haii Chiiders setia Magma! kalian apa kabar? aku bawa bonchap lagi buat kalian, dan bonchap ini bener-bener yang terakhir, untuk kedepannya nggak bakal ada lagi bonchap, hehe..
aku turut makasih buat yang udah ikut berpartisipasi book Magma, selalu votmen, dan follow aku! makasih untuk kalian!
happy reading, Chiiders!
.
.
.
Neva terbangun dari tidurnya, napasnya sangat tidak teratur, begitu tersendat-sendat. Peluh keringat sebesar jagung keluar dari dahinya. Neva mematung di atas rajang, mimpi buruk itu, sangat mengganggu dirinya.
Sayup-sayup Neva dengan kekehan beberapa orang di ruang depan televisi. Karena rasa ingin tahu, Neva turun dari ranjang. Mengintip dari balik pintu, siapa-siapa saja yang ada di ruang depan.
Neva mengulas senyumannya kala melihat sosok Magma, dia tengah tertawa dengan temen-temennya di ruang depan televisi tersebut. Jadi benar, Magma -nya tidak pergi ke mana-mana, hanya mimpi buruk yang menyerang Neva.
Juga anak kecil yang ada di dalam mimpinya, anak kecil itu nyatanya tidak ada kala Neva terbangun dari tidurnya. Dia tidak ada di dekat Magma maupun berkeliaran di dalam rumah, jika ada Neva sudah mendengar suara pekikan tawa dari anak kecil itu.
Neva perlahan keluar dari balik pintu, berjalan mendekat ke arah mereka yang sedang tertawa. Dengan tuntunan Magma, dia mendudukkan tubuhnya tepat di samping Magma. Tangan Magma merangkul pundak dengan posesif, Neva kembali bernafas lega. Sentuhan tangan itu masih terasa nyata.
"Aku mimpi buruk.." adu Neva dengan suara pelannya.
Magma menoleh, menatap Neva dengan tatapan bingung. "Mimpi apa, sayang?"
Neva lagi-lagi bernafas lega, Magma benar-benar masih ada di sampingnya. Masih memanggilnya, masih merangkulnya, dan masih ada di dekatnya.
"Kamu jangan marah tapi?" Magma mengangguk singkat.
"Aku mimpi kamu meninggal, trus aku punya anak.. Kalo nggak salah namanya Jamie, sakit tau liat kamu meninggal.. Mana kamu nggak ada ngucapin selamat tinggal, cuma minta maaf aja!" Neva mengadu dengan bibir yang sedikit mengerucut, suara yang mendayu manja.
Magma terkekeh, tangannya terangkat untuk menyingkirkan rambut poni Neva yang menutupi mata. Neva berkata tidak ingin memotong rambutnya, biarkan panjang terlebih dahulu seperti Felix Lee Stray Kids. Magma juga tak menghiraukan hal tersebut, dirinya membiarkan apa yang Neva sukai, asalkan Neva tidak menjadi milik orang lain.
"Cuma mimpi, sayang.. Aku masih ada di sini, masih ada sama kamu, masih lindungi kamu di sini, masih ada di dekapan kamu, masih ada juga aku di samping kamu.. Jangan berfikiran buruk setelah kamu mimpi buruk itu, okey? Aku, di sini, sama kamu, always, Nevarro Keenan Argadana"
Neva tersenyum mendengar hal itu, dia akan terus bersama dengan Magma bagaimanapun guncangannya, rintangannya, pahit manisnya, dia akan selalu bersama dengan Magma.
"Njirlah! Pindah Mars aja kita! Dunia serasa milik berdua!" kekeh Bara. Pemuda itu datang sendiri, tidak dengan pacarnya, Darel.
Semuanya ikut terkekeh mendengar ucapan Bara. Mereka juga berhenti berbicara kala Neva menceritakan mimpinya semalam. Karena mereka tidak mau membuat Neva menjadi terganggu.
"Sana! Nih, aku kasih tiket! Masuknya 600jt perorang!" sahutan Neva membuat gelak tawa semakin meledak.
Beberapa hari yang lalu mereka lulus sekolah, maka dari itu sekarang mereka seperti anak pengangguran. Untuk lanjut, mungkin ada. Mereka akan berkuliah di tempat yang sama, tentu dengan jurusan kuliah yang berbeda. Karena tidak semua yang satu kuliah itu sama dengan jurusannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐌𝐀𝐆𝐌𝐀 [𝐁𝐋 𝐋𝐎𝐊𝐀𝐋] ✓
Подростковая литература𝗗𝗜 𝗟𝗔𝗥𝗔𝗡𝗚 𝗞𝗘𝗥𝗔𝗦 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗠𝗘𝗡𝗝𝗜𝗣𝗟𝗔𝗞 [𝗣𝗟𝗔𝗚𝗜𝗔𝗥𝗜𝗦𝗘] 𝗖𝗘𝗥𝗜𝗧𝗔 𝗜𝗡𝗜. 𝐆𝐄𝐍 𝐀𝐌𝐎𝐑𝐃𝐀 - Magma Raynald Sebastian, laki-laki yang terkenal karena sifat nakal dan most wanted di sekolahannya. Sifatnya terlampau nak...
![𝐌𝐀𝐆𝐌𝐀 [𝐁𝐋 𝐋𝐎𝐊𝐀𝐋] ✓](https://img.wattpad.com/cover/376073236-64-k515381.jpg)