Setelah Dongbin pergi, ia sempat berpapasan dengan teman-teman Lex yang baru pulang dari minimarket. Tapi karena mereka tidak saling kenal, mereka hanya berjalan melewati satu sama lain tanpa ada percakapan.
Sementara itu, di ruang tamu asrama, Zayyan masih duduk di tempatnya bersama Lex. Matanya masih sedikit kosong, pikirannya terjebak pada bisikan Dongbin barusan. Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya, membuat dadanya terasa sedikit sesak.
Di sebelahnya, Lex terlihat jauh lebih santai. Dia menyandarkan punggungnya ke sofa dengan ekspresi lega. "Akhirnya pergi juga," gumamnya pelan, lalu melirik ke arah Zayyan. Tapi begitu melihat temannya masih melamun, Lex mengernyitkan dahi.
"Yan, lo nggak papa?" tanyanya sambil mencondongkan tubuh sedikit.
Zayyan langsung tersadar, seolah baru kembali ke dunia nyata. "Eh? Iya, nggak papa," jawabnya cepat, berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
Lex memperhatikannya sebentar, lalu mengangkat bahu. "Bagus deh," ujarnya santai. "Sekarang bantuin gue beresin semua ini."
Tanpa menunggu jawaban, Lex sudah mulai mengumpulkan gelas-gelas kosong di meja. Zayyan menghela napas pelan, mencoba mengenyahkan pikirannya barusan, lalu ikut membantu Lex membereskan ruang tamu.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar semakin jelas di luar asrama. Lex melirik ke arah pintu, mengernyit sedikit.
"Kayaknya mereka udah pada balik," katanya sambil mengangkat alis.
Zayyan menanggapi sambil sedikit bergumam. "Mereka ke minimarket lama banget, kayak mau beli stok seminggu aja."
Lex terkekeh. "Emang, kayaknya mereka beli lebih dari yang kita butuhin."
Dan ternyata, dugaan mereka benar. Satu per satu teman-teman mereka masuk ke dalam ruang tamu. Leo yang pertama kali muncul di pintu, dengan senyum lebar di wajahnya.
"Kita pulang!" serunya dengan ceria.
Di belakang Leo, Sing menyusul dengan beberapa kantong camilan di tangannya. Begitu melihat keadaan di ruang tamu, dia berhenti sejenak dan melirik makanan-makanan yang berserakan.
"Guys," kata Sing, mengalihkan pandangannya ke teman-temannya. "Kita beli banyak..."
Namun, kalimatnya terhenti ketika matanya menangkap banyak bekas makanan di meja. Dia menatap Zayyan dan Lex sejenak, tampak sedikit bingung.
"Ada apa nih? Kok bisa ada makanan sebanyak ini?" Sing bertanya dengan heran, tapi tetap dengan nada ringan.
Lex yang udah siap menjelaskan langsung membuka mulut, "Itu kita tadi-"
Tapi belum selesai Lex ngomong, Sing langsung nyelak, "Wah, tega kalian ya! Makan nggak ngajak-ngajak, mana ada toppoki lagi." Dia melirik dengan ekspresi kecewa tapi juga setengah bercanda.
Lex terdiam sebentar, lalu mencoba untuk menjawab, "Kita nggak..."
Namun, belum selesai juga omongannya, Leo yang sudah berada di belakang Sing langsung nyelak. "Iya, bener. Ih, gitu kalian ya," kata Leo sambil menatap Zayyan dan Lex, tersenyum penuh kemenangan.
Lex yang mulai kesal dengan terus-terusan dipotong omongannya itu, akhirnya merasa nggak tahan dan berkata, "Nggak gitu, Leo! Sing, dengerin dulu napa gue mau ngomong!"
Semua mata kini tertuju pada Lex yang mulai menunjukkan sedikit ketegangan.
Lex menghela napas sebelum akhirnya mulai menjelaskan, "Tadi itu sepupu gue dateng."
Belum sempat ada yang bereaksi, Gyumin langsung nyeletuk dengan nada iseng, "Ganteng nggak?"
Tapi nggak ada yang menjawab, semua hanya saling melirik atau pura-pura sibuk. Gyumin yang nggak puas dengan reaksi mereka cemberut sedikit.
KAMU SEDANG MEMBACA
VEGEANCE ( xodiac )
Mystery / ThrillerHanya sebuah kisah tentang sekumpulan remaja yang di teror X beyond the world Xodiac 입니다
