happy reading chiiders!
.
.
.
.
"Di mohon untuk anak-anak kelas sebelas berkumpul sekarang di lapangan! Sekali lagi, di mohon untuk anak-anak kelas sebelas berkumpul di lapangan sekarang."
Mereka anak-anak yang meras kelas sebelas langsung menegang. Siapa tidak menegang, baru enak-enak menikmati indahnya jam kosong tiada angin tidak hujan langsung di panggil untuk ke lapangan.
"Ngapain, anjir. Ke lapangan!" Kena yang baru saja hendak mendudukkan tubuhnya di kursi dekat dengan Neva kembali berdiri dengan decak kecil yang keluar dari bibirnya.
"Aku juga nggak tau, mending ke sana sekarang." Neva dengan Kena sudah berdiri, Darel baru memasukkan buku coret-coret kedalam tas dan Jena menyisir rambutnya.
"Yok buruan!"
Banyak anak kelas sebelas yang berjalan keluar dari kelas untuk menuju ke lapangan seperti instruksi bapak kepala sekolah.
Secepatnya mereka membentuk barisan di kelas masing-masing. Magma ikut turun dalam hal ini karena dirinya kebetulan akan membolos tapi dengan cepat pemberitahuan menghentikan aksinya yang akan membolos.
Jepan yang ada di belakang Magma sudah meracau kata-kata kasar tidak jelas. Sudah hampir dirinya berjalan menuju ke parkiran sekolah untuk anak-anak mengambil motornya malah di panggil untuk segera ke lapangan.
"Baiklah semuanya sudah berkumpul? Bapak hanya akan memberikan sebuah kabar baik dan gembira. Karena kalian selesai sudah mengerjakan ujian untuk semester dua akhir. Bapak akan mengadakan acara liburan, yang mana kalian akan berangkat ke semarang..
Tanpa di pungut biaya apapun itu dan sepersen pun tidak akan kami minta! Untuk pemberangkatan akan di laksanakan dua hari lagi!"
Semuanya bersorak gembira dengan kencang, akhirnya ujian berat itu di bayar dengan liburan yang tanpa di pungut biaya apapun itu. Walaupun hanya dekat setidaknya membuat mereka sedikit merasakan beban berkurang.
Lapangan seketika ricuh. Suara saling bersahutan kelas per-kelas.
"Anjay! Ngimpi apa tu guru, nggak di pungut biaya!" Putra terheran.
"Nyadar mungkin kalo ujian yang di kasih sama dia susahnya minta ampun." Jawab Jepan.
"Kita hanya akan satu hari saja tapi pulangnya sudah di pastikan akan larut. Kalian nanti di sana tetap jaga sopan santun, kalian bebas tapi juga akan di beri batasan."
Bapak kepala turun dari panggung kecil, Magma dan teman-temannya juga melangkah menjauh dari lapangan. Mereka akan tetap membolos, ya kali tidak.
.
"LIBURAN! MAMA, BALASAN BUAT UJIAN JENA DI KABULIN! AAAAAA SENENG BANGET GILAA!" Jena bersorak gembira kala sampai di kelas. Tubuhnya melompat-lompat kecil, bahagia atas apa yang baru saja di beri tahu oleh bapak kepala sekolah.
"Nanti di sana pokok nya kita nggak boleh kalo sampe nggak foto! Harus foto! Setidaknya satu kunjungan lima foto nanti!" Mereka kembali duduk pada posisi awal mereka, kembali berbincang-bincang seperti awal tadi.
"Lo pada mau bawa apa? Beli barang couple nggak sih! Kita berempat?" Kena menyeletuk.
Mereka saling pandang, "Boleh juga, tapi belinya kapan?" Tanya Neva. Waktu mereka tidaklah cukup banyak untuk bersiap.
"Nanti pulsek aja, kan pulang di cepetin. Habis itu nanti kita beli jajanan ringan buat camilan!" Jawab Kena.
"Boleh, Kena. Tapi aku sama Neva pulang dulu ya? Kita nggak bawa uang tambahan masalahnya." Jawab Darel.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐌𝐀𝐆𝐌𝐀 [𝐁𝐋 𝐋𝐎𝐊𝐀𝐋] ✓
أدب المراهقين𝗗𝗜 𝗟𝗔𝗥𝗔𝗡𝗚 𝗞𝗘𝗥𝗔𝗦 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗠𝗘𝗡𝗝𝗜𝗣𝗟𝗔𝗞 [𝗣𝗟𝗔𝗚𝗜𝗔𝗥𝗜𝗦𝗘] 𝗖𝗘𝗥𝗜𝗧𝗔 𝗜𝗡𝗜. 𝐆𝐄𝐍 𝐀𝐌𝐎𝐑𝐃𝐀 - Magma Raynald Sebastian, laki-laki yang terkenal karena sifat nakal dan most wanted di sekolahannya. Sifatnya terlampau nak...
![𝐌𝐀𝐆𝐌𝐀 [𝐁𝐋 𝐋𝐎𝐊𝐀𝐋] ✓](https://img.wattpad.com/cover/376073236-64-k515381.jpg)