Zayyan membuka pintu perlahan. Sinar matahari sore menyusup masuk lewat celah pintu yang semakin terbuka...
Dan di sana, berdiri seseorang dengan hoodie abu-abu yang menutupi hampir seluruh kepalanya. Tangannya membawa dua kantong kresek besar berwarna hitam yang tampak berat.
Zayyan sempat terkejut.
"A-astaga...!" Ia hampir mundur selangkah.
Sosok itu diam saja, hanya menatap Zayyan dalam diam.
"Siapa...?" Zayyan akhirnya bertanya, suaranya masih waspada.
Tanpa bicara, orang itu mengangkat kedua kantong plastiknya sedikit, menunjukkan isinya yang tampak penuh. Aroma makanan mulai tercium samar dari dalamnya.
Zayyan memicingkan mata, lalu ekspresinya mulai berubah. Ia langsung mengenali siapa yang ada di depan pintu.
"Ah... Dongbin ya?" katanya pelan, mulai menghela napas lega.
"Masuk, masuk."
Dongbin masuk pelan tanpa banyak bicara, masih dengan hoodie-nya yang menutupi kepala. Ia langsung berjalan menuju dapur sambil membawa kresek besar itu.
Begitu pintu tertutup, Zayyan kembali ke ruang tamu.
"Siapa Yan...?" tanya Lex yang masih agak tegang.
"Gue kira apaan... ternyata sepupu lo, Lex." jawab Zayyan sambil nyender ke dinding.
"Bawa makanan barusan."
Lex langsung berdiri, wajahnya tampak kaget tapi juga kesal sendiri.
"Eh ya ampun... GUE KIRA HANTU TAU GAK! Lain kali tuh ngomong dulu dong kalo mau ke sini!"
Leo yang tadi sempat sembunyi di balik bantal langsung duduk tegak.
"Hah?! Itu orang siapa anjir?!"
Zayyan melirik ke arah Dongbin yang baru masuk, lalu berkata santai,
"Ooo, ini sepupunya Lex, Dongbin."
Salah satu dari mereka, mungkin Sing, langsung angkat suara,
"Ooo, jadi ini sepupu lo itu? Yang kemarin kita nggak sempet ketemu waktu itu kan?"
Lex langsung mengangguk,
"Iya, iya."
Gyumin yang duduk di sampingnya nyengir,
"Ganteng, ganteng."
Lex spontan nyolot,
"Ganteng apanya? Modelan kayak gini juga dibilang ganteng?"
Sing ikutan nimbrung,
"Iya, iya, ganteng! Kalok dibandingin sama lo, ya 11-12 lah."
Dongbin yang sudah mulai santai disuruh duduk bareng mereka.
"Gabung aja sama kita, nongkrong di sini," kata Zayyan. Mereka pun semua duduk melingkar, tapi bukan buat nonton film lagi, melainkan sibuk ngobrol dan nanya-nanya ke Dongbin.
"Lo tinggal di mana sekarang?" tanya Davin.
"Sering main ke sini gak?" sambung Sing.
"Gimana rasanya sepupuan sama Lex?" Gyumin menimpali.
Dongbin dengan gaya yang ramah dan humoris menjawab satu per satu,
"Wah, tinggalnya gak jauh, deket kok. Sering juga mampir, karena Lex suka ngundang-ngundang."
"Rasanya? Ya, lumayan lah, kalau Lex lagi mood, enak diajak ngumpul."
Lex yang mulai risih, nyeletuk,
"Udah napa nanyanya, dia bukan artis."
Lalu Gyumin tiba-tiba angkat suara dengan serius,
"Terakhir nih, pertanyaan paling penting... Lo tim bubur diaduk apa nggak?"
Semua terdiam. Matanya saling bertukar pandang, ada yang garuk-garuk kepala,
"Apa... serius?!"
Dongbin ngakak,
"Loh, ini pertanyaan penting, loh! Biar jelas kita satu tim atau bukan."
Semua masih terdiam sejenak, memikirkan pertanyaan Gyumin yang “super serius” itu.
Zayyan sampai garuk-garuk kepala sambil senyum kecil,
“Wah, ini pertanyaan buat nentuin nasib persahabatan, ya?”
KAMU SEDANG MEMBACA
VEGEANCE ( xodiac )
Mystery / ThrillerHanya sebuah kisah tentang sekumpulan remaja yang di teror X beyond the world Xodiac 입니다
