Happy Reading....
.
.
.
.
.
.
.....
"Ara!” seru Angkasa panik saat merasakan berat tubuh adiknya runtuh dalam pelukannya.
Erlangga refleks membantu menahan tubuh Ara yang kini tak sadarkan diri. Napasnya dangkal, wajahnya pucat, dan tubuhnya dingin—efek dari syok hebat yang menumpuk sejak ia diculik.
“Bawa Ara ke rumah sakit sekarang!” Sagara memberi perintah dengan tegas.
Angkasa dengan cepat menggendong tubuh tak berdaya Ara keluar dari sana di ikuti oleh Erlangga dan juga Erlio.
Sagara menghela napas kasar. Emosinya terpancar jelas di wajahnya—wajah yang biasanya tenang itu, kini penuh dengan kemarahan, penyesalan, dan rasa bersalah yang tak mampu ia sembunyikan.
Sementara itu, Novi yang menyaksikan lansung kejadian tersebut ikut di buat sakit hati melihat bagaimana hancurnya Arabella yang diibuat hilang kendali. Gadis berambut pendek itu berjalan tergesa menghampiri Sabrina yang sudah diamankan oleh kedua polisi.
Plakkk
“ Lo memang benar-bener gak tahu diri!” Novi menunjuk-nunjuk wajah Sabrina dengan wajah marah.
“Membusuklah lo di penjara!”
“Sialan! Siapa lo berani ngancam gue!” Sabrina membalas dengan kesal.
“Diam. Tutup mulut busuk lo itu.”
“ Tolong bawa sampah ini pergi, pak. Saya takut muntah liat dia lama-lama.” Ucap Novi pada kedua polisi. Ia bahkan tak ingin repot-repot adu mulut dengan Sabrina.
Sabrina memberontak protes. Tapi Sabrina tetap diseret pergi, tubuhnya limbung tapi matanya masih menyala dengan kebencian yang belum padam. Dia terus meracau dan berteriak kearah Novi bahkan kepada Langit yang hanya bisa diam menyakiskan.
Novi menutup wajahnya. Ia menangis pelan. Nafasnya tersendat. Ia iba dengan apa yang terjadi pada Ara. Novi juga merasa bersalah. Seharusnya tadi siang mereka pulang bersama dengan Arabella bukan malah meninggalkannya untuk pulang sendirian.
“Maafin gue, ra.” Ia bergumam kecil.
“itu bukan salah kamu. Tapi terimakasih sudah memberi tahu kami dimana keberadaan Ara. ” tiba-tiba sebuah jaket terpasang di tubuhnya
Novi mendongak ketika merasakan sesuatu menyelimuti bahunya. Sebuah jas—hangat dan wangi, disampirkan secara hati-hati oleh pria yang berdiri di hadapannya.
Refleks, ia berkedip beberapa kali. Matanya naik perlahan, mengamati wajah pria itu—tajam, dewasa, tapi ada kelelahan dalam matanya yang dalam.
Ia baru sadar… ini pasti Sagara, kakak tertua Arabella. Sosok yang selama ini hanya disebut sekilas, namun tak pernah benar-benar ia ketahui bagaimana rupanya.
“Terima kasih,” gumam Novi pelan, suaranya hampir tak terdengar karena gugup. Wajahnya memerah sedikit tanpa ia sadari.
Sagara hanya mengangguk. Tapi tanpa menatap langsung, ia berkata, “Kamu sahabatnya Ara, kan?”
“Iya…” Novi mengangguk cepat.
Sagara akhirnya menoleh, ekspresinya tetap datar tapi ada sedikit tarikan di ujung bibirnya. Hampir seperti senyum.
“Ara beruntung bisa punya sahabat sebaik kamu.” Ucapan itu seperti sebuah bisikan. Bahkan Novi tak bisa mendengarnya dengan jelas.
“Hah?” Novi mengerutkan alis dengan wajah bingung.
“Mari susul Ara ke rumah sakit.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Queen Arabella
Ficção AdolescenteHidup kembali setelah kematian membuat Alissa Queena Arabella tidak menginginkan lagi cinta dari siapapun. Tujuan hidupnnya telah berubah setelah rasa sakit dari orang-orang yang dia sayangi menjadi rasa benci dan dendam. Arabella tidak akan menyian...
