Happy Reading.....
.
.
.
.
.
.
.
.
Saat Ara terbangun, ia mendapati dirinya terikat di sebuah kursi dengan tangan dan kaki terbelenggu. Pandangannya sedikit buram. Ruangan itu gelap, dengan hanya satu lampu gantung yang berayun pelan di atasnya.
Apa ini? Di mana aku? pikir Ara sambil mencoba mengingat kejadian sebelumnya.
Pintu di belakangnya terbuka, dan suara langkah sepatu hak tinggi menggema mendekat. Sosok Sabrina muncul dengan senyum sinis yang khas, mengenakan gaun hitam yang mencolok.
"Selamat datang, Arabella," ucap Sabrina dengan nada licik.
Ara mendengus, meski tubuhnya masih terasa lemah. Sudah ia duga orang dibalik penculikan nya adalah Sabrina.
Sabrina berjalan mendekat, tangannya menyentuh dagu Ara dengan kasar.
"Ekpresi lo enggak kelihatan terkejut,"
"Gue tahu rencana busuk lo!" Ara membalas dengan berani. Raut wajahnya tidak menunjukan rasa takut sama sekali.
"Rencana lo terlalu mudah di tebak, Sabrina." Ara terkekeh.
Sabrina mengencangkan cengkraman tangannya pada dagu Ara.
"Oh, jadi lo sudah tahu ya? Sayang sekali. Berarti lo juga sudah tahu akan berakhir disini kan? Hahaha ..." Sabrina tertawa kencang dengan wajah sinisnya.
"Benarkah? Kita lihat siapa yang akan berakhir menyedihkan nantinya." Ara tersenyum tipis.
Plak !
Sabrina menampar pipi Ara dengan keras. "Sepertinya gue akan bermain sebentar dengan lo. Kayaknya seru."
Plak !
Kali ini untuk pipi Ara yang sebelahnya. Tak sampai disitu Sabrina menjambak rambut Ara hingga wajah gadis itu mendongak keatas akibat tarikan di rambutnya.
"Gue ingin lihat wajah memohon lo. Ayo Arabella, memohonlah sama gue." Sabrina berucap di depan wajah Ara.
Gadis itu sedikit meringis pelan tapi mencoba untuk tetap terlihat biasa saja.
"Gue punya sesuatu spesial buat lo." Sabrina tersenyum licik. Lalu gadis itu melepaskan tangannya beralih mencari sesuatu yang ia bawa di tasnya.
Setelah mendapatkan nya, Sabrina tersenyum manis. Ia menunjukan sesuatu yang ia bawa pada Arabella.
"Rambut lo kadang buat mata gue sakit." Sabrina berucap dengan mengelus pelan rambut panjang Arabella.
"Lo tahu kan, semua yang ada di diri lo buat mata gue sakit. Dan gue benci itu. Maka dari itu mari kita musnahkan satu-satu."
Mata Ara membola. Ia menyadari apa yang akan Sabrina lakukan padanya nanti. Gadis itu ingin memotong rambut nya. Tidak akan Ara biarkan.
"Jadi lo iri karena gue jauh lebih cantik dari lo begitu? Dilihat dari mana pun gue emang jauh lebih baik dari lo sih, haha." Ara membalas dengan pandangan menilai dan ejekan.
"Berani sekali mulut lo!" Wajah Sabrina memerah emosi. Gadis itu bahkan mengacungkan gunting tepat di wajah Ara.
Ara meneguk ludahnya susah payah. Gunting itu bahkan hampir saja mengenai matanya.
Arabella menajamkan matanya. "Berhenti disini atau lo hancur Sabrina. Itu bukan peringatan tapi perintah."
Muka Sabrina semakin marah dan emosi. "Sialan, semakin gue biarin ternyata lo semakin ngelunjak ya!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Queen Arabella
Teen FictionHidup kembali setelah kematian membuat Alissa Queena Arabella tidak menginginkan lagi cinta dari siapapun. Tujuan hidupnnya telah berubah setelah rasa sakit dari orang-orang yang dia sayangi menjadi rasa benci dan dendam. Arabella tidak akan menyian...
