Happy Reading.....
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Persidangan digelar secara tertutup. Tak ada suara kamera, tak ada jurnalis, hanya beberapa anggota keluarga, tim hukum, dan para saksi yang duduk berjajar di bangku belakang. Alasannya adalah terdakwa ,masih di bawah umur.
Alasan memuakan itu membuat ketiga kakak Arabella mengumpat sebagai bentuk kekesalan mereka. Tapi dari pada itu, entah apa yang terjadi nanti atas putusan dari sang hakim. Mereka tentu punya cara lain untuk membalas dendam.
Penjara saja tidak cukup untuk Sabrina, bukan?
Maka dari itu, Sagara punya caranya sendiri dengan menyebar semua bukti kejahatan dari Arini dan Sabrina pada media dan orang-orang di lingkungan mereka. Masyarakat perlu tahu bahwa ada orang yang sekeji itu berkeliran bebas diantara mereka. Dan biar Masyarakat luar juga menilai atas tindakan tak terpuji Sabrina dan Arini telah perbuat.
Sabrina duduk di kursi terdakwa. ia tidak sendirian, melainkan ditemani oleh Arini yang juga mengenakan baju tahanan. Tubuh Sabrina tampak kecil,wajahnya yang selalu terlihat angkuh itu berubah menjadi gellisah, rambutnya tak lagi rapi seperti dulu. Ia tak banyak menoleh ke siapa pun, hanya menunduk, tangan mengepal erat di atas paha. Seolah ingin menghilang dari dunia.
Namun hal berbeda yang di tampilkan oleh Arini. Wanita yang menjadi pelaku utama dari setiap kebencian dan kejahatan itu tampak duduk tenang. Seolah persidangan bukanlah apa-apa baginya.
Padahal kebebasannya akan berakhir dari sekarang.
“Angkat wajahmu, Sabrina. Ingat, kita tidak akan kalah dari mereka. Kita punya pengacara hebat yang bisa memenangkan persidangan ini.” Arini berucap penuh ambisi sambil menatap Sabrina.
Tentu mereka sudah menyiapkan pengacara hebat, bahkan Arini menggunakan cara kotor untuk menyuap hakim agar memihak ke padanya. Ia akan melakukan cara apapun agar terbebas dari tuduhan.
Sayangnya rencananya diketahui oleh Sagara.
Disisisi lain Arabella hadir sebagai saksi utama. Langkahnya pelan namun tegas, sorot matanya masih menyimpan bayang luka, tapi juga kekuatan yang sulit dijelaskan. Dia tidak datang sebagai korban biasa. Dia datang untuk menuntaskan kebenaran juga untuk kebebasannya.
Suasana hening dan tenang. Sampai para penegak hukum datang dan duduk di kursi mereka. Hakim ketua mulai memberi beberapa aturan tata tertib sebelum persidanga di mulai. Aturan-aturan itu bertujuan untuk memastikan proses persidangan berjalan tertib, adil dan sesuai dengan hukum.
Beberapa menit berlalu. Persidangan akhirnya di mulai. Jaksa di kursinya berdiri dengan toga berwarna hitam ciri khasnya. Dia berbicara dengan tegas dan nada yang mantap, dia memulai pidato tuntutannya.
’’Yang Terhormat Majelis Hakim Pengadilan Negeri...," Jaksa memulai, "Dalam kasus ini, kami menuntut terdakwa dengan tuduhan penculikan, penyiksaan, pemerkosaan dan rencana pembunuhan yang dilakukan oleh terdakwa, Sabrina Larasati atas korbannya bernama Alissa Queenna Arabella. "
Jaksa Penuntut Umum melanjutkan tuntutannya dengan menyebutkan secara rinci tentang tindak pidana yang dilakukan oleh Sabrina Larasati.
"Dalam kasus ini, kami memiliki bukti-bukti yang kuat yang menunjukkan bahwa Sabrina Larasati telah melakukan tindak pidana tersebut dengan sengaja dan terencana," Jaksa menjelaskan.
"Korban, Alissa Queenna Arabella telah mengalami trauma yang sangat berat akibat perbuatan terdakwa, dan kami percaya bahwa Sabrina Larasati harus bertanggung jawab atas perbuatannya."
Jaksa kemudian memaparkan lebih lanjut tentang bukti-bukti yang dimiliki, termasuk saksi-saksi, dokumen-dokumen, dan bukti fisik yang mendukung tuntutan tersebut.
Di ruang sidang yang hening, suara jaksa menggema tajam, menyorot ke arah terdakwa yang duduk dengan wajah pucat dan tatapan kosong.
“Video pengakuan terdakwa yang terekam jelas oleh korban merupakan salah satu bukti paling memberatkan. Di dalamnya, terdakwa secara terang-terangan mengatur aksi penculikan dan upaya pelecehan terhadap korban,” ujar jaksa dengan intonasi tegas.
Mata para pengunjung ruang sidang menatap Sabrina Larasati. Ada yang berbisik, ada pula yang menggeleng pelan tak percaya.
Ara, yang duduk di kursi saksi dengan tangan gemetar namun tatapan mantap, menatap lurus ke depan. Di balik luka batinnya, ia memilih berdiri—menjadi suara untuk dirinya sendiri.
”Tak hanya itu yang mulia, untuk kasus kecelakaan tunggal tujuh tahun yang lalu yang menyebabkan Amara Arselia meninggal dunia. Kecelaakan tersebut bukanlah kecelaakan biasa melainkan tindahan percobaan pembunuhan yang dilalukan oleh terdakwa Arini Estiana. kami mempunyai bukti video dan saksi langsung.”
Arabella memejamka matanya Ketika nama sang bunda di sebut. Ia membayangkan wajah Amara dalam benaknya.
Bi Ratna berjalan kedepan menghadap sebagai saksi. Wanita ini memberi pengakuan yang sama Ketika ia berbicara dengan Sagara beberapa hari yang lalu.
Semua orang terdiam mendengarkan. Bahkan Ketika pengacara dari Arini ingin menyangkal setiap tuduhan tersebut tetepi sang Hakim tidak menerimannya dan menyuruh Ratna terus memberi pengakuan.
“Yang Mulia,” jaksa Kembali bersuara.
“Kami meminta hukuman maksimal atas kejahatan ini. Tidak hanya demi keadilan untuk korban, tetapi juga untuk memberikan efek jera pada setiap pelaku kekerasan terhadap perempuan di negeri ini.”
Suasana hening, sang hakim nampak sudah paham akan situasi yang ada. Semua bukti dan saksi jelas sangat memberatkan tuduhan Sabrina dan Arini.
“Saya menerima setiap tuduhan yang jaksa sampaikan dan untuk kedua terdakwa sepertinya kalian sangat ingin bebas dari tuduhan sampai-sampai melakukan hal kotor kepada hakim majelis. Saya akan menambah tuntutan kedalam persidangan.”
Arini mengepalkan tangannya. Wanita itu sudah tahu jika dirinya akan kalah. Orang-orang menatapnya dengan wajah menghina.
“Saudari Sabrina Larasati sesuai hukum yang ada, walau terdakwa masih di bawah umur namun hukum harus tetap berjalan. Saya menjatuhkan hukuman 10 tahun penjara dalam masa hukuman tiga tahun dalam Lembaga Pembinaan Khusus Anak ( LPKA ) sebelum masa hukuman di mulai. Dan untuk terdakwa Arini Estiana dijatuhkan hukuman dua puluh tahun penjara dan denda sekitar lima belas miliar rupiah serta penyitaan aset-aset pribadi.”
“ Jika terdakwa tidak sanggup membayar denda, maka akan dikenakan tambahan hukuman penjara selama tujuh tahun.”
Ketukan palu menjadi tanda persidangan berakhir.
Wajah Arini pucat seketika. Ia menoleh pada pengacaranya dengan tak percaya. Ia pikir uang akan menyelamatkannya. Sabrina sendiri hanya bisa menunduk dengan pasrah. Masa mudanya berakhir di penjara. Jika seperti itu bagaimana bisa ia menjalani hidup.
“Tunggu, saya keberatan!” Arini berteriak dengan keras.
“Anda tidak bisa menyita aset-aset saya. Semuanya milik saya. Tidak ada yang boleh meyentuhnya!” Arini berbicara tanpa terkendali.
Hakim menatapnya datar. “Terdakwa, proses hukum telah memverifukasi jika aset tersebut berkaitan erat dengan Tindakan pidana dan digunakan untuk melindungi aktivitas criminal. Anda tidak dalam posisi untuk menawar.”
Arini tertawa sumbang.lebih seperti jeritan putus asa. Jerih payahnya akan berakhir sia-sia kalau begitu.
“Tidak. Kalian tidak berhak mengambil sepeserpun dari harta saya. Tidak boleh! ”
“SEMUA INI TIPUAN. KALIAN SUDAH DI TIPU OLEH AKAN SIALAN ITU!” Arini berteriak liar, sambil menunjuk Arabella dengan tatapan tajam miliknya.
Para petugas dengan sigap menahan Arini ketika wanita itu berlari kearah Arabella. Arini meronta keras.
“ AKU PUNYA SEGALANYA! UANG! KEKUASAAN! KALIAN TIDAK BERHAK MELAKUKAN INI PADA SAYA. ”
Arabella berjalan meninggalkan meja, berdiri tepat di depan Arini. “kini, kau kehilangan semuanya. Bagaimana rasanya?” Ara berbicara pelan.
Arini terdiam sejenak – lalu tertawa. Tawa Panjang, nyaring, penuh putus asa. Tawa wanita yang kehilangan akal sehatnya.
“Haha … ibumu mati ditanganku, Ara. Akhirnya aku bisa menyingkirkan Amara yang merebut semuanya dariku.” Arini berteriak.
“Kau sama seperti ibumu, Ara. kau membuat Sabrina anak kesayanganku tidak bisa memiliki apa-apa. Kalian pantas mati.” Ia tertawa keras.
Arabella tidak beraksi, ia hanya menatap Arini dengan kasihan. “Justru kau lah yang membuat anakmu sendiri menjadi monster.”
Sabrina sendiri hanya bisa menangis melihat ibunya kehilangan kendali. Ia hancur. Dunianya hancur. Ia kehilangan segalanya.
“Ibu…” Sabrina hanya bisa berbisik lirih, nyaris tak terdengar.
Kemudian ia menatap Arabella dari jauh. Arabella berdiri tegak,tenang, tanpa amaran di wajahnya. Bahkan wajahnya menampilakan senyum tipis ketika ketiga kakak laki-lakinya mendekat, seolah mengatakan ia baik-baik saja.
Bahkan ketika Erlangga mendekati Arabella, dan menepuk kepala gadis itu. Dan disanalah Sabrina merasa benar-benar kalah.
Bersambung......
************
KAMU SEDANG MEMBACA
Queen Arabella
Teen FictionHidup kembali setelah kematian membuat Alissa Queena Arabella tidak menginginkan lagi cinta dari siapapun. Tujuan hidupnnya telah berubah setelah rasa sakit dari orang-orang yang dia sayangi menjadi rasa benci dan dendam. Arabella tidak akan menyian...
