M | 02

22.5K 1K 7
                                        

haii haii! jangan lupa tekan vote dan komen all!! My first story!
mohon kerjasamanya!
jangan lupa follow juga akun Chii!

Happy Reading!








.

Rumah yang tidak terlalu mewah namun nyaman untuk di tempati, seorang pemuda manis tengah duduk di tengah-tengah sofa, memandang kakinya yang di balut perban putih, sudah sedari kemarin malam.

Setelah insiden di mana dirinya di serempet oleh seorang pemuda bermotor besar, niatnya hanya ingin menyebrang jalan. Matanya juga sudah melihat ke kanan dan ke kiri, juga dirinya melihat bahwa jalan itu kosong tak ada pengendara yang lewat.

Belum ada lima langkah dirinya berjalan, dari arah kanan lampu putih menyoroti dirinya, tubuhnya seakan kaku, dan tidak bisa di gerakan.

Pengendara bermotor yang menjelaskan bahwa dirinya sedang mengejar waktu, dan banyaknya masalah yang datang pada dirinya pada malam hari itu.

"Untungnya dia mau tanggung jawab, kalo enggak udah mati nangis aku di sana." monolognya sendiri, dengan mata yang menatap ke arah perban putih.

"Kaget juga tiba-tiba ada motor, padahal waktu aku liat jalan sepi nggak ada apa-apa. Gapapa, lah, mungkin belum bukan hari keberuntungan aku." sambungnya, tersenyum kecil.

Tok.. Tok.. Tok....

Dengan segera pemuda itu berdiri, berjalan dengan sedikit tertatih, karena luka tepat pada lututnya, membuat rasa kaku menjalar di area kakinya.

"Sebentar!" teriaknya dari dalam.

Pintu terbuka. Menampilkan pemuda yang setara dengan dirinya, memakai celana sebatas paha, dan kemeja longgar dengan corak abstrak. Tidak lupa juga buah tangan yang di bawanya, dia Darel. Teman seperjuangan dari pemuda itu.

"Neva sorry! Aku baru bisa jenguk kamu..." Darel membuat wajah sedih, dirinya merasa bersalah karna baru bisa menjenguk temannya itu.

Kata Aku-Kamu sendiri sudah tidak asing lagi di telinga mereka. Memang mereka anak muda, tapi mereka akan merasa lebih dekat, dan merasa lebih asik ketiga menggunakan Aku-Kamu.

"Gapapa tau! Kan, kemarin malem kamu juga udah nolong aku, jadi udah liat aku juga dong." balasannya dengan senyuman yang begitu manis.

"Ih! Beda tau! Kan, awal kemarin aku cuma nganter kamu ke RS, sama pulang kerumah! Belum jenguk!"  bantahnya, kepala itu ikut menggeleng membantah.

"Haha, iya, iyaaa, yaudah ayo masuk dulu, dingin di luar." ajak pemuda itu kepada temannya untuk masuk ke dalam. Memutuskan untuk melanjutkan obrolan mereka di dalam, di tempat yang lebih hangat, dan lebih nyaman.

.

"Cowok yang nolongin kamu kabarnya gimana?" Darel bertanya dengan tangan yang tidak berhenti bergerak mengupaskan apel untuk Neva.

Nevarro Keenan Argadana, pemuda bertinggi 168 cm dan berumur 17 tahun. Berkulit putih, pipi yang tembam, mata hazel yang selalu menghilang ketika tersenyum. Bibirnya berwarna merah ceri, menambah kesan manis sedikit cantik di wajahnya, jangan lupakan bulu matanya yang lentik.

"Kok, tanya aku? Kan, aku nggak tau, lagian kemarin cuma sebatas nolong aja." 

"Iya juga, sih, tapi kamu nggak di tinggali semacam tanda pengenal orangnya, mungkin? Atau nomor buat hubungin, pas, kamu mau kontrol?" Darel dengan lembut meletakkan potongan apel itu pada piring yang ada di atas meja. Neva yang merasa kosong, mengambil satu potong, lalu kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya.

𝐌𝐀𝐆𝐌𝐀 [𝐁𝐋 𝐋𝐎𝐊𝐀𝐋] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang