Rintik putih turun dengan lembut, membuat Chika menadahkan tangan membiarkan salju menyapa lembut permukaan kulit telapak tangannya.
Sang surya yang sudah tertidur membuat gelap malam semakin dingin, gigi nya yang mulai gemertak pun tak ia hiraukan.
Sunyi, hanya ada bunyi beberapa mobil yang masih berlalu lalang membuat dirinya semakin tenggelam dalam renungan.
Seseorang tampak meletakan bokongnya di sebelahnya, membuat Chika menoleh.
Vio Nna.
Siapa lagi jika bukan dia?
Chika kembali menatap lurus kedepan memperhatikan hujan salju yang turun dengan lembut.
Lama terjebak dalam lamunan, Vivi pun berdiri di hadapan Chika dan mengulurkan tangannya.
Chika menatap bingung telapak tangan Vivi yang berasa di depannya.
Vivi tersenyum tipis saat tak lama Chika menyambut uluran tangannya. Ia membawa Chika menuju tengah taman dan menggerakan tangan nya ke kanan dan kiri. Sebut aja itu sebuah dansa.
Lembut, mereka berdansa dengan lembut dan perlahan.
Chika hanya mengikuti gerakan yang Vivi berikan.
"Memori itu terkadang memang lebih kejam dari pikiran manusia" Ucap Vivi dengan lembut membuat Chika menatapnya intens di sela mereka berdansa
"Aku sendiri sering terjebak dalam memori yang tiba-tiba berputar sendiri tanpa di minta, di dalam isi kepala ku" Lanjut Vivi sedangkan Chika masih terdiam
"Rasanya menyebalkan, ada senang tapi dengan cepat langsung berganti sedih"
Vivi terkekeh pelan mengingat hal itu. Ia menatap balik manik mata Chika yang masih senantiasa menatapnya.
"Aku gatau memori apa yang berputar secara tiba-tiba di dalam isi kepalamu, tapi yang bisa ku tebak itu sebuah memori yang buruk. Aku tau kamu perlu waktu sendiri untuk menetralisir rasa menyebalkan di hati kamu, tapi jangan berlarut-larut karena kamu butuh seseorang untuk melampiaskan itu. Libatkan aku ya?"
Vivi menghentikan gerakan yang tubuhnya lakukan, lalu tersenyum simpul dan mengusap lembut puncak kepala Chika.
Ia berbalik dengan menggenggam jari jemari Chika, berniat pergi.
Chika menahan tarikan tangan Vivi membuat Vivi menoleh dan melihat Chika yang sedang terdiam dengan kedua mata yang tampak berkaca-kaca.
"Aku gatau, rasa nya aneh di dalam sini" Tunjuk Chika pada bagian hati di dadanya
"Setiap kali memori masa SMA kita muncul, aku selalu ngerasa bersalah dan marah dengan diri sendiri. Rasanya bener-bener aneh, disaat dulu aku bisa se-tega itu untuk nyakitin hati kamu tapi tiap memori itu muncul aku marah. Aku marah kak" Lirih Chika di penghujung kalimatnya
"Aku benci kalo keingat hal itu, rasanya aku mau menghilang"
"Hei ga boleh gitu" Ucap Vivi lalu berusaha menenangkan Chika sedangkan Chika kian mundur saat Vivi berusaha mendekat
"Aku benci kak, aku benci sama diri ku sendiri. AKU BENCI!"
Vivi meraih tubuh Chika dan mendekapnya dengan erat, membiar kan gadis itu menumpahkan segalanya dalam pelukannya.
"Aku selalu berusaha menyangkal segala perasaanku saat itu, tapi entah kenapa semakin aku menyangkal justru semakin membuatku jadi jahat, aku benci diri ku kak" Ucap Chika disela tangisannya
"Jangan ngomong gitu, udah ya kita pulang dulu kayanya bentar lagi bakal badai salju" Balas Vivi sembari mengusap lembut punggung Chika dan menatap langit malam yang tampak semakin cepat menurunkan salju
