15

233 26 2
                                        

Malam itu, suasana di rumah sakit begitu sunyi, hanya suara mesin dan langkah kaki petugas medis yang terdengar samar. Zayyan duduk di bangku ruang tunggu, menatap kosong ke arah lantai. Leo duduk di sebelahnya, menggenggam tangan Zayyan untuk menenangkannya, meski dirinya sendiri masih gemetar.

Hyunsik berdiri di dekat jendela, memandang keluar dengan ekspresi serius. Sementara itu, Gyumin sibuk memainkan ponselnya, mencoba mencari tahu apa yang bisa ia lakukan untuk membantu.

"Kok bisa ya... Beomsoo kayak gitu?" gumam Gyumin pelan, suaranya hampir tak terdengar.

Hyunsik menoleh, lalu mendekati mereka. "Gue nggak yakin, tapi ada yang jelas nggak beres. Tulisan di dadanya... itu pesan, kan?"

Zayyan mengangkat wajahnya, menatap Hyunsik dengan mata lelah. "Pesan apa maksud lo? Gue nggak ngerti."

Hyunsik menghela napas panjang, lalu duduk di hadapan Zayyan. "Tulisan itu, Zay. 'Kau berikutnya.' Itu bukan cuma ancaman. Itu peringatan."

Leo menelan ludah, wajahnya pucat. "Tapi kenapa Beomsoo? Kenapa bukan kita?"

Gyumin mendekat, matanya penuh rasa takut. "Mungkin... karena dia tahu sesuatu? Atau... dia ngelakuin sesuatu?"

Zayyan menggeleng pelan, mencoba mencerna semua ini. "Beomsoo nggak pernah cerita apa-apa. Dia bahkan nggak pernah nunjukin kalau dia takut sama sesuatu."

"Tapi lo inget kan," potong Hyunsik, "seminggu yang lalu dia sempat aneh. Dia bilang ada yang ngikutin dia."

Zayyan terdiam, ingatan itu kembali muncul di benaknya. Memang benar, Beomsoo pernah bercerita bahwa dia merasa ada yang memperhatikan atau mengikutinya, tapi mereka semua menganggapnya bercanda. Sekarang, semuanya terasa lebih serius.

Flashback: Seminggu yang Lalu

Malam itu, mereka berlima sedang duduk di ruang tamu asrama. Suasana santai, dengan Leo dan Gyumin yang sibuk bertengkar kecil tentang siapa yang lebih jago main game, sementara Zayyan hanya tertawa melihat tingkah mereka. Hyunsik duduk di sofa, menggulir layar ponselnya tanpa banyak bicara.

Namun, suasana berubah ketika Beomsoo tiba-tiba membuka mulut.

"Eh, gue mau nanya," katanya dengan nada serius, menghentikan percakapan yang sedang berlangsung.

Leo mengangkat alis. "Nanya apa, Soo? Jangan bilang lo mau minta tips menang game dari gue."

Beomsoo menggeleng pelan, wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya. "Nggak. Gue cuma... lo pernah ngerasa kayak ada yang ngikutin lo nggak?"

Pertanyaan itu membuat semua orang terdiam. Hyunsik meletakkan ponselnya, sementara Gyumin berhenti mengunyah camilan di tangannya.

"Ngikutin?" ulang Zayyan, bingung. "Maksud lo, kayak stalker gitu?"

Beomsoo mengangguk pelan. "Iya... gue nggak tau sih, mungkin gue cuma paranoid. Tapi akhir-akhir ini, tiap gue pulang malem, gue ngerasa ada yang ngikutin gue dari belakang."

Gyumin tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. "Ah, lo pasti kebanyakan nonton film horor, Soo. Itu cuma perasaan lo aja."

Tapi Beomsoo tetap diam, tatapannya serius. "Gue nggak bercanda, Min. Gue beneran ngerasa kayak ada yang ngikutin. Gue udah coba cek ke belakang, tapi nggak ada siapa-siapa. Tapi rasanya... ada."

Hyunsik mengernyitkan dahi, menatap Beomsoo dengan cermat. "Lo yakin? Mungkin lo capek atau gimana?"

Beomsoo menghela napas panjang. "Mungkin. Tapi gue nggak tau... rasanya aneh aja. Kayak... gue diawasin."

Leo menepuk bahu Beomsoo dengan santai. "Udah, lo jangan mikir aneh-aneh. Kalau lo ngerasa ada yang ngikutin lagi, langsung hubungi kita, oke?"

Beomsoo mengangguk pelan, tapi wajahnya masih terlihat gelisah. "Iya, gue bakal bilang ke kalian kalau ada apa-apa."

Mereka mencoba kembali ke suasana santai, tapi kata-kata Beomsoo terus terngiang di kepala mereka, terutama Hyunsik.

Flashback of

Hyunsik menatap teman-temannya dengan ekspresi penuh kekhawatiran. "Lo inget kan waktu itu? Dia udah bilang soal ini. Tapi kita semua nggak nganggap serius."

Gyumin menggigit bibirnya, merasa bersalah. "Lo pikir... ini ada hubungannya sama apa yang dia rasain waktu itu?"

Leo mengangguk pelan, tatapannya kosong. "Kalau iya... berarti kita semua salah. Kita harusnya dengerin dia."

Zayyan terdiam, dadanya kembali terasa sesak. Kata-kata Beomsoo dari seminggu lalu kini terasa seperti peringatan yang mereka abaikan, dan kini konsekuensinya menghantui mereka.

"Kita nggak bisa tinggal diam," kata Hyunsik dengan nada tegas. "Kita harus cari tahu siapa yang ngelakuin ini."

Leo menatap Hyunsik dengan ragu. "Tapi gimana caranya? Kita bahkan nggak punya petunjuk."

Gyumin tiba-tiba berdiri, menunjukkan ponselnya. "Gue nemu ini di grup chat kita. Ada pesan dari nomor nggak dikenal. Isinya... aneh."

Semua langsung mendekat untuk melihat layar ponsel Gyumin. Pesan itu singkat, tapi cukup untuk membuat bulu kuduk mereka meremang.

"Selamat datang di game gue. Satu per satu, kalian akan tahu kebenarannya. Tapi ingat, setiap langkah ada harga yang harus dibayar."

Zayyan membaca pesan itu berulang kali, mencoba mencari makna di baliknya. "Game?  maksudnya?"

Leo menggeleng, wajahnya penuh kebingungan. "Gue nggak ngerti. Tapi ini jelas bukan kebetulan."

Hyunsik meremas tangannya dengan gelisah. "Gue nggak suka ini. Kayak ada yang sengaja mainin kita."

Zayyan menggigit bibirnya, pikirannya berputar. "Kalau ini game, berarti ada yang ngatur. Dan kalau ada yang ngatur, dia pasti dekat sama kita."

Gyumin menatap Zayyan dengan mata lebar. "Lo pikir ini salah satu dari kita?"

Hening menyelimuti mereka. Pikiran itu terlalu menakutkan untuk diterima, tapi juga terlalu logis untuk diabaikan.

Leo akhirnya memecah keheningan. "Kalau gitu, kita harus hati-hati. Kita nggak bisa percaya siapa pun, bahkan sama teman sendiri."

Zayyan menatap Leo, rasa sakit terlihat di matanya. "Kita teman, Leo. Kita harus saling percaya."

"Tapi, Bang," jawab Leo dengan suara pelan, "teman juga bisa jadi musuh kalau keadaan memaksa."

Hati Zayyan terasa berat mendengar itu. Tapi dia tahu, Leo ada benarnya. Dalam situasi seperti ini, siapa pun bisa menjadi tersangka.

"Mulai sekarang," kata Hyunsik dengan nada serius, "kita harus selalu bersama. Jangan ada yang sendirian, apa pun yang terjadi."

Semua mengangguk setuju, meski ketegangan di antara mereka semakin terasa. Mereka tahu, ini baru permulaan dari sesuatu yang jauh lebih besar. Dan mereka hanya bisa berharap, mereka cukup kuat untuk menghadapi semuanya.











Yuhuuuu update lagiiii

Mohon maaf, Kali ini author updatenya lama, harusnya hati jumat kemarin kan ya, tapi karna my kuota habis jadinya upnya sekarang. Sorry ya

Dan Di chapter Kali ini author updatenya sedikit, nggak sampe 1000 kata. Mohon maaf
Tapi sebagai gantinya author bakalan up double, oke?. Jadinya sama aja kan.

Oke cus happy reading
See you next chatper
Jangan lupa vote
Geser aja ke bawah, nanti bakalan ada lanjutanya  hehehe 😁

VEGEANCE ( xodiac )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang