Zoya duduk disofa balkon sambil memeluk dirinya dengan bibir pucat dan melamun, Zoya masih terbayang-bayang dengan mayat-mayat yang dipenuhi darah beberapa hari lalu dan tidak berani keluar dari kamarnya semenjak penculikan tragis itu. Jika Zoya keluar maka itu semakin membuat Zoya terbayang-bayang dengan nyata.
"Zoya."
"Siapa?!" Kaget Zoya panik saat tiba-tiba suara memanggil namanya dan melihat itu adalah Derion.
"Ini aku." Ucap Derion lalu berjongkok didepan Zoya yang mulai tenang.
"Kau harus makan." Ucap Derion lembut, Derion tau Zoya trauma dengan kejadian itu bahkan jam tidur Zoya tidak teratur karena sering memimpikan kejadian itu.
Zoya menggeleng. "Aku tidak lapar."
"Tapi bayi kita butuh makan." Ucap Derion mengusap perut Zoya yang sedikit membuncit membuat Zoya diam.
Zoya menangis memeluk Derion erat membuat Derion bungkam, Derion mengusap punggung Zoya yang gemetar. Derion tidak suka melihat Zoya seperti ini apalagi Zoya sedang mengandung darah dagingnya, Derion tidak ingin sampai Zoya kenapa-kenapa begitu juga dengan kandungannya.
"Derion bawa pergi aku dari sini, aku tidak ingin tinggal disini. Mereka terus menghantuiku, aku tidak ingin tinggal disini." Ucap Zoya gemetar dengan tangisan frustasi.
"Baiklah, besok kita pindah dari sini dan aku akan buat kamu melupakan kejadian itu." Ucap Derion lalu melepaskan pelukan Zoya dan mengusap air mata Zoya.
"Jangan menangis, aku akan membawamu pergi dari sini agar kau tenang. Tapi kau harus makan dulu, aku tidak mau aku kenapa-kenapa sama bayi kiya."
Zoya mengangguk membuat Derion tersenyum lalu mengambil makanannya dan menyuapi Zoya dengan dengan perlahan, Derion terus memandangi Zoya yang diam sambil memakan makanannya.
Derion merasa lega Zoya bisa ia bujuk agar mau makan, melihat Zoya yang sulit makan akhir-akhir ini karena masih trauma dengan kejadian itu. Hal itu membuat Derion cukup geram dengan Freya yang membuat Zoya trauma, kali ini Derion tidak akan membiarkan Freya menyentuh Zoya lagi. Derion akan mencari tempat tinggal sementara agar Zoya bisa menenangkan pikirannya.
"Aku sudah kenyang." Ucap Zoya menggeleng saat Derion menyodorkan garpu yang terdapat potongan roti.
"Kau baru makan 4 suap, sayang." Ucap Derion.
"Tapi aku sudah kenyang, aku tidak mau makan lagi." Ucap Zoya tetap menolak.
Derion mendesah meletakkan piring itu dan mengambil sebutir pil dan air minum. "Kalau begitu minum vitaminmu."
Zoya mengangguk lalu meminum pil itu. "Aku ingin tidur."
Derion mengangguk lalu mulai menggendong Zoya menuju kasur dan membaringkan Zoya disana, Derion langsung berbaring disamping Zoya dan memeluk Zoya. Derion mengusapnya kepala Zoya yang memeluknya dan menenggelamkan wajahnya dileher Derion, Derion cemas jika kandungan Zoya kenapa-kenapa dan itu menyakiti Zoya.
"Kau berjanji membawaku pergi dari sini kan?" Tanya Zoya lagi.
"Hm, aku akan membawamu pergi dari sini agar kau tenang."
"Kenapa aku tidak bisa melupakan itu, genangan darah itu terus memutari pikiranku Derion. Aku harus bagaimana biar itu pergi dari pikiranku?"
Derion melepaskan pelukannya mengusap pipi Zoya. "Tunggu sebentar, ada yang ingin aku tunjukkan padamu."
Derion beranjak dari kasur lalu membuka laci paling bawah dan ngambil buku besar dan tebal dari laci, lalu Derion kembali lagi berbaring dikasur menyuruh Zoya berdasar didadanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESSION
Teen Fiction"Aku ingin sekali mengurungnya, menciumnya, menjilatnya, membuatnya mendesah dibawahku dan menyebut namaku, dia milikku." -Derion Mervis-
