M | 15

9.8K 466 7
                                        

happy reading chiiders!

.
.
.
.




















Magma di pagi hari sudah bersiap dengan seragam sekolahnya. Dia akan menjemput Neva pagi hari ini, dan juga akan meminta maaf tentang apa yang dia perbuat walaupun Magma tidak tahu letak salahnya di mana.

Setelah semuanya siap, Magma mengambil motornya yang ada di garasi. Menjalankan dengan perlahan meninggalkan pekarangan rumahnya yang luas itu.

Tentang Ayah dan Papa nya, mereka sudah tidak lagi berkunjung ke rumahnya. Mungkin menuruti apa yang Magma katakan mengenai lepas tanggung jawabnya kepada Magma, tapi Magma juga tidak tahu pasti tentang itu. Dia bersyukur mereka tidak berkunjung lagi, bukannya berkumpul untuk membangun keluarga malah berkumpul membangun permusuhan.

Beberapa menit berjalan menggunakan motornya Magma sampai pada rumah Neva. Rumah minimalis yang terlihat begitu asri dan hidup, tidak seperti rumahnya.

"Neva.. Gue Magma!" Magma menunggu Neva di depan pintu tepat, supaya nanti ketika Neva membukakan pintu Magma bisa langsung memeluknya.

"Neva! Ayo berangkat sekolah! Gue--"

"Mau nyamper Dek Neva, ya, Mas?" ucapan seorang wanita paruh baya membuat Magma mengalihkan pandangannya.

"Iya Bu, emangnya Neva kemana, ya, Bu?"

"Oh, Dek Neva udah berangkat tadi sama temannya yang biasanya main kerumah. Kalo Mas nya mau nyamper Dek Neva, udah berangkat duluan dianya." tampak wanita paruh baya itu selesai berbelanja barang kebutuhan untuk memasak.

Magma mendecak, kenapa jadi seperti ini. Pikirnya.

"Yaudah, Bu. Kalo begitu saya pamit."

"Iya, Mas."

Magma mengangguk, kembali Magma menggunakan helm dan kembali menjalankan motornya meninggalkan pekarangan rumah Neva.

Sepanjang jalan Magma berfikir tentang apa salahnya sampai-sampai Neva berlagak seperti menjauhi dirinya seperti ini, apakah salahnya terlalu melewati batas? Tapi tentang salah apa, Magma tidak tahu jika tidak diberi tahu oleh sang empu nya sendiri mengenai masalahnya.

Rumitnya berpikir sampai-sampai tidak sadar bahwa dirinya sudah di depan gerbang sekolah. Kembali suara motornya membuat dirinya menjadi pusat perhatian. Tiga pemuda yang memang sudah menunggu kedatangan Magma segera menghampiri pemuda jangkung itu.

Dengan tangan yang membawa sebuah bekal dirinya percaya diri bahwa nanti makanannya akan di ambil oleh Magma dan di makan olehnya.

Belum sampai melepaskan helm, tiga pemuda itu sudah ada di samping Magma.

"Pagi, Magma." pemuda manis dengan kulit putih menyapa Magma. Yang di sapa hanya melirik kemudian acuh.

Tidak ingin menyerah, tangannya memegang tangan Magma yang ada di spion motor karena selepas meletakkan helm.

"Magma, aku ada bekal buat kamu, jangan lupa di makan, ya!" Bekal biru tadi pemuda itu sodorkan pada Magma yang menatap dirinya dengan tatapan tidak dingin.

Karena tidak mau membuat keadaan semakin kacau, Magma mengambil bekal tersebut. Mengangguk setelah itu turun dari motor dan berjalan menuju kedalam kelas.

Pemuda itu memekik bahagia kala bekalnya tidak lagi di tolak oleh Magma, perjuangannya selama ini tidaklah sia-sia, berarti Magma sudah menyukai dirinya.

"Nggak sia-sia, akhirnya dia luluh juga. Tinggal ngusir hama setelah itu selesai!" bibirnya menyeringai bak psikopat gila.

Mereka meninggalkan parkiran dengan senyuman yang amat puas dan penuh kemenangan. Padahal tidak melakukan apa-apa. Hanya memberikan bekal saja mereka semuanya juga bisa.

𝐌𝐀𝐆𝐌𝐀 [𝐁𝐋 𝐋𝐎𝐊𝐀𝐋] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang