokter itu menatap mereka dengan ekspresi penuh belas kasih. Ia menghela napas panjang sebelum menjawab dengan suara pelan, namun berat. "Maaf sekali... Beomsoo sudah tidak bernyawa."

VEGEANCE ( xodiac )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang