haii haii! jangan lupa tekan vote dan komen all!! My first story!
mohon kerjasamanya!
jangan lupa follow juga akun Chii!
Happy reading!
.
.
.
.
Wajah pemuda manis itu tampak gelisah, langit petang sekali padahal belum memasuki malam hari.
Dirinya di landa kepikiran, antara langsung berlari untuk pulang atau berdiam diri terlebih dahulu seraya menunggu hujan tiba dan reda. "Kalo aku ambil langsung kayanya di tengah jalan bakalan kehujanan..." gumamnya.
Dirinya berjalan kaki ketika pulang, karena menurutnya jarak rumahnya dan sekolah tidak begitu jauh maka dari itu pemuda ini memutuskan untuk berjalan saja, terkadang berangkat naik ojek ataupun di jemput oleh Darel. Untuk pulang Darel tidak selalu menjamin bahwa bisa mengantarkan pemuda itu pulang, karena setelah pulang Darel langsung menuju ke kafe dan mulai bekerja di sana.
Jika pulang berjalanan kaki, maka dia akan melawati gang-gang yang satu arah dengan gangnya, jika menaiki motor maka melewati jalan besar yang semakin dekat dengan rumahnya. Walaupun dia jalan tapi menurutnya tak apa, bisa olahraga tipis-tipis juga. Sebenernya dia punya motor di rumah, hanya saja malas untuk mengisi bensin serta mengeluarkan dari garasi mini di rumahnya. Jadilah dia jalan kaki.
Neva, memilih untuk menunggu hujan di halte samping sekolah. Perasannya tidak tenang sekali, rasa takut mulai menjalar dengan perlahan di seluruh tubuhnya, dia memiliki trauma akan hujan dan langit yang gelap, atau katakan saja dirinya itu takut hujan.
"Udah pake cardigan masih aja dingin." keluhannya dengan membuag napas kasar.
Neva masih berdiam diri di halte. Melihat air yang perlahan turun lebih banyak membuat dirinya semakin gusar dan tak nyaman, jiwanya ingin menerobos, namun dia takut akan hujan.
.
Kepala Neva mendongak ketika mendapati pemuda lain yang ikut menepi dari hujan di halte ini, sedikit tenang melihat dirinya tidak lagi sendiri.
Pemuda itu lantas turun dengan segera dari motornya sebelum hujan semakin lebat dan membuatnya semakin basah, jaket kulitnya tidak mampu untuk menolak air hujan yang terus-menerus turun mengguyur bumi sore ini.
Lantas dia memutuskan untuk duduk dengan orang asing di sebelahnya, helm belum sama sekali pemuda itu lepas entah apa alasannya.
"Aku nggak asing sama motornya." Neva membatin. Melihat motor berwarna hitam dengan sedikit corak merah juga helm full face hitam yang di gunakan oleh pemuda sampingnya itu.
"Nggak mungkin, ah! Masa bener?" Neva penasaran namun sedikit ragu untuk membuka suara.
"Shh..." Neva mendesis, dia semakin melipat kakinya ke bawah; kakinya kedinginan. Luka itu belum cukup kering, juga kaku di kakinya semakin menjadi-jadi ketika terkena dingin.
"Jangan kumat dulu plis baru di luar." lirihnya. Hal itu membuat pemuda yang ada di samping Neva menolehkan kepalanya.
"Kenapa?" pertanyaan singkat itu membuat badan Neva menegang seketika. Sudah dingin semakin di buat dingin, aduhh.
"Gapapa, hehe..." Neva tersenyum memperlihatkan senyum manisnya.
"Hm?" Neva sudah tidak kuat jika hm hm seperti ini.
"Um.. Itu aku habis jatu. Nggak sengaja keserempet sama orang." mendengar pengakuan dari Neva, pemuda itu jadi teringat akan serempetan dirinya dengan pemuda manis beberapa hari lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐌𝐀𝐆𝐌𝐀 [𝐁𝐋 𝐋𝐎𝐊𝐀𝐋] ✓
Teen Fiction𝗗𝗜 𝗟𝗔𝗥𝗔𝗡𝗚 𝗞𝗘𝗥𝗔𝗦 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗠𝗘𝗡𝗝𝗜𝗣𝗟𝗔𝗞 [𝗣𝗟𝗔𝗚𝗜𝗔𝗥𝗜𝗦𝗘] 𝗖𝗘𝗥𝗜𝗧𝗔 𝗜𝗡𝗜. 𝐆𝐄𝐍 𝐀𝐌𝐎𝐑𝐃𝐀 - Magma Raynald Sebastian, laki-laki yang terkenal karena sifat nakal dan most wanted di sekolahannya. Sifatnya terlampau nak...
![𝐌𝐀𝐆𝐌𝐀 [𝐁𝐋 𝐋𝐎𝐊𝐀𝐋] ✓](https://img.wattpad.com/cover/376073236-64-k515381.jpg)