M | 18

9.2K 471 10
                                        

happy reading chiiders!

.
.
.
.











Suasana terasa amat sangat tegang dan panas. Mereka, yang ada di dalam ruangan kepala sekolah terdiam, saling menatap satu sama lain dan tidak ingin memulai untuk membuka suara.

"Jadi bagaimana bapak?" Kepala sekolah melontarkan sebuah pertanyaan pada pria jangkung yang memakai jas kantor.

"Keputusan ada di anak saya. Neva, kamu gimana?"

"Neva bingung, yah. Neva nggak bisa jawab. Semuanya berat buat Neva utarain" Jelasnya, tangannya di genggam dengan erat oleh ayahnya.

Ayahnya tahu perasaan Neva seperti apa. Jika tidak memaafkan nanti di kata jahat, jika di maafkan dengan waktu yang singkat kelakuannya terlalu di luar batas.

"Jadi Neva bagaimana? Jika kamu tidak membuka suara saya tidak tau, semuanya tidak tau. Atau jika tidak berani mengungkapkan nanti kita bicara empat mata, konsekuensi akan bapak berikan. Bagaimana?" Ucap bapak kepala sekolah.

"Neva, ikut dengan bapak aja mau bagaimana, bagi Neva berat banget buat jelasin satu-satu. Jangan kata Neva cari muka! Emang berat buat di omongin!" Mata Neva memerah, air matanya sudah berkumpul di pelupuk matanya.

"Yaudah ji—"

"Tolong kasih dia hukuman seberat-beratnya! Kalo bisa laporin ke polisi atas tindakan bullying di sekolahan!" Magma datang seorang diri ke dalam ruangan kepala sekolah. Padahal sekarang waktu menunjukan pukul 08.00 yang artinya kelas sudah masuk tapi Magma, menghampiri Neva yang ada di ruangan kepala sekolah.

"KAMU SIAPA HAH?! DATENG-DATENG NGGAK SOPAN KAYAK GITU!" Wanita paruh baya dengan memakai dress berwarna merah maroon berdiri. Menghadap ke arah Magma dan mengacungkan jari telunjuknya tepat pada depan wajah Magma.

"Saya pacar, Neva! Kenapa? Nyonya keberatan? Apa yang udah di lakuin sama anak nyonya itu sudah termasuk dalam bullying fisik! Memecahkan mangkok langsung di atas kepala Neva sampai harus masuk rumah sakit dan di jahit! Bagaimana jika anak itu adalah anak nyonya? Pasti nggak terima 'kan? Sama! Sama kayak apa yang di rasain sama ayahnya Neva! Bukan begitu om?"

Magma menyeringai, ayah Neva hanya tersenyum melihat kekasih anaknya yang sangat berani menentang hal salah seperti ini. Dari yang ayah Neva lihat juga Magma sepertinya murid yang di kenal nakal karena berani masuk ke dalam ruangan kepala sekolah bertepatan dengan jam belajar. Tapi tak apa, ayah Neva tidak mempermasalahkan siapa yang menjalin hubungan dengan Neva, yang terpenting Neva bahagia. Itu kunci pertamanya.

"Betul, saya setuju dengan apa yang di ucapkan oleh Magma. Berikan hukuman yang masuk akal.

—peringatan untuk anda. Dan anak anda, jangan lagi menganggu anak saya jikalau hal ini tidak ingin berlanjut sampai pada hukum." Suaranya lantang dan tegas. Neva tidak jadi menangis melihat ayahnya yang mulai berani menjawab pertanyaan ini. Tidak harus menurut dengan dirinya lagi.

Luan hanya berdiam diri sejak tadi masuk ke dalam ke ruangan kepala sekolah sampai saat ini mereka sedang berdebat untuk memberikan dirinya hukuman yang berat ataupun ringan atau malah masuk kedalam jalur hukum.

"Baiklah jikalau begitu. Luan, kamu bapak skors selama satu bulan. Jika sudah nanti kamu datang kembali ke ruangan kepala sekolah dan meminta maaf kepada Neva, mengucapkan kata maaf secara langsung dan di saksikan oleh semuanya yang ada di sini."

Luan mengangguk pasrah, tangannya mengepal dengan kencan untuk menyalurkan rasa sakit hati dan emosi yang meluap-luap di tubuhnya. Luan menahan tangisnya. Sungguh, dia menyesal telah melakukan hal yang sangat keterlaluan seperti ini.

𝐌𝐀𝐆𝐌𝐀 [𝐁𝐋 𝐋𝐎𝐊𝐀𝐋] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang