Happy reading!
.
.
.
.
" Iya! Hati-hati ya! Jangan ngebut! " Neva mengantarkan Magma ke depan rumah. Pemuda tampan itu sudah mengenakan helm nya dan menghidupkan motornya, yang artinya siap untuk berlalu dari rumah Neva.
Neva berteriak, memberikan ucapan selamat tinggal untuk Magma dengan sebuah lambaian tangan yang begitu lucu.
Magma hanya membalas dengan sebuah anggukan juga lambaian tangan singkat. Neva tersenyum kala Magma mulai menjauh dari rumahnya. Tak ayal Neva membatin meminta Magma selamat sampai tujuan.
Neva benar-benar tidak mau jika harus melihat Magma masuk rumah sakit seperti beberapa waktu lalu sebelum mereka resmi pacaran.
Neva menutup pintu, kemudian duduk di sofa dan melanjutkan tontonan televisinya. Tangannya juga sesekali mengambil camilan yang ada di atas meja. Bersantai seraya menunggu ayahnya pulang dari reuni teman-temannya.
Arjuna berpamitan tepat pukul enam malam bahasa dirinya akan melaksanakan reuni dengan teman SMA nya dulu. Di tempat milik salah satu teman reuninya.
Jika biasanya malam hari Neva akan bersantai dengan Arjuna, maka kali ini tidak. Neva mempersilahkan Arjuna untuk berkumpul dengan teman-temannya daripada jenuh juga di dalam rumah hanya menemani Neva.
" Kira-kira ayah pulang jam berapa ya? " Monolognya dengan mata yang tertuju pada jam dinding di atas televisi.
Sudah pukul sembilan malam namun ayahnya juga tidak kunjung pulang dari kerumah, hal itu membuat Neva menjadi waspada kepada ayahnya. Takut hal yang tidak di inginkan terjadi pada ayahnya — Arjuna.
" Ayah. Kalo Neva bobo dulu maaf ya.. Obatnya reaksinya cepet banget.. " Memang sekarang Neva belum mengantuk sama sekali. Tapi lihat, beberapa menit kemudian sudah pasti Neva akan tertidur. Obat yang dia minum memiliki kandungan obat tidur yang sangat tinggi.
Neva mulai bersandar pada bantalan sofa. Sesekali memejamkan matanya, sedikit berat untuk membuka tapi Neva masih memaksa untuk membuka matanya. Menunggu Arjuna pulang dari reunian.
Beberapa jam berlalu. Neva tersadar dari tidurnya, matanya mengerjab pelan untuk magma menyesuaikan cahaya yang menyorot. Badannya sedikit terasa sakit, berapa lama dis tertidur dengan posisi seperti ini? Neva sendiri tidak tahu.
" Aku, ketiduran? AYAH! " Hening. Tidak ada yang menjawab sama sekali, teriakan juga tidak cukup keras jadi mungkin hanya terdengar di dalam ruangan saja.
" Pindah ajalah, matanya udah ngantuk banget "
Neva beranjak dari duduknya. Mematikan televisi, mengumpulkan sampah juga serpihan keripik yang dia makan. Setelah itu Neva mengganti lampu, segera Neva berjalan masuk ke dalam kamar.
Namun, sesampainya di dalam kamar. Neva mencoba untuk memejamkan matanya tapi naas, Neva sudah tidak mengantuk. Tidur sejenak membuat dirinya tidak mengantuk.
Dengan iseng Neva membuat ponsel. Di layar kuncinya terdapat beberapa notifikasi dari Magma. Beberapa bubble chat yang menunjukkan kabar bahwa dirinya sudah pulang sampai markas dengan selamat.
Neva menghela nafas, katanya akan pulang kerumah tapi malah melenceng sampai markas.
" Coba vid call ah! Barangkali masih bangun. " Neva bodo amat dengan lampu yang sudah ganti. Dirinya hanya memastikan bahwa Magma sudah tidur ataupun belum.
Melihat jam yang tertera di ponselnya belum sama sekali menunjukkan dini hari. Yang kemungkinan juga Magma belum tidur, biasanya di kisar pukul setengah tiga atau tepat pada jam dua Magma baru tidur.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐌𝐀𝐆𝐌𝐀 [𝐁𝐋 𝐋𝐎𝐊𝐀𝐋] ✓
Teen Fiction𝗗𝗜 𝗟𝗔𝗥𝗔𝗡𝗚 𝗞𝗘𝗥𝗔𝗦 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗠𝗘𝗡𝗝𝗜𝗣𝗟𝗔𝗞 [𝗣𝗟𝗔𝗚𝗜𝗔𝗥𝗜𝗦𝗘] 𝗖𝗘𝗥𝗜𝗧𝗔 𝗜𝗡𝗜. 𝐆𝐄𝐍 𝐀𝐌𝐎𝐑𝐃𝐀 - Magma Raynald Sebastian, laki-laki yang terkenal karena sifat nakal dan most wanted di sekolahannya. Sifatnya terlampau nak...
![𝐌𝐀𝐆𝐌𝐀 [𝐁𝐋 𝐋𝐎𝐊𝐀𝐋] ✓](https://img.wattpad.com/cover/376073236-64-k515381.jpg)