20. Intogasi

658 69 7
                                        

Disinilah keempatnya sekarang, berkumpul di meja makan dapur. Keempatnya memutuskan untuk berbicara dan tidak jadi masuk kedalam kamar masing-masing. Baik Mike maupun Roila memang membutuhkan penjelasan dari dua orang dihadapannya ini yang terlihat gugup.

Roila masih menatap Devan dan Yuriko secara bergantian dengan kurang ramah. Devan meringis saat tidak sengaja bertatap pandang dengannya. "Udah dong la, itu mata lu kaya mau keluar tau melotot terus ngeliatin kita." Devan angkat bicara.

"Sejak kapan?" Mike mengambil alih pertanyaan, ketiganya langsung menoleh.

"Kita gak maksud diem-diem kok. Cuma emang waktunya yang gak pas buat kita ngasih tau kalian, terus kalian tau sendiri anak kost gimana."

Mike menghela nafas. "Gue gak akan nyalahin keputusan kalian yang backstreet, itu hak kalian. Tapi gue gak membenarkan tindakan gak senonoh kalian di area kost ini. Kalian lupa disini banyak cctv?"

"Kita gak bertindak senonoh ya!" Yuriko menyela tidak terima.

"Tapi kalian ciuman." Roila berkata dengan innoncent.

"Kalian salah paham, itu kalian liat di tangga dan jaraknya juga agak jauh kan? Gue cuma ngepuk-puk Yuriko, gak ciuman. Mungkin dari angle kalian keliatannya kaya orang ciuman. Gue gak berani senekat itu. Lagi pula gue gak berniat di usir dari kost dan cari kost baru." Devan menejelaskan panjang lebar.

Roila mengangguk. "Asal kalian tau, cowok gue lebih dulu ngasih tau kalo katanya kalian pacaran. Tapi gue bilang aneh banget dan gak percaya. Ternyata cowok gue bener."

"Bang Jehan? Kok dia bisa tau?"

Roila mengedikan bahunya. "Intinya dia pernah ngegep kalian berdua jalan gitu katanya."

"Kalian jangan bocor dulu ya? Biarin gue sama Devan yang bilang nanti pelan-pelan." Yuriko kembali berbicara.

"Aman aja gue mah." Roila berkata santai. Devan dan Yuriko kompak menoleh kearah Mike. Dan Mike hanya mengangguk. "Iya, gue bakal tutup mulut."

Devan dan Yuriko tersenyum secara bersamaan. "Thank you, untung yang ngegep kita berdua kalian. Gue gak kebayang kalo yang ngegep si Bimo. Mungkin satu dunia langsung tau." Yuriko bergidig ngeri hanya dengan membayangkannya saja.

"Lagian gue gak paham, kalian mau backstreat tapi begituan di kost. Ketauan lah!" Roila berkata sembari menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.

"Bahasa lu apa banget! Begituan begituan!" Yuriko melemparkan bekas yupi yang dicamili selama mereka berbicara disini.

Roila hanya tersenyum cengegesan.

"Gue kira kost sepi, soalnya kan anak teknik lagi pada makrab tuh terus beberapa juga ada yang balik ke rumahnya. Gue kira gue bisa lebih leluasa, gue lupa asa Mike sama elu yang suka kebangun tengah malem." Devan kembali menjelaskan.

Mike hanya menggelengkan kepalanya, pemuda itu melirik jam dingding yang mengarahkan jarumnya hampir pukul tiga. Pemuda itu bangkit terdahulu, "Udah mau subuh, tidur aja yok."

Devan mengangguk. Pemuda itu langsung menatap Yuriko dengan tatapan lembut. "Kamu jangan lupa bersih-bersih dulu, tapi jangan mandi soalnya udah malem. Selamat bobo sayang, besok kita berangkat ke kampus bareng ya."

Yuriko mengangguk. "Besok aku masak sarapan buat kita, mau aku buatin bekel sekalian juga? Nanti kita makan pas disela-sela sebelum masuk matkul pak Ari."

Devan tersenyum anstusias. "Boleh banget,"

Roila menatap keduanya dengan bergidig ngeri, kepalanya refleks menoleh kearah Mike yang terlihat biasa saja. "Lu gak eneg liatnya?"

ninenty-seven kostStories to obsess over. Discover now