31. Keributan Tidak Terduga

455 52 8
                                        

"Roila gimana?"

Lira langsung saja meletakan jari telunjuknya di depan bibir, tanda mereka semua harus diam.

"Baru aja tidur, udah ayo ke bawah. Jangan ada yang di atas. Tau kan Roila ini tidurnya sensitif, denger suara sekecil apapun bisa bangun anaknya."

Lira buru-buru menggiring yang lainnya untuk turun menuju ruangan bersantai. Kebetulan hari ini semua penghuni kost sedang berada di kost, dalam kata lain mereka sedang kumpul full tim.

Setelah dua hari tidak mau pulang dan makan, Mike dan Lira akhirnya berhasil membujuk Roila untuk pulang ke kost. Gadis itu bukan robot dan perlu beristirahat, walau sempat keras kepala akhirnya gadis itu mau untuk pulang dan beristirahat. Mike juga berjanji akan mengantarkan kembali gadis itu nanti malem.

"Jangan ada yang makan ini, ini gue pisahin buat Roila." Jea berkata dengan tatapan tertuju kepada Bimo, Arjuna, dan Yasha. Ketiganya hanya menghela nafas.

"Seolah semua makanan kita yang makan." Arjuna berkata dengan wajah tertekuk.

"Bukannya iya? Kalian tuh masalahnya gak pernah bilang kalo ngambil makan, tau-tau ludes aja. Kaya Jelly punya gue." Aruna menimpali dengan kesal.

"Bang Jehan kondisinya gimana sih? Kok belum bangun-bangun." Kali ini pertanyaan dilemparkan oleh Devan yang duduk sambil menyenderkan kepalanya pada pundak sang kekasih. —Yulia—

"Katanya sih udah gak papa, do'ain aja cepet sadar. Gak tega gue liat Roila kaya zombie gitu." Lira berkata dengan lesu.

"Sumpah ya, gue tau ini jahat banget. Tapi gue pernah mikir kalo bang Jehan sama Roila itu gak akan bisa sampe nikah, maksud gue nih kaya keliatan bentar lagi juga putus gitu. Gue liat mereka tuh malah kaya kakak-adek daripada pacaran." Perkataan dari Jefran itu disambut tatapan shock dari beberapa gadis yang mendengarnya.

"Ih tapi gue juga sepemikiran kok sama lu Jeff, kayanya ada aura apa ya? Gue gak bisa ngejelasin." Jayden menimpali.

Chaera menggelengkan kepalanya tidak habis fikir. "Gak ada yang tau mereka bakal happy ending atau enggak. Tapi nih ya, mereka pacaran udah hampir delapan tahun. Kalo punya anak tuh itu anak udah mau masuk SD. Gak akan segampang itu buat mereka putus."

Yuriko mengangguk setuju. "Lagian, gue liat-liat juga dua-duanya kecintaan kok."

"Hubungan lama itu gak menjamin hubungan yang sehat, bisa aja mereka gak putus tuh karena sayang aja gitu kalo harus putus? Delapan tahun bro, pasti ada jenuhnya." Arjuna kali ini melepar opini.

"Kalian ini kenapa malah debatin hubungan orang lain sih?! Urus dulu hubungan masing-masing, lagian ini kalian gak bisa simpati dikit apa? Roila lagi gak oke dan Bang Jehan bahkan belom bangun. Jangan ngelantur, gimana hubungan mereka jalan yang gak usah dicampurin. Kita ini cuma temennya, apapun keputusan temen kita ya kita support!"

Semuanya langsung terdiam, tidak ada yang berani membantah perkataan Lira. Tidak lama suara bel di depan pintu mereka berbunyi. Jila adalah orang yang pertama bangkit dan berniat membukakan pintu.

Jila membuka pintu dan langsung terkejut melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.

"Lira ada?" Tendra bertanya dengan nada yang terdengar memaksa.

Jila menatap Tendra dengan tatapan tidak suka. "Mau ngapain lu kesi—"

Belum sempat Jila menyelesaikan kalimatnya, Tendra sudah menerobos masuk begitu saja ke dalam kost. Jila langsung menutup pintu dan mengikuti Tendra dari belakang dengan wajah kesal.

"Heh berhenti! Lu gak sopan!"

Tendra tidak menghiraukan ucapan Jila, pemuda itu malah meneriaki nama Lira.

ninenty-seven kostStories to obsess over. Discover now