M | 29

5.8K 271 9
                                        

Happy reading!

.
.
.
.
















Sudah dua hari Neva tertidur di ranjang rumah sakit. Dokter dan suster yang ada di sini menggelengkan kepalanya heran. Neva bukannya menjadi langganan sebuah kafe atau restoran malah menjadi langganan masuk - keluar rumah sakit.

Bahkan dokter Neva tetap pada dokter manis yang selalu menangani Neva sejak pertama kali Neva masuk ke dalam rumah sakit. Seperti, Neva mengklaim dokter tersebut menjadi dokter yang selalu melayani dirinya, mengecek dirinya dan menyembuhkan dirinya.

Magma dengan setia menggenggam tangan Neva yang terbebas dari infus. Tangan yang beberapa hari lalu di balut dengan perban karena sebuah sayatan tepat pada nadi. Kini sudah di lepaskan.

Magma sebenernya menaruh rasa curiga kepada Neva. Dirinya ingin tau bagaimana bisa Neva memberhentikan darah yang terus mengalir dari nadinya sampai pada pagi hari baru terasa. Efek samping yang di terima Neva adalah tubuh yang begitu panas.

" Kamu kapan buka matanya? Aku udah kangen kamu.. Mau peluk kamu, mau cium kamu. Neva, ayah kamu udah masuk ke dalam rumah aslinya, Penjara. Jangan lagi kamu cari Arjuna pas udah bangun ya? Ayah kayak Arjuna nggak pantes di panggil 'ayah'. " Magma selalu mencoba untuk mengajak Neva mengobrol, walaupun tidak ada balasan apapun dari Neva.

Magma mengecup punggung tangan itu dengan air mata yang terus menetes. Entah mengapa, dia merasakan sakit yang begitu teramat sakit melihat Neva lagi-lagi terbaring lemah di rumah sakit. Sakitnya melebihi sakit di katai oleh kedua orang tuanya sendiri. Jika hanya sebuah ucapan yang merendahkan dirinya Magma tidak terlalu menggubris tapi entah kenapa melihat Neva terbaring lemah membuat dirinya ikut melemah.

Tanpa Magma sadari, mata cantik Neva yang terpejam mengeluarkan sebuah air mata. Entah apa yang Neva impikan, sampai bisa menangis dalam koma nya.

" Magma.. Magma.. " Dua kata yang membuat Magma mengalihkan atensinya. Mata Magma yang terpejam langsung terbuka kala mendengar suara Neva yang memanggil dirinya.

" Neva.. Sayang. Ini aku, Magma di sini.. "

Tangan Neva tidak berhenti Magma kecup. Perlahan mata itu terbuka, Neva -nya telah sadar dalam koma nya.

" Ayah.. Ayah.. Bunuh, Neva. Ayah bunuh Neva.. " Seakan kaku. Badan Neva tidak bergerak sama sekali, hanya menggeliat kecil untuk menyalurkan gerakannya.

Tangan Neva yang semula lemas kini ikut kaku, seluruh badannya tidak bisa digerakkan. Hanya mata dan raut wajahnya yang menjelaskan.

" Ayah bunuh, Neva.. Neva.. Neva nggak salah. Ayah.. Ayah.. "

Neva terus meramalkan kata 'ayah' di setiap ucapannya yang belum terlampau jelas. Hanya dengan kata itu Magma marah, dia tidak mau Neva kembali menyebutkan 'bajingan tua' itu dengan sebutan yang layak.

" Sayang, kamu bisa denger aku? " Neva menoleh, kepalanya bergerak dengan perlahan.

" Ayah.. Ayah bunuh aku, Magma.. Ayah bunuh.. "

" Arjuna nggak bunuh, Neva. Neva masih ada di sini. Neva nggak di bunuh.. " Magma kembali meneteskan air matanya. Melihat Neva seperti itu sangatlah sakit. Dia tidak mau melihat Neva dengan keadaan seperti ini, wajahnya nampak ketakutan. Matanya bergerak gusar, badannya kaku — tidak bisa di gerakan, bahkan mulutnya selalu meramalkan kata yang sama.

" Magma.. Hiks.. " Neva sakit, Neva sakit dengan keadaan yang seperti ini. Neva tidak mau seperti ini.

Magma memeluk tubuh Neva dengan perlahan. Bohong jikalau Magma tidak menangis dengan kencang, Magma hanya menahan untuk Neva supaya tidak ikut serta untuk menangis dengan kencang.

𝐌𝐀𝐆𝐌𝐀 [𝐁𝐋 𝐋𝐎𝐊𝐀𝐋] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang