24. Remaja

558 63 11
                                        

"Ay kamu marah ya sama aku?"

Saat ini Yuriko tanpa henti mengekori kekasihnya yang sedang membuat sarapan. Di dapur ini hanya ada mereka berdua, setelah insiden kabur ke club malam lusa lalu, Devan masih mendiamkannya sampai sekarang.

Aksi mereka memang ketahuan karena Jehan yang membocorkannya, mau tidak mau para gadis penghuni kost itu di sidang lebih dari tiga jam oleh Mike, Mirta, dan Jayden.

"Kamu pikir aja sendiri."

Jawaban yang cukup ketus, hal yang membuat Yuriko langsung saja mengerucutkan bibirnya dengan sedih. "Gitu banget jawabnya, oke fine. Kamu gak sayang sama aku."

Setelahnya Yuriko memilih untuk berlalu berniat mengunci diri di kamarnya. Devan menghela nafas dengan pelan, setelah memastikan kompor mati pemuda itu bangkit menyusul Yuriko yang baru sampai tangga.

"Aku bukan gak sayang ya sama kamu, justru karena aku sayang banget sama kamu makanya aku khawatir." Devan berkata setelah berhasil membuat Yuriko menatap sepenuhnya kearahnya.

"Aku gak akan ngebatasin kamu, tapi Club malam? Seengaknya kamu ajak aku biar aku bisa pantau dan jagain kamu. Kamu tau itu bukan tempat baik-baik, orang-orang disana mungkin cuma sekitar 10% aja yang bisa berfikiran waras." Devon kembali menjelaskan.

Yuriko menatap sang kekasih dengan tatapan berkaca-kaca, dirinya tidak berfikiran sejauh itu. Yang dia pikir hanya dia juga harus setia kawan dengan menemani teman-temannya yang patah hati untuk melampiaskannya, dia tidak kepikiran kalo caranya salah.

"Maaf." Yuriko akhirnya menundukan kepalanya, menatap jemarinya yang di gengam oleh Devan. Devan sendiri langsung merentangkan lengannnya, "Sini peluk."

Dan Yuriko tidak menunggu lama untuk masuk kedalam pelukan Devan, hal yang tidak mereka sadari adalah mereka yang sedang backstreat berpelukan di tengah-tengah tangga yang siapa saja bisa melihat. Termasuk Lira yang saat ini menatap keduanya dengan tatapan aneh.

"Lu berdua, ngapain pelukan disini."

****

"Aduh sumpah hari ini kenapa panas banget sih!" Roila berkata dramatis begitu sampai di hadapan Mike. Bahkan gadis itu dengan sadar langsung merebut minuman milik Mike dan menghabiskannya hingga tandas.

"Ahhhhh, ini enak banget."

Mike hanya menatap gadis itu dengan datar. "Iya enak, soalnya gratis." Dan Roila hanya nyengir setelahnya.

Saat ini keduanya sedang ada di kantin Fakultas Teknik, bukan tanpa alasan keduanya memilih bertemu disini, karena tempat ini adalah tengah-tengah dari kelas Mike maupun Roila.

"Bukannya bang Jehan udah balik ya? Kok gak dijemput dia?" Roila yang sedang mencoba mengambil es batu dalam gelas Mike yang sudah tandas itu menoleh sekilas.

"Iya, dia lagi sibuk ngurusin apa gue gak paham. Imbas dia ngecancel projek yang di New York itu secara tiba-tiba juga."

Mike tidak bertanya lagi. "Udah kan? Balik sekarang ayo!" Mike bangkit berjalan terlebih dahulu, Roila yang sedang asyik memakan Es Batu sontak saja langsung ikut berdiri setelah menyuapkan Es Batu terakhir.

"Makan dulu dong yuk, gue laper." Roila berkata begitu langkagnya sejajar dengan Mike, Mike hanya menoleh sekilas. "Makan aja nanti di kost."

Roila langsung saja cemberut begitu mendengar jawaban dari Mike, "Kalo di kost paling kita masak indomie atau telur, ayo donggg gue tau kok lu gak ada kemana-mana lagi. Dari pada diem terus di kamar meningan kita hunting makanan, gimana ide bagus kan?" Roila masih tidak menyerah, kalau soal makanan dia tidak akan pernah berhenti memperjuangkannya.

Keduanya sampai di parkiran kampus, Mike masih tidak menjawab Roila yang mengoceh, bahkan sampai pemuda itu mengemudikan mobilnya keluar dari perkarangan kampus.

Roila bersedekap dada, Mike ini memang sangat tidak asyik, coba aja dia bisa pulang bersama Juna, Mirta, atau Jefran. Pasti mereka akan dengan senang hati mengikutinya.

Mike melirik sekilas kearah Roila. "Mau makan dimana?"

Pertanyaan yang langsung mengundang senyum bahagia dari Roila. "Asssaa!!! Ada toko bakmie yang baru buka, ayo makan kesana." Roila menjawab dengan semangat.

Mike sendiri otomatis mengerutkan keningnya, "Bakmie itu Mie kan? Apa bedanya kalo gitu sama makan Indomie di Kost." Katanya dengan sarkas. Roila sendiri hanya cengegesan dibuatnya. "Pokonya itu beda."

Dan Mike hanya bisa pasrah, dirinya malas berdebat. Lagipula dia teringat pepatah jika perempuan selalu benar, jadi ya sudahlah.

****

"Run, gue bawa cake stroberry nih. Mau langsung di makan atau gue simpen ke kulkas?"

Aruna sedang menonton film bersama dengan Jea dan Chaera saat Jayden mengetuk pintu kamarnya dan berkata demikian.

Aruna langsung bangkit dan membuka pintu kamarnya, dilihatnya Jayden berdiri sembari menenteng box yang sudah pasti isinya adalah Cake yang di maksud.

Chaera bersiul dibelakangnya. "Aruna doang nih yang lu kasih?"

Jayden sendiri hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, dirinya tidak tahu jika Aruna tidak sendiri.

"Iya cuma satu, sorry deh nanti gue pesenin lagi lewat ojol."

Aruna menggeleng. "Gue terima ya, gak usah pesen lagi karena ini juga ukurannya gak kecil. Biar gue makan bareng-bareng aja."

Jayden hanya mengangguk setelahnya berpamitan, Aruna kembali menghampiri Jea dan Chaera yang saat ini sudah duduk. Atensi ketiganya sudah tidak berfokus kepada film melainkan kepada Cake pemberian Jayden.

"Dia suka ya Run? Gelagatnya kaya cowok ngajak PDKT." Jea berkata sembari mengambil satu stroberi yang ada dalam kue.

Chaera langsung menggeleng. "Menurut gue dia kaya gitu karena masih ngerasa bersalah sama Aruna karena kejadian mantannya itu."

Aruna langsung mengangguk. "Kita sepemikiran, lagian Jayden kan emang gitu. Baik ke semua orang, makanya dulu pas masih sama Keisya tuh cewek sensi banget kan sama anak-anak kost yang cewek." Aruna menyampaikan pemikirannya.

"Iya tapi kalo dia terus-terusan begitu dia gak mikir apa kalo elu bisa baper?" Jea kembali berargumen.

"Tapi sejauh ini gue gak baper tuh." Aruna berkata dengan wajah watados sembari memakan kue yang sebelumnya sudah di potong oleh Chaera.

"Susah bahas cowok sama dia mah Je, udah tau cowok yang Aruna suka cowok gepeng semua."

Jea sontak saja langsung tertawa, tapi Chaera memang tidak salah. "Ketutupan ya kayanya secakep apapun itu cowok sama cowoknya yang gepeng itu."

Aruna langsung saja memasang wajah memelas. "Jangan bawa-bawa cowok gepeng gue dong, mereka kan diem aja daritadi."

"Lagian gue belum tertarik tuh cari cowok asli, gue males dramanya. Iya waktu butterfly era tuh kita berbunga-bunga, tapi apa kabar nanti pas part sakit hatinya? Gue gak mau dan gak bisa bayangin. Inget jatuh cinta itu sepaket antara seneng dan sedih, dan yang namanya jatuh itu gak ada yang gak sakit."  Aruna melanjutkan dengan mantap.

"Kalo tiba-tiba seminggu dari sekarang lu punya cowok, gue ketawa paling keras ya run!"

Tbc

Aloha, akuuuu balik lagi ges heheheh<3

Kangen gak? Kalo misal ini tamat di chapter 30 wdyt ges?

See uu lagi chapter depan yaa

ninenty-seven kostStories to obsess over. Discover now