#Duapuluhtiga

163 13 0
                                        

The purest soul

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

The purest soul

-Wandi Pratama-

Hari sudah sangat sore saat Kaivan, Wandi, dan Brian tiba di rumah Wandi.

Begitu selesai mendapatkan perawatan di klinik terdekat, Wandi langsung dirujuk ke Rumah Sakit untuk melakukan rontgen, karena adanya memar di bagian tangan dan kaki sebelah kanan Wandi. Ditambah Wandi sangat kesakitan saat dokter klinik melakukan pemeriksaan luar pada kaki kanannya.

Setelah mengikuti serangkaian prosedur pemeriksaan, hasil rontgen Wandi keluar, membuat mereka bertiga lemas.

Ada retakan pada tulang metatarsal kaki kanannya, yang mengharuskan Wandi menggunakan gips serta kruk untuk membantunya berjalan.

Setelah Wandi dan Brian berembuk, diputuskanlah kalau Wandi akan menginap sementara di rumah Brian.

Selain ini cara Brian untuk menebus rasa bersalahnya, di rumahnya Wandi juga hanya seorang diri. Adiknya Randi sedang mengikuti program magang dari kampusnya di luar kota dan tidak bisa pulang.

Kaivan pun akhirnya juga ikut menginap di rumah Brian setelah Wandi dan Brian berhasil membujuknya.

Tidak ada salahnya sesekali menginap di rumah teman pikir Kaivan, toh besok masih hari Minggu jadi dia tidak perlu pulang pagi-pagi buta untuk bersiap-siap bekerja.

"Bun... aku pulang...!"

Brian berteriak memanggil ibunya begitu mereka masuk ke dalam rumahnya.

Kaivan yang masuk paling terakhir mengedarkan pandangannya.

Rumah Brian terlihat sederhana, rumah tipe minimalis dengan ukuran yang tidak terlalu besar, bahkan masih lebih besar rumah Arga daripada rumah Brian.

Walaupun demikian, hal tersebut tidak mengurangi kehangatan rumah ini.

Ibu Brian yang sudah diberitahu sebelumnya mengenai kondisi Wandi langsung menyambut mereka.

Setelah berkenalan dan mengobrol dengan ibu Brian, Kaivan jadi tahu dari siapa Brian menurunkan sifat ramah dan cerianya.

Membuat Kaivan mendadak jadi rindu dengan ibunya—Bunda.

"Bunda, aku bantu ya"

Selesai mereka makan malam, Kaivan mengikuti ibu Brian ke dapur untuk membantunya mencuci piring.

"Eh, udah gak usah, gak papa Kai, Bunda biasa kok nyuci piring"

"Gak papa, biar aku aja Bun, Bunda tadi udah masak"

Melihat Kaivan sangat ingin membantunya, ibu Brian pun mengizinkan dengan memberinya sebuah kain lap.

"Yaudah, Bunda yang nyuci kamu yang ngeringin piringnya"

I'm Not GAY!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang