23

26.4K 1.3K 43
                                        

Happy Reading....

.
.
.
.
.
.
.


"Lagi-lagi lo buat masalah. Sampai kapan lo mau terus nyakiti Sabrini kayak gini, hah?"

Baru saja Ara dan Angkasa memasuki rumah tapi ia sudah mendapat suara melengking dari Langit di ruang tamu.

Langit berdiri menghadap Ara. Menatap gadis itu dengan tajam.

"Dia yang mulai duluan. Bukan gue." Jawab Ara santai.

"Sebenarnya hati lo terbuat dari apa hingga jadi jahat kayak gini."
"Bukannya kalian yang jahat sama gue." Ara mendongak menatap Langit.

"Karena lo yang nggak tahu malu. Lo terlalu murahan jadi cewek. Beda bangat sama Sabrina." Langit membuang pandangannya sebentar.

"Lo ngatain adik sendiri murahan? Keren banget lo. Harusnya yang murahan itu Sabrina. Lo gak tahu aja kelakuan murahannya kayak gimana. Mau aja di bego-begoin sama tuh cewek." Ara melihat tangannya di dada. Tak gentar sama sekali.

Langit kembali menatapnya tajam. "Jaga omongan lo!" Kesal nya tak terima.

"Gue selama ini selalu jaga omongan gue apalagi sama lo. Kakak gue. Tapi omongan lo sendiri yang gak bisa di jaga. Jadi ngapain gue harus bersikap sopan sama orang kayak lo."

"Karena kelakuan lo yang buat gue muak. Lo jauh lebih baik dari Sabrina." Langit tidak mau kalah. Meski ia merasa tersindir dengan apa yang Arabella ucapkan.

Ara berdecih. "Sabrina. Sabrina. Sabrina. Gue Arabella bukan Sabrina. Dan gue gak sudi jadi kayak Sabrina!"

"Tapi gue pengen nya punya adik seperti Sabrina bukan lo."

"Benar." Ara menatap mata Langit datar. Kemudian melanjutkan ucapannya.

"Anggap saja Arabella, adik lo udah mati. Dan lo sekarang punya adik perempuan bernama Sabrina bukan Arabella."
"Kalo lo mati. Harusnya Bunda masih ada disini. Bunda yang harusnya masih hidup. Bukan lo."

Ara terdiam kaku. Terkejut dengan apa yang Langit ucapkan. Pun dengan Langit yang langsung terdiam.

Kata-kata itu seperti kembali menyadarkan Ara. Jika Langit membencinya karena sang Bunda. Benar. Harusnya Ara saja yang mati saat itu.

Ara hanya bisa menatap Langit dengan sorot mata kosong. Lalu ia berjalan melewati Langit begitu saja tanpa mengatakan apa-apa.

"Mulut lo udah keterlaluan. "

Bugh!

Satu pukulan keras Angkasa layangkan pada pipi kiri Langit membuat cowok itu mundur bahkan hampir jatuh tersungkur.

Angkasa marah dengan ucapan Langit tadi. Sepertinya ia harus memberi pelajaran kepada kembarannya yang sudah sangat kurang ajar. Angkasa bahkan merasa tak sudi memanggil Langit sebagai kembarannya.

"Apa ...."

Angkasa tak memberi kesempatan untuk Langit berbicara bahkan terus memukulnya.

Queen ArabellaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang