#Tigapuluhsatu

123 9 0
                                        

Terdiam seorang diri

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Terdiam seorang diri

-Kaivan Arnawama-

Hari sudah gelap saat Kaivan berada dalam perjalanan menuju kosannya.

Tidak ada yang bersuara. Entah itu Kaivan ataupun sang pengemudi taksi online. Mereka memilih diam sambil menikmati musik yang dipilih si supir.

Kaivan memandang ke arah luar jendela, sesekali dia bisa melihat pantulan dirinya di sana.

Mata Kaivan berkaca-kaca. Rasa takut, cemas, marah, dan jijik kembali menghantuinya.

Kedua tangan Kaivan hendak memeluk dirinya namun terhenti saat tangan kiri Kaivan menyentuh lengan kanannya.

Kaivan meringis pelan dan langsung melihat ke arah lengan kanannya yang mulai terlihat lebam.

Ini pasti bekas dari perbuatan Arga tadi.

"AC-nya mau dikecilin aja Mas?"

Supir bertanya karena melihat posisi Kaivan yang memeluk dirinya.

Pandangan Kaivan dipaksa tegak mendengar pertanyaan si supir.

"Ng-gak usah Mas, gak papa"

"Oh... saya pikir Mas-nya tadi kedinginan"

Buru-buru Kaivan menurunkan tangannya.

"Gak... ini tangan saya rasanya pegel tadi abis beres-beres"

Si supir tertawa pelan dan selanjutnya perjalanan mereka diisi dengan obrolan ringan dengan lantunan musik dari radio yang masih setia menemani.

Sesampainya di kosan, Kaivan memandangi bangunan empat lantai yang akan menjadi tempat tinggal barunya.

"Mas, ini barang-barangnya mau saya bantu bawain?" Tawar si supir.

"Bentar ya Mas, saya cek ke dalam dulu"

"Tadi saya udah janji sama penjaga di sini minta tolong bantu angkatin"

Tak mau membuat si supir menunggu lebih lama lagi, Kaivan segera membuka pintu pagar dan masuk ke dalam pekarangan.

"Punten, nyari siapa A?" Tanya seorang laki-laki yang sedang duduk di sebuah pos kecil yang diyakini Kaivan adalah pos satpam.

"Kang, saya orang baru kamar 208 yang tadi siang ngabarin"

"Oh...! Kaivan, ya?"

Kaivan mengangguk.

"Bisa bantuin angkatin barang saya gak Kang?"

"Bisa-bisa, ayo A mana barangnya?"

Pria yang akrab dipanggil Kang Eri itu segera mengikuti Kaivan berjalan keluar.

"Aduh A Kaivan, repot-repot, gak usah atuh A"

Selesai mereka berdua mengangkat barang Kaivan ke kamarnya, Kaivan menyerahkan selembar uang berwarna merah ke Kang Eri.

I'm Not GAY!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang