Happy reading.
.
.
.
.
Malam hari sesuai janji. Magma ikut setelah mengundang Darel dan Cecil — kekasih Ken yang kebetulan ingin menjenguk Neva.
Neva sudah tidak sabar mengapa dirinya akan di ajak ke taman rumah sakit. Bibirnya tidak berhenti mengulas senyum manis, tangannya saling meremas karena rasa penasaran.
Magma belum juga datang untuk menjemput Neva, hal itu juga membuat Neva sedikit takut. " Kok aku takut.. Semoga nggak ada apa-apa deh, perasaan aku nggak enak duluan. "
Neva mengambil air putih dan kemudian meneguk nya dengan perlahan. Tubuhnya, beruntung sudah lumayan, tepat pada saat Magma menunggu dirinya sejak siang menjelang sampai pada sore menjelang malam hari.
Jam terus bertambah, Neva semakin gelisah karena Magma tak kunjung datang. " Ih! Mana sih! Jangan buat khawatir dong.. " Matanya berkaca-kaca. Jujur Neva sangat khawatir sekarang.
Klekk..
Pintu kamar di buka. Neva terkejut kecil. Bukan Magma melainkan Darel dan Cecil yang menghampiri dirinya. Kepalanya kini penuh akan tanda tanya.
" Hai Neva! " Kedua pemuda manis itu menyapa secara bersamaan. Mereka melambaikan tangan ke arah Neva.
Neva hanya bisa mematung tak menjawab, adakah terjadi sesuatu pada Magma?.
" Magma? Kemana? "
Darel dan Cecil saling bertukar pandang. Mereka sedikit gugup untuk menjawab karena tiba-tiba di suruh masuk ke dalam ruangan Neva dan menjemput Neva. Mereka juga tidak sempat untuk memikirkan sebuah skenario percakapan untuk mereka utarakan.
" Ada di bawah. Sekarang kita mau jemput kamu, yang nyuruh Magma. " Ucap Darel.
" Tapi Magma nggak kenapa-kenapa 'kan? Dia baik-baik aja 'kan?! " Darel mengangguk. Cecil hanya menatap dengan sendu ke arah keduanya.
" Magma oke, jadi ayo ke bawah sekarang. Kita temui Magma. "
Cecil dengan sigap langsung mengambil kursi roda yang tersedia di dalam kamar. Darel membantu Neva untuk turun dan memindahkan tempat infusnya. Perlahan Neva melangkahkan kakinya untuk berpindah dari ranjang.
Sudah sedikit kuat, yang artinya Neva akan segera sembuh. Keluar dari ruangan Neva merasakan bahagia sekali, raut wajahnya tersenyum senang karena dirinya sudah keluar dari kamar. Tapi detik berikutnya raut wajah Neva kembali sendu, memikirkan keadaan Magma yang ada di bawah.
Beberapa menit melewati lorong. Mereka bertiga sampai di taman rumah sakit. Neva dapat melihat cahaya lampu terang berwarna oranye. Dengan empat balon yang sudah di berikan sebuah batu agar tidak terbang ke atas.
" Magma mana? " Neva sudah di dudukan pada kursi besi itu. Kedua temannya pamit untuk undur diri dari hadapan Neva.
Magma dari belakang Neva terus tersenyum. Kedua tangannya membawa sebuah kue yang sudah di berikan lilin hidup. Tidak spesial namun sangat berarti.
Neva yang tidak tahu harus melakukan apa, mengambil boneka yang ada di bawah dan memeluknya. Ukurannya hampir setengah dari dirinya, jadi lumayan besar.
" Suprise.. " Badan Neva tersentak. Suaranya terlampau sangat halus. Tidak ada suara seru dan keras.
Neva mematung. Dia berdiam di tempatnya tidak berkutik, bahkan hanya sekedar berkedip dan bernafas, terhenti. Neva memaksa diri untuk berdiri menyambut kedatangan Magma dengan sebuah pelukan. Bonekanya di letakkan, tubuhnya berdiri, lalu merentangkan tangan lebar-lebar.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐌𝐀𝐆𝐌𝐀 [𝐁𝐋 𝐋𝐎𝐊𝐀𝐋] ✓
Fiksi Remaja𝗗𝗜 𝗟𝗔𝗥𝗔𝗡𝗚 𝗞𝗘𝗥𝗔𝗦 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗠𝗘𝗡𝗝𝗜𝗣𝗟𝗔𝗞 [𝗣𝗟𝗔𝗚𝗜𝗔𝗥𝗜𝗦𝗘] 𝗖𝗘𝗥𝗜𝗧𝗔 𝗜𝗡𝗜. 𝐆𝐄𝐍 𝐀𝐌𝐎𝐑𝐃𝐀 - Magma Raynald Sebastian, laki-laki yang terkenal karena sifat nakal dan most wanted di sekolahannya. Sifatnya terlampau nak...
![𝐌𝐀𝐆𝐌𝐀 [𝐁𝐋 𝐋𝐎𝐊𝐀𝐋] ✓](https://img.wattpad.com/cover/376073236-64-k515381.jpg)