Gemercik air dari langit turun dengan perlahan, membiarkan tanah dari bumi menerimanya dengan lapang dada.
Vivi mendongak melihat langit yang menampakan warna abu, lalu tertunduk menatap gundukan tanah di bawah sana.
Ia tersenyum tipis, kedua tangan yang berada di dalam saku celananya meremas kuat furing didalam sana.
Wajahnya tampak tenang tanpa menunjukan ekspresi apapun. Ia menaburkan bunga yang ia bawa.
Bukan bunga berwarna merah atau pun putih, melainkan berwarna kuning cerah.
Calendula, bunga berwarna kuning yang menafsirkan cinta yang tak pernah mati.
Setelah dirasa cukup, ia berjongkok dan mengusap pelan batu nisan itu.
Ukiran nama yang masih tampak jelas meski sudah usang.
'Tanumihardja'
Nama belakang nya yang terpampang diatas nisan itu, ia tersenyum kecut melihatnya.
Matanya melirik pada nisan di sebelahnya.
'Parikesit'
Nama yang tidak kalah kuat.
Ia tersenyum kecut menatap kedua nisan itu, bibirnya sedikit bergetar saat ia berusaha membuka mulutnya.
"Apa surga disana lebih indah dari pada di sini?" Tanya Vivi pelan
"Aku masih ingat, terakhir kali melihat wajah kalian. Bukan, bukan wajah yang tiap saat aku bangun tidur lihat. Tapi, wajah yang bengkak dan membiru digerogoti air"
Ia mengusap pelan air mata yang hendak turun dari pelupuk matanya.
"Aku benci mengingatnya"
Vivi terkekeh usai mengucap kalimat itu.
Jari jemari terasa mengusap bahunya, ia mendongak menatap menusia bermata cokelat yang sedang memayunginya agar tidak terkena bulir air yang kian semakin deras.
"Ini Yessica, dia perempuan sama kaya aku"
Vivi meraih tangan Chika diatas bahunya membawa jari jemari itu menangkup pipinya.
"Aku mencintainya, maaf jika aku menentang norma"
Chika ikut berjongkok, menjajarkan dirinya disamping Vivi.
"Aku sudah terpuruk selama beberapa tahun, kali ini aku boleh kan egois?"
Chika mengusap air mata Vivi yang mengalir, ia menempelkan kepalanya pada kepala Vivi. Bersandar sambil menggenggam jari jemari Vivi seakan memberikan kekuatan.
"Izinin aku untuk bahagia ya Ma, Pa?"
Vivi berdiri, usai mengecup singkat nisan kedua orang tuanya.
Kini giliran Chika mendekat pada batu nisan itu, ia menoleh saat melihat Vivi berjalan menjauh meninggalkannya sendiri.
"Om dan tante tau? anak kalian adalah manusia paling manis yang aku temui. Wajahnya, senyumnya, tawanya, ucapannya dan tentu bibirnya"
Chika terkekeh usai mengucapkan kata terakhir dari ucapannya.
"Vio Nna manusia yang gigih dan berhati lembut. Tentu aku tau hal itu turunan siapa, tapi disini aku ingin berterima kasih karena telah menciptakan seorang anak seperti dia"
Chika tersenyum, dengan pelan ia menaburkan bunga mawar merah pada makam itu.
"Aku mencintainya, izinkan aku menjaganya ya? kali ini aku ga akan nyakitin dia sedikitpun, maaf jika aku pernah menghancurkan tubuhnya yang rapuh kala itu"
