35

12.4K 453 29
                                        

Happy Reading...



.
.
.
.
.
.
............







Bahu Sabrina yang terluka tampak berdarah, tapi wanita itu bahkan tak tampak kesakitan. Justru, amarah dalam dirinya berkobar-kobar, membakar akal sehat yang tersisa. Ia menyeret langkah mendekat ke arah Arabella dengan senyum miring, senyum penuh kebencian.

Arabella berdiri siaga, tubuhnya gemetar karena kelelahan dan luka, tapi matanya tak berkedip. Gunting masih tergenggam erat, siap menusuk jika Sabrina menyerangnya.


Lalu, Sabrina berhenti hanya beberapa langkah darinya, menatap lurus dengan tatapan haus darah.


“ Mau gue kasih tahu hal mengejutkan? ” ucapnya ringan, seolah yang akan dia katakan hanya lelucon.


“ Soal kecelakaan lo, atau bisa gua katakakan itu adalah sebuah kesengajaan.” Ia menyeringai tipis.

Tubuh Ara membeku, “ apa? …”

“ Seharusnya semuanya terasa mudah jika lo ikut mati saat itu. Tapi ternyata lo beruntung. ”

Arabella mencengkeram gagang gunting makin kuat. Dadanya sesak bukan main.


“Siapa orangnya, sialan!” teriak Ara keras.

Suaranya menggema di atap gedung, menusuk ke dalam malam yang dingin dan sunyi. Tangannya gemetar, air mata mengalir tanpa bisa ia kendalikan. Luka di tubuhnya seolah lenyap tertutup oleh luka di dalam dada yang baru saja disobek terbuka.

Sabrina malah tertawa keras. “ Lo terlalu bodoh, Ara. Coba lo pikir siapa yang paling diuntungkan dengan kematian ibu lo.”


Jantung Ara seperti dihantam palu. Nafasnya tercekat. Seprtinya ia sudah bisa menebak siapa dalang di balik kecelakaan bundanya.


“Biadab!” teriak Ara, suaranya bergetar hebat. Giginya bergemertak, rahangnya menegang. Seluruh tubuhnya menegang seperti busur yang siap melepaskan anak panah maut.

“ Lo dan ibu lo bukan manusia. Kalian monster!” Semburnya dengan suara serak.

Sabrina hanya tersenyum sinis, seolah menikmati setiap ledakan emosi yang keluar dari Arabella.

“Lucu ya, lo baru tahu sekarang. Padahal semua udah ada di depan mata lo dari dulu.”


Ara mengepalkan tangannya erat. “ Kalian benalu yang harusnya pantas lenyap dari muka bumi ini.”


Sabrina menyeringai, “ mari kita lihat siapa yang lenyap terlebih dahulu.”


Wanita bergerak cepat kearah Arabella. Menerjangnya sampai besi pembatas. Ara bertahan dengan memegang kedua bahu Sabrina. Bahkan gunting yang ia gunakan ikut terjatuh.

Keduanya saling tarik-menarik, bertahan diatara pembatas yang siapa saja bisa jatuh kebawah sana.

Namun Ara sudah tahu jelas dengan yang akan Sabrina lakukan, lalu dengan gerakan kilat kakinya membelit kaki Sabrina. Memutarnya hingga mengubah posisi keduanya.


Sabrina terpojok.

Kedua tangan Arabella mencengkeram erat leher Sabrina, amarah dan luka bercampur jadi satu.

Queen ArabellaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang