Herlina mengobati luka Bianca sementara Derion masih menemani Zoya yang masih pingsan, Herlina mengabati luka Bianca dengan menjahitnya karena luka ini cukup lebar. Bianca hanya mengeratkan rahangnya dan mencengkram roknya kuat menahan rasa sakitnya.
"Selesai." Ucap Herlina selesai menjahit luka Bianca.
"Kenapa dia tiba-tiba menyerangku?... tatapan matanya sangat dingin tanpa perasaan seperti kerasukan, dia hampir membunuhku itu membuatku takut." Ucap Bianca mengingat sikap Zoya yang berubah drastis bahkan tatapan Zoya yang sangat dingin.
"Dia hanya hilang kendali." Ucap Herlina menutup luka Bianca dengan kasa.
"Hilang kendali?... apa maksudnya?" Tanya Bianca tak mengerti.
"Dia memiliki sisi lain yang berbahaya, bukan alter ego. Sisi lain itu akan tiba-tiba datang tanpa diduga, sudah banyak orang yang mati ditangan Zoya sebab itu. Namun setelah melakukan itu, dia tidak akan ingat apa yang baru saja dia lakukan, seolah hal itu tidak terjadi. Itu penyakit mental yang dialami Zoya." Ucap Herlina melepaskan sarung tangannya dan membereskan peralatan medis.
Mendengar itu Bianca terdiam membisu tidak menyangka Zoya memiliki penyakit mental yang berbahaya, pantas saja Derion tidak ingin mempekerjakan pembantu dirumah ini sebab penyakit Zoya. Bianca mendesah beruntung Derion segera datang karena teriakannya, kalau tidak dirinya sudah mati saat itu.
"Untung saja Derion cepat datang tadi." Desah Bianca lega.
Disisi lain Derion duduk disampainh Zoya menggenggam tangan Zoya dengan pandangannya tak pernah lepas dari Zoya, Derion mengeratkan rahangnya penyakit mental Zoya kembali. Derion mendesah lalu berdiri keluar dari kamar ini, saat didepan pintu kamar Derion menutup pintunya.
"Ken!" Panggil Derion kencang dan tak lama Ken datang.
"Iya Tuan?"
"Suruh mereka bubar dan jangan biarkan mereka buka suara soal ini, mengerti?" Pintah Derion tegas pada Ken.
"Baik Tuan." Ucap Ken langsung menujuh belakang rumah dimana para crew fotografer itu menunggu, Derion kembali masuk dan menemani Zoya lagi.
Tak lama Zoya sadar dan melihat dirinya ada dikamar dengan Derion yang menemaninya, Zoya meringis memegang kepalanya yang terasa pusing. Bingung kenapa ia ada dikamar, bukankah dia sudah berganti pakaian dibantu oleh Bianca. Apa mungkin dia pingsan?
"Kenapa aku disini?" Tanya Zoya lirih lalu mencoba bangun dan dibantu oleh Derion.
"Kau tiba-tiba pingsan." Ucap Derion mengusap kepala Zoya, Zoya melihat Derion kaget.
"Lalu bagimana foto tadi?" Tanya Zoya langsung.
"Mereka sudah pulang, mereka memiliki janji sama orang lain. Kata mereka foto-foto kita akan dikirin dalam tiga hari." Ucap Derion berbohong.
Zoya mendesah kecewa foto ini gagal karena dirinya pingsan tiba-tiba, padahal ini yang diingin kan Zoya untuk memiliki foto keluarga. Semuanya kacau, tidak seperti apa yang diharapkan. Kenapa dirinya harus pingsan, kalau ia tidak ceroboh pasti iya sudah mendapatkan foto keluarga yang tak pernah ia miliki.
"Aku mengacaukannya lagi." Ucap Zoya mengusap wajahnya kasar.
Derion mengusap kepala Zoya lalu memeluknya. "Jangan sedih, kita bisa foto bersama lagi saat kondisimu membaik."
"Bagaiman Papa dan Mama? Apa mereka sudah datang?" Tanya Zoya melepaskan pelukan Derion.
Derion mengangguk. "Mereka datang saat kau baru pingsan."
"Mereka pasti kesal padaku, padahal aku yang mengajak mereka foto bersama tapi aku yang mengacaukannya." Desah Zoya.
"Mereka tidak marah, mereka malah mencemaskanmu." Ucap Derion menoel hidung Zoya.
KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESSION
Fiksi Remaja"Aku ingin sekali mengurungnya, menciumnya, menjilatnya, membuatnya mendesah dibawahku dan menyebut namaku, dia milikku." -Derion Mervis-
