♪ In The Stars - Benson Boone.
..
Happy reading!
Selamat membaca akhir dari kisah hidup Magma dan Neva!
.
.
.
.
" Sore yok! " Mereka tengah duduk di warung catur milik abah. Untuk berlibur mereka di villa akan tiba pada hari esok. Jadi sekarang masih ada waktu untuk bermain sejenak.
Magma sengaja keluar tanpa memberitahu Neva. Karena tidak ingin menganggu pemuda manis itu, yang katanya tengah menikmati waktu santai di belakang rumah.
Teman-teman Magma menatap bingung ke arah Magma. Tidak biasanya seperti ini, mengajak keluar terlebih dahulu.
" Muter muter kota aja, sebelum nanti kita liburan. " Entah apa yang merasuki Magma.
" Sadar lo, Mag? " Tanya Putra dengan memastikan Magma.
Magma mengangguk. " Gue sadar, ayok? Mau nggak? Kalo nggak mau gue pergi sendiri. " Jawabnya santai. Magma bersiap untuk berdiri, menggunakan jaketnya kembali dan meraih kunci motor.
Mereka bimbang, namun setelah itu langsung ikut serta untuk berdiri. Melakukan hal yang sama dengan Magma, memakai jaketnya. Tak lupa selalu meninggalkan uang di bawah gelas, entah itu berapa jumlahnya.
" ABAH MAGMA PAMIT! MAKASIH! " Mereka mengerutkan alisnya bingung. Kenapa hanya Magma yang berpamitan? Bukankah biasanya 'kita'?.
" Mag, lo oke kan? " Jepan mendekat. Memegang kening Magma.
Magma membalasnya hanya dengan kekehan ringan, dirinya tidak apa-apa sekali. Sore ini menurutnya sangat cerah, jadi harus di gunakan sebaik mungkin. Dengan bermotoran engelilingi kota, mungkin.
" Bah! Pamit ya! " Ken mewakili mereka semua.
Abah yang berdiri di depan toko tersenyum menatap mereka yang akan pergi dari tokonya. Anak-anaknya kembali pada rumahnya sendiri-sendiri.
Mereka mulai melajukan motornya dengan kecepatan yang normal. Oren nya sunset, indahnya langit, juga awan yang di sinari oleh cahaya oren. Menambah kesan cantik, dan damai sekaligus.
Magma memimpin jalan mereka, di belakang semuanya mengikuti Magma. Kemana perginya Magma, mereka akan ikut. Mau sampai ke ujung dunia sekalipun, mereka akan terus mengikuti Magma.
Beberapa menit perjalanan mereka. Magma memutuskan untuk berhenti di salah satu angkringan yang dahulunya sering mereka datangi. Memesan sebuah kopi dan juga gorengan hangat.
Magma mulai menghidupkan rokoknya, menyesap dan menyemburkan asap ke udara bebas. Semuanya menikmati. Sunset dengan jalanan ramai sangatlah serasi sekali.
" Tumben, Mag. " Putra menoleh. Menatap Magma yang hanya diam menatap ke arah jalanan raya.
" Gapapa. Pengen aja, lama nggak kayak gini. "
" Jangan ada hal yang lo sembunyiin. Sebisa mungkin cerita. Kita pasti dengerin. " Sambung Ken, tangannya merangkul pundak itu dan menepuk nya beberapa kali.
" Nggak ada, "
" Jangan bohong. Kita temenan udah lama, apa-apa dilewati bersama, nggak sendiri-sendiri. " Bara menimpali.
" Tapi jujur. Gue nggak ada apa-apa, nggak ada hal yang baru gue sembunyiin. Gue oke, gue cuma pengen muter-muter kota sore hari aja. "
Mereka akhirnya diam. Tidak lagi memaksa Magma untuk menjelaskan hal apa yang sedang terjadi.
Kembali mata mereka menatap ke arah depan. Jalan raya dengan suasana sore hari. Banyak penjual kaki lima yang sudah stay di tempatnya, mulai dari makanan berat sampai camilan.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐌𝐀𝐆𝐌𝐀 [𝐁𝐋 𝐋𝐎𝐊𝐀𝐋] ✓
Ficção Adolescente𝗗𝗜 𝗟𝗔𝗥𝗔𝗡𝗚 𝗞𝗘𝗥𝗔𝗦 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗠𝗘𝗡𝗝𝗜𝗣𝗟𝗔𝗞 [𝗣𝗟𝗔𝗚𝗜𝗔𝗥𝗜𝗦𝗘] 𝗖𝗘𝗥𝗜𝗧𝗔 𝗜𝗡𝗜. 𝐆𝐄𝐍 𝐀𝐌𝐎𝐑𝐃𝐀 - Magma Raynald Sebastian, laki-laki yang terkenal karena sifat nakal dan most wanted di sekolahannya. Sifatnya terlampau nak...
![𝐌𝐀𝐆𝐌𝐀 [𝐁𝐋 𝐋𝐎𝐊𝐀𝐋] ✓](https://img.wattpad.com/cover/376073236-64-k515381.jpg)