happy reading chiiders!
.
.
.
.
Sudah dua hari Neva tidak ada kabar. Magma bingung harus melakukan hal apa untuk bertemu dengan Neva, sudah tatap mata satu sama lain tapi Neva pergi dengan begitu saja, sudah Magma cekal tangannya tetap sama saja. Neva ada cara untuk pergi dari hadapan Magma.
Magma sudah tahu masalah kenapa Neva menjauhi dirinya seperti ini, Magma lebih terkejut yang melakukan hal sampai Neva masuk ke rumah sakit adalah Luan. Pemuda yang sangat obsesi dengan Magma.
Semuanya sudah Magma ketahui dari seseorang yang menjadi saksi atas kejadian ini. CCTV sudah Magma ambil untuk bukti nanti, rencana akan melaporkan Luan kepada kepala sekolah sudah ada tinggal korbannya yang belum ada.
Hari-hari Magma hanya di isi dengan mengunjungi rumah Neva. Walaupun sudah tahu akan bagaimana ujungnya tapi Magma tidak menyerah.
Sama hal nya seperti sekarang. Pagi sekali di hari minggu, weekend. Neva dengan baju santainya tengah menyirami tanaman depan rumahnya. Alasan Neva melakukan hal itu karena bosan tidak ada kerjaan.
Magma mengamati Neva dari jauh, tidak berani mendekat atau nanti pemuda itu akan pergi. Jika tidak mendekat Magma tidak akan mendapatkan maaf dari Neva. Memang bukan salahnya tapi jika yang membuat Neva seperti ini adalah dirinya, dia akan meminta maaf.
Magma turun dari motor besarnya, berjalan perlahan menuju ke Neva yang sedang menyirami tanaman. Senyum Neva begitu menawan, manis dan cantik.
"Neva." Panggil Magma begitu ada tepat di belakang Neva.
Neva menoleh, matanya membalak kala Magma ada di belakangnya. Dengan cepat Neva melemparkan selang dan berlari masuk ke dalam. Magma yang tersadar langsung mengikuti Neva yang akan masuk ke dalam rumah.
"Neva, denger gue dulu!"
Magma mendecak, Neva sudah masuk terlebih dahulu dan dirinya tertinggal di belakang. Jadilah sekarang Magma dan Neva hanya terhalang oleh pintu. Tapi tetap Magma tidak bisa masuk ke dalam.
"Neva, dengar gue dulu! Buka pintunya!"
Neva yang ada di balik pintu hanya mampu merendam tangisnya, sebisa mungkin dirinya tidak menangis dengan keras sekarang.
"Neva.."
"Pergi, Mag! Aku nggak mau ketemu sama kamu! Aku nggak pantes buat kamu! Aku nggak seberapa sama kamu! Hiks...."
"Neva! Nggak kayak gitu! Nggak ada yang bilang kayak gitu! Lo pantes buat gue, sayang!" Magma kembali berteriak di balik pintu.
Badan Neva meluruh ke bawah, bersandar pada pintu, memeluk kakinya sendiri, menangis dalam diam.
Magma yang ada di luar berusaha untuk membuka pintu, menggedor-gedor supaya Neva mau membukakan pintu untuk dirinya. Magma sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa selain seperti ini, dirinya cukup tersiksa jikalau harus seperti ini setiap hari.
"Neva, buka pintunya.. Denger penjelasan gue dulu.." Suara Magna terdengar lemah. Neva semakin tidak bisa menahan tangisnya mendengar suara Magma yang begitu lemah.
Neva tidak mau lagi melihat Magma seperti ini, cukup kemarin saja dirinya melihat Magma benar-benar hancur di depan matanya.
"Semuanya nggak sama apa yang lo pikirin.. Dia licik, Va. Gue cuma buat lo dan lo cuma buat gue. Nggak bakal ada orang lain di antara kita berdua nanti.. Gue janji gue nggak bakal berpaling dari lo.. Va, buka pintunya.."
Neva semakin menangis dalam diam mendengarkan suara Magma semakin melemah seperti tidak ada kehidupan sama sekali.
Klekk..
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐌𝐀𝐆𝐌𝐀 [𝐁𝐋 𝐋𝐎𝐊𝐀𝐋] ✓
Teen Fiction𝗗𝗜 𝗟𝗔𝗥𝗔𝗡𝗚 𝗞𝗘𝗥𝗔𝗦 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗠𝗘𝗡𝗝𝗜𝗣𝗟𝗔𝗞 [𝗣𝗟𝗔𝗚𝗜𝗔𝗥𝗜𝗦𝗘] 𝗖𝗘𝗥𝗜𝗧𝗔 𝗜𝗡𝗜. 𝐆𝐄𝐍 𝐀𝐌𝐎𝐑𝐃𝐀 - Magma Raynald Sebastian, laki-laki yang terkenal karena sifat nakal dan most wanted di sekolahannya. Sifatnya terlampau nak...
![𝐌𝐀𝐆𝐌𝐀 [𝐁𝐋 𝐋𝐎𝐊𝐀𝐋] ✓](https://img.wattpad.com/cover/376073236-64-k515381.jpg)