M | 10

14.1K 678 10
                                        

happy reading!

.
.
.
.











Magma dan Neva berujung pergi ke pasar malam kota yang di adakan secara besar-besaran. Awalnya tidak ingin tapi Neva menyeletuk ingin ke sana pada esok hari, namun Steven sudah ribut ingin ke sana sekarang juga, ingin tau apa pasar malam itu seperti apa.

Mata Steven tidak berhenti untuk mengedar ke seluruh sudut pasar malam. Tangannya di gandeng oleh Neva, dan Magma mengikuti mereka berdua dari belakang.

"Mau kemana?" tanya Neva pada Steven, menundukkan kepalanya untuk melihat anak itu.

"Stev mau itu! Mau yang warna merah!" Steven menunjuk salah satu stand penjual jus.

"Mas mau jus strawberry satu." Mas penjual mengangguk.

"Lo nggak mau?" Neva menggeleng, dirinya sedang tidak mau yang berbau dingin bahkan sekarang saja dirinya memaka pakaian serba panjang.

Setelah membeli jus mereka melanjutkan jalan mereka. Entah yang akan menuju ke mana yang terpenting jalan terlebih dahulu. Steven juga diam dalam jalannya yang membawa jus strawberry.

Sampai di mana ada permainan lempar cincin. Boneka di jejerkan di dinding yang sudah di beri penyangga lalu di depan para pemain terdapat kerucut yang berwarna-warni, jika kalian bisa memasukkan sepuluh kali tanpa gagal maka kalian mendapatkan satu boneka.

"Stev mau cow!" telunjuk kecilnya menujukan ke salah satu boneka yang di jejerkan.

Neva mencoba pertama namun gagal kini bergantian Magma yang mencoba permainan tersebut.

"Terimakasih sudah bermain dan selamat untuk kemenangan kalian!" Mas-mas pemilik permainan memberikan boneka yang Steven mau.

Steven di gendong oleh Magma dan Neva membawa boneka serta jus strawberry milik Steven, pemiliknya sudah mengeluh kenyang meminum jus itu dengan terus-terusan. Jus nya juga kental maka dari itu.

"Mau kemana lagi?" Magma bertanya pada Steven. Anak itu seperti sudah tidak berdaya. Kepalanya di taruh pada pundak Magma.

Dia menggeleng, kepalanya menyender dengan nyaman pada pundak Magma.

"Mau kemana?"

"Aku nggak tau. Stev juga udah cape kayaknya. Gimana kalo pulang?" saran Neva diakhir, dirinya juga sudah sedikit lelah.

"Nggak mau jajan dulu? Ada roti bantal."

Magma menunjuk ke arah penjual roti bantal dengan dagunya. Neva awalnya tidak tertarik tapi setelah beberapa detik berdiam diri Neva mengangguk dengan seru lalu tanpa sengaja menggandeng tangan Magma yang menyangga bobot Steven.

Neva membeli dengan jumlah yang dia inginkan, Magma sudah di tawari namun menggeleng. Neva bingung dengan makanan kesukaan Magma itu apa, melihat semua jajanan dia tolak.

Beberapa menit kemudian mereka memutuskan untuk pulang ke rumah juga Steven yang sudah tertidur di gendongan Magma.

Sampai di parkiran Steven di pindahkan pada gendongan Neva, barang-barang akan di bawa oleh Magma.

..

Magma berhenti tepat di depan rumahnya, begitu pintu di buka sudah ada Nathaniel (Papa Magma) yang menyambut kedatangannya.

Dia tersenyum manis melihat Neva datang kembali, dia seperti melihat dirinya pada masa belasan tahun sangat cantik dan manis.

"Papa..." sapa lirih dari Neva. Dia di paksa Nathaniel untuk memanggil Nathaniel dengan sebutan Papa tidak boleh Uncle, Om atau semacamnya lagi. Harus Papa.

𝐌𝐀𝐆𝐌𝐀 [𝐁𝐋 𝐋𝐎𝐊𝐀𝐋] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang