Sebelumnya
Wajahnya mengeras. “Jangan bilang… kalian curiga sama gue?”
Tak ada yang langsung menjawab. Tapi keheningan itu sudah cukup sebagai jawaban.
Dan dalam hitungan detik—ketegangan yang selama ini mereka tahan akhirnya meledak.
.
.
.
.
.
S
Suasana kamar terasa mencekam.
Di tengah meja, sebuah gantungan kunci berwarna hitam dengan inisial L tergeletak begitu saja, mencuri perhatian semua orang.
Hyunsik menatap benda itu dengan ekspresi serius. "Lo semua lihat ini, kan?"
Nggak ada yang menjawab. Semua cuma saling pandang, seolah menunggu seseorang buat buka suara.
Dan begitu juga dengan gyumin yang akhirnya bersuara. “Gue... nggak bisa bohong, Lex. Ini... aneh banget.”
Lex mengangkat alis. “Aneh? Lo mikir gue yang taruh itu di sana?”
"Lex, kita nggak bilang lo pelakunya," kata Leo, meskipun suaranya terdengar ragu.
"Oh, tapi lo mikir kayak gitu," Lex mendengus sinis. "Jangan pura-pura, Leo. Lo paling gampang percaya omongan orang."
Leo mengatupkan bibirnya, tapi tidak membantah.
Zayyan, yang sejak tadi hanya memperhatikan, akhirnya bersuara. " guys Kita terlalu cepat nuduh Beomsoo waktu itu," katanya hati-hati. "Jangan sampai kita ulangi kesalahan yang sama kali ini."
"Bener" timpal Wain.
Tapi Gyumin nggak kelihatan puas. "Kita juga nggak bisa langsung percaya gitu aja. Lex akhir-akhir ini sering keluar tanpa alasan, terus sekarang tiba-tiba ada gantungan kunci ini?"
Mata Lex menajam. "Jadi, lo beneran mikir gue yang lakuin semua ini?"
"Kita cuma bilang ini aneh, Lex," Leo menjawab.
"Aneh?" Lex tertawa pahit. "Lo tahu apa yang lebih aneh? Temen lo sendiri lebih percaya barang mati daripada gue!"
Gyumin mengepalkan tangan. "Lo pikir kita nggak punya alasan buat curiga?"
Lex menatapnya tajam. "Gue pikir lo lebih pintar daripada sekadar ngejatuhin gue tanpa bukti."
"Kita nggak ngejatuhin lo!" Gyumin membalas cepat. "Kita cuma—"
"Cuma apa? Cuma bikin gue keliatan kayak tersangka? Cuma bikin gue ngerasa dikhianatin?" suara Lex meninggi. "Lo pikir gue selama ini ngelakuin apa? Gue juga pengen tahu siapa yang ngelakuin semua ini, tapi kalau gue malah harus ngelawan lo semua juga, buat apa?"
Ruangan terasa panas. Nggak ada yang bicara.
Lex menghela napas panjang, menahan emosinya. Dia menatap satu per satu wajah temannya—orang-orang yang selama ini dia percaya.
Akhirnya, dia mengambil jaketnya dan berjalan ke pintu.
"Nggak usah cari gue," katanya sebelum membuka pintu dan keluar.
Lex melangkah cepat menyusuri lorong asrama yang sudah mulai sepi. Nafasnya berat, bukan karena lelah, tapi karena dadanya terasa sesak. Semua yang terjadi barusan berputar di kepalanya—tatapan ragu dari teman-temannya, suara mereka yang penuh kecurigaan, dan bagaimana mereka seolah lebih percaya pada benda mati dibandingkan dirinya.
Begitu tiba di rooftop, dia mendesah panjang. Angin menerpa wajahnya, sedikit mendinginkan kepalanya yang panas. Lex bersandar pada pagar, kedua tangannya mengepal.
KAMU SEDANG MEMBACA
VEGEANCE ( xodiac )
Mistero / ThrillerHanya sebuah kisah tentang sekumpulan remaja yang di teror X beyond the world Xodiac 입니다
