#Tigapuluhenam

76 5 8
                                        

Berbagi kisah dan luka

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Berbagi kisah dan luka

-Kaivan Arnawama-

Kaivan mengaduk-aduk gelas tehnya yang isinya tinggal setengah. Badannya sedang duduk di biliknya, namun pikirannya sedang berkelana.

Sudah lewat beberapa minggu dari kejadian Kaivan mengigau waktu itu dan Wandi tak lagi bertanya tentang hal tersebut, tetapi ada yang berbeda. Wandi seperti menjauhi Kaivan, begitu juga dengan Rumi.

Mereka memang sedang sibuk-sibuknya saat ini, tetapi biasanya mau sesibuk apa pun mereka, mereka tidak pernah bersikap seperti ini kepada Kaivan. Kaivan tentu paham betul mengingat dia memang dekat dengan Rumi dan Wandi.

"Kamu mau lanjut kerja lagi Wan?"

Kaivan dan Wandi sudah pulang ke rumah dan setelah makan malam tak seperti biasanya mereka berkumpul terlebih dahulu di ruang tengah, Wandi lebih memilih untuk masuk ke dalam kamar. Oleh karena itu Kaivan bertanya karena ini tak seperti biasanya.

Wandi hanya mengangguk sekilas di ambang pintu sebelum melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar.

Kaivan diam di ruang tengah. Beberapa kali dia membuka dan mengunci ponselnya yang menampakkan ruang obrolannya dengan Rumi. Tak ada percakapan di sana karena Rumi tak membalas pesannya.

Akhirnya Kaivan ikut menyusul masuk ke dalam kamar dan benar saja, Wandi tampak sedang serius di meja kerjanya.

"Masih banyak Wan?" Basa-basi Kaivan.

"Hm, kamu tidur duluan aja Kai" Jawab Wandi tanpa memalingkan wajahnya dari layar laptop.

Kaivan pura-pura memejamkan matanya, namun dia tidak tidur. Sampai lebih-kurang dua jam lamanya, Wandi akhirnya naik ke tempat tidur, bergabung bersama Kaivan.

Perlahan Kaivan membuka kedua matanya dan melihat Wandi tidur dengan membelakanginya. Ini bukan pertama kalinya Wandi tidur dengan posisi demikian, namun entah mengapa punggung itu tampak dingin sekarang.

"W-wan...?" Panggil Kaivan pelan dengan tangan kirinya yang bergerak mengusap pelan punggung Wandi.

Tidak ada jawaban selain helaan napas Wandi yang terdengar teratur.

Kaivan sempat menarik kembali tangannya sebelum dia perlahan mulai mendekat ke Wandi dan memeluk Wandi dari belakang.

Pelan tapi pasti terdengar suara isak tangis Kaivan. Wandi yang sebetulnya dari tadi belum tidur juga perlahan membuka kedua matanya. Perlahan diilihatnya tangan Kaivan yang melingkar memeluk dirinya.

Wandi hanya mendengar tangis Kaivan dalam diam, tanpa berniat untuk menghiburnya atau sekadar membalikkan badannya.

Jauh dari lubuk hatinya yang terdalam sebetulnya Wandi tidak tega, dalam hatinya saja dia sedang berperang dengan dirinya sendiri, namun dia dan Rumi sudah sepakat untuk melakukan ini karena sikap Kaivan sendiri, yaitu tertutup dan tidak pernah mau berbagi.

I'm Not GAY!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang