bonus chapter | 02

6.4K 254 26
                                        

" Hati-hati, sayang.. "

Langkah anak kecil itu memelan. Mereka baru saja menginjakkan kaki mereka pada tanah yang di tambah dengan sedikit rerumputan.

" Kita mau kemana sih, Buna?! " Mulutnya mengerucut sebal, sedari tadi tidak sampai-sampai pada tempat tujuan mereka.

" Bentar lagi sampai.. Sebentar ya. "

Beberapa langkah membawa mereka pada sebuah kuburan seseorang. Sesampainya di sana, mereka berjongkok, menatap nisan yang bertuliskan nama sang mendiang.

" Hai, aku balik lagi. Magma, kenalin.. Dia anak aku, namanya Jamie Riley Aiden. Panggilannya Jamie, anak manis yang mirip sama aku. "

" Maaf, aku nggak bisa janji, kalo aku, harus selamanya sendiri. Sekarang hidup aku di temani sama Jamie.

Jamie. Sapa, ayah. "

Jamie, anak kecil itu menatap sang Buna. Setelah mendapat sebuah anggukan, tangannya terangkat. Melambai kecil, " Hallo, ayah! Aku Jamie! "

Neva tersenyum. Dengan mudah Jamie memberikan sapaan kepada Magma, tanpa bertanya siapa yang ada di dalam sana.

" Ayah kenapa tidur, Buna? Ayah nggak mau ketemu sama Jamie ya? Padahal Jamie nggak nakal loh! Ayah, ayo bangun! "

Beberapa tahun lamanya Neva hidup di London dan tidak kembali pada negara lahirnya. Tapi di kesempatan kali ini Neva gunakan untuk kembali, bertemu dengan sang kekasih yang sudah meninggalkannya tanpa ada kata selamat tinggal untuknya. Melainkan hanya dengan sebuah kata 'Maaf'.

Neva mengelus nisan yang bertuliskan nama Magma. Semuanya tampak bersih, tidak ada noda kotor sama sekali. Anak-anak, selalu merawat Magma di saat dirinya tidak ada.

Neva sendiri tidak tahu bagaimana mana kabar mereka, lama mereka semuanya lost contact dengan Neva. Membuat hubungan mereka putus dengan begitu saja, Neva sudah tidak mendengar, melihat kabar maupun wajah Darel. Karena sepertinya pemuda itu sudah mengganti semuanya.

" Anak-anak rawat kamu dengan baik, maaf aku baru bisa balik sekarang. Jamie pas mau aku ajak pulang, masih terlalu kecil buat naik pesawat, alhasil aku undur sampai Jamie umur 4 tahun. "

Neva melanjutkan berbincang dengan Magma sejenak. Jamie, tidak banyak bicara. Dia diam menemani sang Buna yang sepertinya sangat rindu dengan sang ayah.

...

" Ini rumah siapa, Buna? Kenapa kita di sini?! "

Rumah yang memiliki banyak sekali kenangan, mulai dari pahit, manis, asam, asin. Semuanya menjadi satu pada rumah yang ada di hadapan Neva dan Jamie.

" Ini rumah Buna, rumah ayah. Dan juga rumah Jamie. Kita bakalan di sini selamanya, ninggalin semua yang ada si sana. Mulai sekarang, rumah Jamie ada di sini.. " Jamie hanya mengangguk saja, sedikit tahun dengan omongan sang Buna.

Intinya, Jamie sekarang di sini dan berumah di sini.

Jamie dan Neva kembali melangkah. Neva mengambil kunci yang dia letakkan tepat di bawah pot, puluhan tahun sampai pot yang dulunya segar kini sudah mati. Kunci miliknya juga masih ada di bawah pot, tersimpan dengan rapi.

Kunci di tiup oleh Neva terlebih dahulu, sebelum memasukkan ke dalam lubang kunci yang ada di pintu rumahnya.

Neva tidak menyangka jika rumah dan isinya masih tersusun, tersimpan, dan terjaga dengan rapi serta aman. Semuanya masih nampak seperti dahulu, bahkan dengan pot bunga kecil yang ada di samping jendela.

" Ayo bersih-bersih! Jamie bantuin! " Jamie dengan semangat ingin membantu Neva untuk membersihkan rumah yang akan mereka huni.

Jamie dengan kemoceng di tangannya, dan Neva dengan sapunya.

𝐌𝐀𝐆𝐌𝐀 [𝐁𝐋 𝐋𝐎𝐊𝐀𝐋] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang