"Aku bukan gay!"
"Aku bilang, AKU BUKAN GAY!"
--------------------
Tidak cukup dirundung karena fisik dan gaya hidupnya, Kaivan juga harus merasakan sakit ketika seksualitasnya dipertanyakan.
Awalnya Kaivan berusaha untuk tak ambil pusing dan memili...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rumitnya sebuah rasa
-Arga Dirgantara-
Ketukan pelan terdengar di pintu kamar Kaivan yang sengaja dibiarkan terbuka. Kaivan yang sedang sibuk menyusun barangnya menoleh sekilas sebelum kembali melanjutkan kegiatannya.
Arga si pengetuk segera masuk setelah Kaivan menyadari kehadirannya.
"Baju kerjanya cuma ini?" Tanya Arga melihat hanya ada satu setelan kerja Kaivan di atas tempat tidur.
"Iya Mas, ini untuk meeting final nanti"
"Siap itu aku full WFH, kalau emang perlu nanti bisa minjem baju Wandi, gampanglah"
Malam ini sampai akhir pekan nanti Kaivan akan tinggal bersama Wandi di rumah Wandi, karena minggu ini sepupu Brian menikah dan sebagian saudaranya menginap di rumahnya.
Wandi merasa tidak enak walaupun Brian dan ibunya sudah berkata tidak apa-apa.
Hal itu membuat Wandi memutuskan untuk pulang. Masalahnya Wandi di rumah seorang diri, tidak ada yang membantunya. Sedangkan dokter berpesan agar Wandi mengurangi aktivitasnya paling tidak selama satu bulan ke depan.
Oleh karena itu Kaivan menawarkan diri. Selain dia masih merasa bersalah atas insiden di rumah hantu tempo hari, Kaivan dan Wandi juga sedang mengerjakan proyek yang sama. Jadi akan lebih mudah kalau mereka bersama untuk berdiskusi dan lainnya.
Kaivan berlutut di depan tempat tidur sambil memasukkan pakaiannya ke dalam tas, sedangkan Arga duduk di sebelah tas Kaivan.
Kegiatan Kaivan terhenti saat tangan Arga menahan tangan kanannya.
"Kenapa Mas?" Tanya Kaivan.
Arga tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan mencondongkan kepalanya, dan satu ciuman mendarat di bibir Kaivan.
Wajah Kaivan tampak bingung menerima ciuman tiba-tiba dari Arga.
"Harus kamu ya?" Arga balas bertanya.
"Harus kamu yang nemenin Wandi?" Arga memperjelas pertanyaannya.
Seuntai senyum terbit di sudut bibir Kaivan, kedua tangannya pindah bersandar di atas paha Arga.
"Kebetulan momennya pas Mas. Aku sama dia satu project, jadi kita bakal lebih gampang kerjanya"
"Tapi minggu lalu kamu udah sama dia, masak minggu ini sama dia lagi?"
Kaivan menatap Arga dengan kedua mata yang membulat.
"Minggu inikan di luar rencana Mas. Wandi gak enak kalau tetap nginep di rumah Brian, sementara dia gak mungkin ditinggal sendirian"
"Lagian kamu kayak aku yang setiap hari sama Wandi aja Mas"