"ini siapa?"
Derion melihat foto yang ditunjuk oleh Zoya, Derion mengepalkan tangannya lalu mendesah mencium puncak kepala Zoya membuat Zoya mengerutkan dahinya melihat ekspresi Derion yang tampak berubah.
"Kalau kau tidak mau mengatakannya tidak apa-apa." Ucap Zoya mungkin Derion tidak ingin membicarakannya karna mungkin Derion memiliki kenangan buruk dengan gadis kecil ini dulu.
"Dia Danira." Ucap Derion membuat Zoya menatap Derion yang menatap sedih foto ini.
"Are you okay?" Lembut Zoya mengusap pupi Derion.
"I'm okay." Ucap Derion memberi kecupan ditalapak tangan Zoya.
"Sayang kalau kau tidak mau cerita tidak apa-apa, aku tidak memaksa—"
"Tidak, kau harus tau." Sela Derion membuat Zoya diam membiarkan Derion menceritakan siapa gadis kecil ini.
"Danira Adik terakhir aku, dia sudah meninggal waktu umurnya masih 8 tahun dan aku kehilangan saudara yang aku sayangi." Ucap Derion membuat Zoya terdiam melihat Derion tampak sedih dan marah.
"Kenapa dia meninggal?" Tanya Zoya.
"Waktu itu aku dan keluargaku sedang berlibur, melihat keluargaku bahagia juga membuatku bahagia. Tak berapa lama tiba-tiba ada ratusan tembakan yang mengarah pada kita saat itu, aku, Lesya, Papa dan Mama hanya punya luka ringan tapi Danira... Dia meninggal karna salah satu tembakan itu mengenai jantung Danira." Jelas Derion membuat Zoya menutup mulutnya kaget dan mengeluarkan air matanya.
Derion menatap Zoya sayu membuat Zoya semakin deras mengeluarkan air mata, Zoya memeluk Derion membuat Derion memeluk Zoya erat.
"Aku dan keluargaku mencoba menyelamatkan Danira tapi aku tidak bisa dan itu membuat pukulan besar bagi kita." Lanjut Derion yang masih ada dipelukan Zoya.
"Maafkan aku Derion, harusnya aku tidak bertanya. Itu membuatmu mengingat semuanya, aku minta maaf." Ucap Zoya merasa bersalah sambil mengusap kepala Derion.
"Tidak, kau memang harus tau karena kau sudah menjadi bagian dari keluargaku." Ucap Derion memberi kecupan dileher Zoya.
Zoya menangis ternyata Derion sangat menyayangi keluarganya meskipun punya sifat kejam.
"Lalu siapa pelakunya?" Tanya Zoya.
"Papa sudah menemukan pelakunya dan dia sudah mendapatkan balasan yang setimpal." Ucap Derion.
Zoya melepaskan pelukannya dan menatap Derion sayu, lalu tersenyum mengusap pipi Derion membuat Derion memejamkan matanya menikmati sentuhan tangan Zoya.
"Sebagai gantinya karna aku bertanya soal ini, kau bisa melakukan apapun padaku." Ucap Zoya tersenyum membuat Derion menatap Zoya lekat.
Derion terkekeh. "Apapun?"
Zoya mengangguk sambil tersenyum membuat Derion langsung menyingkirkan buku album itu dan diletakkan dimeja lalu mendorong tubuh Zoya dan menindihi tubuhnya kemudian Derion menarik selimutnya untuk menutupi semua tubuh mereka membuat Zoya tertawa.
"Kau yang menawarkan, jadi jangan salahkan aku kalau besok kau tidak bisa bangun pagi."
***
Zoya berdiri di depan makam seseorang yang sudah diberi bunga segar bersama Derion dengan batu nisan yang bertuliskan Nama DANIRA MARVIS, dengan menggunakan baju serba hitam Derion mengajak Zoya ke makam Danira setelah mendengarkan cerita Derion.
"Danira, aku Kakak Iparmu dan didalam perutku ini keponakanmu Derion yang membuatnya. Kau pasti senang mendengarnya kalau kau akan memiliki keponakan baru." Ucap Zoya tersenyum mengusap perutnya membuat Derion ikut tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESSION
Fiksi Remaja"Aku ingin sekali mengurungnya, menciumnya, menjilatnya, membuatnya mendesah dibawahku dan menyebut namaku, dia milikku." -Derion Mervis-
