M | 13

11.5K 527 6
                                        

happy reading chiiders!

.
.
.
.













"Mama kenapa cepet banget ninggalin Neva? Padahal anaknya di sini masih butuh didikan Mama. Itu alasan Mama ikut pergi Ayah kerja beda kota, ya? Biar kalo sakit, Neva nggak tau, Neva nggak kepikiran, Neva nggak nangis liat kondisi Mama? Tapi nyatanya semua itu salah, Ma. Neva nangis nggak tau keadaan Mama, kabar Mama, penyakit yang di derita Mama. Neva ngerasa nggak becus jadi anak yang bertanggung jawab buat Mama. Maafin Neva ya, Ma. Kalo Neva ada salah sama Mama, makasih atas semua perjuangan amama buat Neva, makasih udah besarin Neva, ngurus Neva tanpa mengeluh dan banyak lagi...

...terimakasih Neva nggak sampai di sini, Ma, melihat kebaikan Mama selama ini, buat Neva nggak bisa nyebutin satu-satu. Intinya, Neva makasih banyak sama, Mama..."

"Selamat istirahat... Mama terhebatku..."

Pigura yang berisi foto keluarga kecil bahagia, Neva peluk dengan kencang. Di sebelah kanan ada sang Ayah yang merangkul pinggang mendiang sang amama dengan tangan yang memegang pundak Neva, hal itu juga di lakukan oleh mendiang Mama Neva, jadi Neva berada di tengah-tengah mereka berdua dengan senyum yang begitu manis.

Ruangan putih bersih dengan lampu yang berwarna senada, AC yang selalu hidup, jendela yang menampilkan indahnya dunia, ranjang yang masih belum bisa Neva sesuaikan, juga aroma lavender dan obat bercampur menjadi satu.

Neva kembali ke rumah sakit, di kamar yang sama dengan suasana yang sama juga. Bedanya, kini dia hanya sendirian. Ayahnya kembali ke rumah yang berbeda kota, meninggalkan Neva sendiri lagi di rumah ini.

Sedangkan Magma, pemuda itu tengah bersekolah dan belum bisa menghampiri dirinya di sini, aslinya bisa-bisa saja dengan cara membolos, tapi Neva menolaknya. Maka dari itu Neva sendiri.

Neva masih memeluk erat pigura sejuta kenangan itu dengan teriakan yang tercekat, dia ingin berteriak dengan kencang, dirinya ingin menangis dengan keras. Namun, Neva berada dalam rumah sakit.

"Janji Mama buat hadirin acara wisuda aku mana? Belum sampe wisuda, Mama udah pergi ninggalin aku sama, Ayah."

Neva terdiam, memori tentang dirinya sewaktu kecil dengan mendiang mama dengan ayah terputar di benaknya. Tatapannya kosong menetapkan tembok putih di depan, tangannya diam tidak berkutik dan nafasnya menjadi sangat pelan.

..

"AHAHAHA, MAMA GELI, HAHA, AYAH TOLONGIN EV!" Neva kecil di hukum karena tidak mau makan dengan alasan diet, padahal masih kecil.

Kepala keluarga yang di panggil Ayah hanya diam menatap kedua malaikatnya yang tengah bercanda dengan riang. Ponsel judul miliknya langsung di hidupkan, memencet tombol untuk merekam keduanya.

"Mamahh cukup, hah.. Ev nggak kuat, hah, hah.... " Neva merangkak ke arah ayahnya yang duduk di kursi tunggal. Tangannya merentang meminta gendong.

Pria jangkung itu tentu saja membalas rentangan tangan Neva, di angkatnya Neva ke dalam gendongan lalu di putar-putar.

Neva kembali tertawa dengan terbahak-bahak dengan perlakuan ayahnya. Mama cantiknya duduk dengan anggun lesehan di bawah, mata indahnya itu menatap kedua dunianya yang kini bergantian bermain bersama, senyum manis terbit di wajah wanita itu.

"MAMA! EV TERBANG SAMA, AYAH! SEKARANG MAMA LIAT EV TERBANG DULU, YA! BESOK KALO UDAH BESAR, GANTIAN EV YANG BAWA MAMA TERBANG KELILING DUNIA PAKE PESAWAT YANG UDAH EV BELI!" Neva berteriak kala ayahnya menengkurapkan badannya dengan sanggahan kedua tangannya.

𝐌𝐀𝐆𝐌𝐀 [𝐁𝐋 𝐋𝐎𝐊𝐀𝐋] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang