M | 01. START

51.3K 1.5K 57
                                        

Haii tekan vote dan komen all!! My first story! mohon kerjasamanya! jangan lupa follow juga akun Chii!

Call me Chii okei!? Not Author! (•ˋ _ ˊ•)

Happy reading!






..

Motor besar berjejer dengan rapi di depan sebuah warung, atau kita sebut saja dengan warung catur. Warung yang biasa digunakan oleh anak-anak murid membolos di hari-hari tertentu, bahkan ada jadwal terselip di etalase kecil di atas meja tempat rokok tersusun.

"Bah! Es teh lima!" pemuda berambut sedikit kecoklatan dengan model rambut undercut, mengangkat tangannya untuk memesan kepada Abah yang duduk di teras toko.

Mereka berada di depan teras dengan duduk di kursi kayu, dan meja kayu khas warung jaman dulu, namun kayu kini telah di perbarui yang semula sedikit tidak kokoh kini sudah menjadi kokoh hingga dibanting di atas kasur sekalipun tidak akan pecah atau patah.

Abah Rahman, pemilik warung catur yang sudah berdiri beberapa puluh tahun, yang dulunya tempat untuk menongkrong bapak-bapak ketika tidak ada kerjaan, dan yang sedang ronda kini di tempati oleh para pemuda yang bersekolah tidak jauh dari warung catur miliknya. Tetapi bapak-bapak itu juga masih sering kesini, namun, tak sesering dahulu. Abah Rahman juga kerap di panggil dengan sebutan Abah Man.

"Siap!" Abah berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke tempat di mana es teh di buat.

Seiring dengan Abah membuat es teh untuk mereka. Mereka berbincang ria dengan khas bincangan anak muda. Juga memakan gorengan buatan mbak Dewi, anak semata wayang Abah Man, mereka hanya hidup berdua karena sang istri yang sudah meninggal.

"Ntar malem ada balapan, taruhannya uang dua juta setiap orang, yang ngikut adalah kayanya lima orang. Mayan, tuh, dua kali lima." ucap kembali pemuda berambut kecoklatan. Putra, namanya.

"Wih! Hajar, Mag!" alis tebal dengan rokok yang di himpit diantara jarinya itu menyenggol teman yang ada di sampingnya.

Mag, atau Magma Raynald Sebastian. Pemuda bertinggi 182 cm dengan umur yang menginjak diangka 17 tahun beberapa bulan lalu, bermata abu-abu dengan tatapan yang selalu tajam, rahang yang tegas, alis sedikit tebal, dan juga bibir tipis.

"Kapan?" pertanyaan dingin keluar dari mulut Magma.

"Ntar malem anjir!" dengus Putra sedikit sebal. Apakah Magma tidak mendengarkan dirinya kembali berbicara setelah memesan es teh tadi.

"Oke." singkat padat, dan... Oke. Semua teman Magma mengangguk mendengar jawaban Magma.

Tidak mungkin juga seorang Magma tidak menerima balapan itu.

Sekarang adalah hari senin, dimana semua murid berbaris di lapangan untuk melaksanakan upacara bendera. Upacara di lakukan setiap dua minggu sekali, jadi sedikit lumayan, tidak setiap minggu. Magma bersekolah di SMA GARUDA, begitupun dengan keempat teman-temanya.

"Monggo." Abah memberikan es teh yang telah jadi itu kepada mereka.

Abah adalah orang Jawa, tapi mereka kerap memanggil dengan sebutan Abah, kata Abah juga tak masalah asalkan yang memanggil nyaman, begitupun dengan diri Abah sendiri.

"Anjir, cok! Kita di cariin sama, Bu Helga!" pemuda yang sedari tadi berdiam diri bermain ponsel membuka segala aplikasi juga game, berteriak dengan mengebrak meja yang ada di depannya.

"Paan si, Jep! Untung es gue kagak tumpah, sayang woi tiga ribu gue!" sentak Putra.

"Devan chat, kita di cariin sama Bu Helga katanya, oh, iya! Sekarang jadwalnya presentasi kelompok! Bajindul gue lupa!" Jep, atau Jepan. Terkejut hingga berdiri, serta memegangi kepala.

𝐌𝐀𝐆𝐌𝐀 [𝐁𝐋 𝐋𝐎𝐊𝐀𝐋] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang