27. Kissing

784 62 17
                                        

Mirta menemukan Lira duduk di bangku taman yang sepi, matanya sembab dan pipinya basah oleh air mata. Gadis itu terlihat begitu rapuh, sangat berbeda dari sosok Lira yang biasa ia kenal, yang selalu ceria dan penuh energi.

"Lir," panggil Mirta lembut sambil mendekatinya.

Lira mendongak, dan tanpa ba-bi-bu langsung memeluk Mirta erat. Tubuhnya bergetar, isakan yang sudah ditahan sejak tadi akhirnya pecah.

"Udah-udah gue disini," bisik Mirta sambil mengelus punggung Lira. "Cerita sama gue kejadiannya gimana?"

Lira melepas pelukannya, matanya merah dan berair. "Tendra, dia ninggalin gue, Ta."

"Dia bilang,.." Lira terhenti, suaranya bergetar.

"Dia bilang gue terlalu manja, terlalu bergantung sama dia. Katanya dia capek ngurus gue yang kayak anak kecil terus." Isakannya terdengar kembali. "Tapi gue kaya gitu wajar kan? Gue gitu cuma kedia doang yang notabenya cowok gue."

Mirta masih diam, membiarkan Lira untuk mengeluarkan semuanya terlebih dahulu.

"Gue bingung, Ta. Kemarin pas gue sakit demam, ada gak dia peduli? Enggak, cuma anak kost yang rawat gue. Waktu gue bilang gue sakit dia malah ngomel, bilang gue gak mandiri. Padahal tadinya gue cuma minta ditemani doang. Gue pengen dia ada waktu gue butuh dia."  Lira mengusap air matanya yang tidak mau berhenti mengalir.

"Yang paling bikin gue sakit hati disini, dia bilang, dia udah ketemu cewe lain yang lebih dewasa, cewek yang bisa ngertiin dia."

Tangisnya kembali mengencang, Mirta masih setia memeluk dan mengusap bahu Lira yang berguncang. "Gue salah apa sih? Gue kurang ngertiin dia kaya gimana? Apa ini emang salah gue? Karena dari awal terlalu ngangep serius hubungan ini sedangkan dia enggak."

"Bangsat itu cowok," desis Mirta. "Lu udah baik banget sama dia, Lir. Gapapa, bagus lu putus sama dia. Lu bisa dapet yang lebih baik daripada itu cowok. Justru bagus lu lepas dari cowok kaya gitu." Mirta berkata dengan penuh tekanan.

Dia mengerti perasaan Lira, karena dirinya juga pernah merasakan hal yang sama. Di khianati oleh orang yang disayanginya.

Lira mengangguk sambil menangis lagi. "Gue bingung. Apa gue emang gak layak buat dicintai?"

"Lu gak salah apa-apa, dan jangan ngomong kaya gitu. Banyak yang sayang kok sama lu." Mirta menarik Lira ke pelukannya lagi. "Dia aja yang bego, gak ngehargain lu."

Mereka duduk dalam diam sejenak, hanya terdengar suara Lira yang sesekali masih terisak. Angin malam bertiup pelan, membuat rambut keduanya bergerak lembut.

"Ta," Lira berbisik. "Kenapa sih gue selalu ditinggalin? Cinta pertama gue alias papa gue, sekarang Tendra juga."

"Jangan gitu Lir, bukan berarti ada yang salah sama lu. Mereka aja yang gak bisa ngehargain orang sekeren lu."

Lira mendongak menatap Mirta. "Makasih, makasih karena selalu dateng pertama disaat gue butuh seseorang."

"Gue janji akan selalu ada buat elu," Mirta memandang mata Lira yang masih berlinang air mata.

Entah karena apa, mungkin karena suasana malam yang sunyi, atau karena kedekatan mereka saat ini, Lira perlahan mendekatkan wajahnya ke Mirta. Nafas hangat mereka bersatu, jarak di antara mereka semakin menipis.

ninenty-seven kostStories to obsess over. Discover now