Happy Reading.....
.
.
.
.
.
.
"Lepaskan! Aku ingin membunuh anak kurang ajar itu!”
Arini masih tetap memberontak sambil terus berteriak seperti orang kesetanan. Kedua petugas polisi menyeretnya keluar ruang persidangan untuk nanti di bawa lansung ke penjara.
Sorak ramai suara wartawan sudah menunggu di luar. Padahal tadi sebelum sidang di mulai tidak ada satupun wartawan yang ikut serta. Kasus ini bahkan sengaja dibuat tertutup.
Segerombol wartawan dari berbagai media swasta ataupun nasional berbondong-bondong menghampiri Arini yang di bawa oleh petugas.
Kilatan kamera, mikrofon yang terus tersodor kearahnya dengan berbagai pertanyaan dari wartawan membuat Arini menundukan wajahnya.
“Bu Arini, benar anda membunuh bu Amara karena dendam pribadi?”
“Tolong beri komentarnya, bu.’’
Dibelakang sana, Sabrina juga ikut mendapat beberapa pertanyaan dari wartawan. Namun gadis itu bungkam. Menunduk dengan rasa takut. Semua orang menyorot kearahnya dengan kamera.
“Sabrina, apa benar kamu merencanakan penyiksaan terhadap Arabella bersama ibumu.”
“Wajah kamu terlihat begitu sangat polos tapi sudah berbuat kriminal di usia remaja. Sungguh sangat menipu banyak orang.”
“Sabrina, apa kamu menyesal telah menculik Arabella, sepupu kamu sendiri?”
Komentar-komentar itu terus terngiang di kepala Sabrina. Ia mendongak sedikit, jepretan kamera langsung menangkap wajahnya. Wajahnya pucat, bibirnya bergetar hebat. Satu air mata jatuh dari matanya, namun ia tetap bungkam.
Para petugas mencoba menahan kerumunan. Mereka tidak akan mengira jika para reporter dengan cepat mendapat informasi ini entah dari siapa. Mereka kewalahan, bahkan tak sedikit orang-orang disana ingin menyerbu Arini dan Sabrina yang di lindungi petugas.
Nyatanya kasus mereka sudah menyebar luas di media social. Video perundungan Arabella yang di lakukan Sabrina dan rekaman penyiksaan di rumah gadis itu. Semua orang sudah melihat dan marah pada perlakuan tak beradab ibu dan anak itu. Bahkan beberapa komunitas Masyarakat ikut hadir. Semuanya sangat di luar dugaan.
Beberapa video sengaja di unggah oleh pihak anonim di internet. Dan menyebar dengan begitu cepat hingga mencapai ratusan ribu penonton, dan puluhan ribu jumlah suka serta saling terbagi kebeberapa media sosial lain. Sebab itu, saat ini kerumunan di depan persidangan begitu banyak.
“DASAR MONSTER!”
’’JANGAN BERI PENGAMPUNAN UNTUK ORANG YANG MENGHANCURKAN HIDUP GADIS LAIN.’’
“MATI SAJA KALIAN!”
Semuanya sangat tak terkendali. Mereka saling mendorong. Bahkan ada beberapa orang yang melemparkan telur kearah Sabrina dan Arini.
Petugas tidak bisa menahan kemarahan dari Masyarakat. Mereka kewalahan.
Sabrina mengusap wajahnya yang terkena lemparan telur. Hampir mengenai sekujur tubuhnya. Tangannya bergetar kencang. Bau amis, suara cacian dan hinaan semuanya masuk ketelinganya. Sabrina tak tahan. Gadis itu hanya menangis dalam diam.
Ketika petugas menyeretnya dengan paksa untuk segera masuk ke dalam mobil polisi. Sabrina hanya bisa pasrah.
Disisi lain, ibunya dibawa dimobil yang lain. Keadaan Arini pun tak jauh mengenaskan dari Sabrina. Keduanya mendapat kencaman dari Masyarakat. Hingga mobil yang mereka tumpangi pun tak lolos dari lemparan telur oleh orang-orang.
Jauh dari sana, Sabrina melihat Arabella keluar dari pintu persidangan dengan dikawal oleh para petugas bahkan pengawal pribadi serta ketiga kakaknya yang menghadang pada wartawan yang mendekat. Gadis itu bahkan tak terjangkau sedikit pun. Perbedaan keduanya begitu sangat jauh.
Arabella berjalan keluar tanpa hambatan. Gadis itu seperti bersinar diantara kerumunan orang-orang. Tak sengaja kedua mata mereka saling bertatapan. Arabella hanya memandangnya lurus tanpa ekpesi. Sabrina tersenyum kecut.
Nyatanya Sabrina dan Arabella tidak akan pernah setara. Yang bukan miliknya tidak akan pernah menjadi miliknya. Sabrina hanya terlalu serakah menginginkan milik Arabella, hingga akhirnya dirinya sendirilah yang jatuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Queen Arabella
Teen FictionHidup kembali setelah kematian membuat Alissa Queena Arabella tidak menginginkan lagi cinta dari siapapun. Tujuan hidupnnya telah berubah setelah rasa sakit dari orang-orang yang dia sayangi menjadi rasa benci dan dendam. Arabella tidak akan menyian...
