40

8.6K 300 27
                                        

Happy Reading.....

.
.
.
....


Bacanya pelan-pelan aja ya, agar feel nya lebih keras. Hehehe





....




Ruangan sel itu hanya muat dua orang. Dindingnya dingin, kasurnya tipis dan hanya ada satu jendela kecil lebih tepatnya sebuah pentilasi udara.

Sabrina baru dua minggu disana. Teman satu selnya – Dita – sudah satu tahun mendekam. Dia berusia tujuh belas tahun. Tampangnya tegas. Sorot matanya tajam. Semua anak tahanan lainnya takut padanya. Biasa dikatakan Dita adalah sang penguasa.

Sayangnya, Sabrina harus satu sel dengan Dita. Hari-hari Sabrina di lewati dengan penuh tekanan dan siksaan. Semuanya seperti neraka baginya.

Disuatu malam yang terasa dingin. Sabrina meringkuk sendirian diatas ranjangnya. Ruangan itu sangat gelap, semua lampu padam. Saat suasana sunyi itu, Sabrina mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke kasurnya.

“Gadis kaya, pasti enak ya tdidur di kasur empuk sebelumnya. ” Suara Dita terdegar pelan.

Sabrina terdiam dibalik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Dita dengan kasar menyibakan selimut itu hingga membuat tubuh Sabrina bergetar ketakutan. Sabrina tak berani menoleh.

“Lo cantik. Kulit lo bersih dan mulus. Pasti perawatan lo sangatlah mahal.” Dita mengelus tangan Sabrina seringai bulu. Sabrina merinding di buatnya.

Sabrina bangkit perlahan. Tubuhnya merapat ke tembok.

Please, jangan ganggu gue. Gue cuma mau tidur.” Ucapnya gugup.

“Tidur ya?’’ Dita mendekat sedikit.

“Gue gak izinin lo buat tidur sekarang.” Tiba-tiba saja, Dita menarik rambut Sabrina dengan kasar. Menyeretnya hingga jatuh dari atas ranjang.

Sabrina meringis kesakitan. Tapi ia tidak bisa melawan. Karena jika sekali saja ia melawan, Dita akan lebih menyiksanya lebih ganas.

Sabrina tersungkur diatas lantai. Dita duduk diatas ranjang dengan satu kaki menyilang. Memberi kesan intimidasi yang kuat pada Sabrina.

“Tolong pijitin kaki gue ya, Sab.’’ Nada bicaranya terdengar ringan namun tanpa bantahan.

Sabrina mendongak dengan wajah  kuyu. Dia sangat tak berdaya dan menyedihkan.

“Gue mau istirahat. Tolong, Dita. Gue mohon.” Sabrina nyaris berbisik. Suaranya serak, tubuhnya bergetar. Ia menatap langit-langit, tak sanggup menatap Dita.

Sabrina tak pernah tidur tenang selama datang kesini, dan sekarang tubuhnya merasa benar-benar lelah. Ia hanya ingin istirahat.

Dita berdecak, tak puas. “Padahal gue udah minta baik-baik lho.” Lalu –

Sebelah kaki Dita sengaja menginjak ke jari-jari Sabrina dengan kencang. Sabrina menjerit kesakitan. Tak sampai disitu. Dita juga kembali menjambak rambut Sabrina hingga membuatnya tubuhnya terangkat paksa.

“Lihat gue kalau gue lagi ngomong!”

Kedua mata mereka saling bertatapan. Dita menyorotnya dengan tajam. Mata Sabrina memerah menahan sakit. Tatapannya kosong. Bibirnya pecah dan kering.

“Lo hanya perlu nurut dengan apa yang gue suruh. Paham?”

Sabrina langsung mengganguk patuh tanpa bantahan. Tak ingin Dita menyiksanya lebih jauh.

Dita tertawa puas. “Bersikaplah seperti anjing penurut.”

************



Sabrina mulai menangis tanpa suara. Airmatanya jatuh tanpa henti, tubuhnya kesakitan. Namun bukan itu yang membuatnya putus asa. Disini bukanlah penjara. Melainkan sebuah neraka baginya. Sabrina ingin segera bebas. Ia tak ingin tersiksa lebih lama.

Namun siapa yang akan menolongnya? Siapa yang sudi mengulurkan tangannya pada seorang yang keji seperti dirinya. Sabrina tidak punya siapa-siapa. Bahkan Ibunya yang selalu mendukungnya itu juga sama tak berdayanya seperti dia.


Mereka mendapat karma atas perbuatan mereka.



Sabrina duduk dilantai sel. Tubuhnya bergetar karena hawa yang dingin. Pikirannya di penuhi oleh suara-suara yang terus berputar.



Sabrina sayang, ibu akan lalukan apapun untuk kebahagian kamu. Sabrina anak yang baik.”

“Dasar wajah polos penuh kepalsuan!’’

‘’Lo kalah … Sabrina.’’

‘’Mati saj sana!’

“Jangan pernah panggil gue kakak dengan wajah busuk lo itu.”

“Jadilah anjing penurut.’’


Sabrina menjerit keras, mecoba mengusir suara-suara itu di kepalanya.

‘’Berhenti! Jangan ganggu gue!’’ Dia menjerit histeris.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 30, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Queen ArabellaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang