22. Muram

635 70 11
                                        

"Udahan, gue capek." Mirta menepi kesisi lapangan sedangkan Roila sontak dibuat cemberut.

"Masa capek baru segitu doang."

Mirta tersenyum dengan terpaksa. "Segitu doang? Kita udah main tiga jam ya Roila."

Roila mengalah, dirinya ikut menepi dan langsung duduk disebelah Mirta. "Minun dulu nih," Roila tidak protes, dirinya langsung menerima air yang diberikan Mirta padanya.

Keduanya saat ini sedang berada di gor badminton yang berada di sekitaran kost, biasanya Mirta sering bermain futsal bersama dengan anak kost atau teman kuliahnya disini.

"Tuh kan apa kata gue, disini pasti anaknya. Lu gak usah panik gak jelas dulu." Mirta dan Roila menoleh menemukan presensi Yasha dan Lira yang baru memasuki gor. Lira langsung berlari kecil menghampiri Roila.

"Lu kalo mau keluar kasih tau gue dulu la, gue khawatir."

Bukan tanpa alasan Lira berkata demikian, semua penghuni kost tahu jika Roila saat ini sedang galau berat setelah ditinggal Jehan untuk LDR, apalagi new york bukan kota yang dekat dengan jakarta. Perbedaan zona waktu juga menghambat mereka untuk bisa berkomunikasi.

Roila sendiri memilih melampiaskan kegalauannya dengan menyibukan diri seperti berenang, bermain volly, bermain tennis, bahkan bermain badminton. Apapun aktivitas yang membuatnya kelelahan agar dapat tidur nyenyak tanpa overthingking mengenai kekasihnya itu.

"Iya maaf, gue ngajak Mirta karena cuma ada dia tadi di kost." Roila menjelaskan secara singkat.

"Balik yuk, hari ini Jea sama Jila masak banyak."

"Mau gue gendong gak? Capek pasti?" Roila menoleh kemudian menggeleng. "Mirta tuh yang kecapean mah, gendong dia aja."

Setelah mengatakan itu Mirta langsung saja menjulurkan kedua lengannya kearah Yasha yang langsung disambut dorongan pelan oleh Yasha. "Yang bener aja, gue jadi geprek kalo gendong gapura kabupaten begini mah." Yasha langsung saja menjauhi Mirta yang saat ini malah terkekeh mendengar ucapannya.

Keempatnya beriringan menuju kost, sesampainya disana dirinya disambut Yuriko, Devan, Jeffran, Chaera, dan juga Bimo yang sedang bermain Uno.

Bisa dilihat muka Bimo yang sudah sangat belepotan, tanda jika cowok itu sering kalah saat bermain.

"Eh La, habis olahraga lagi?"

Roila mengangguk. "Duluan ya, gue mau mandi dulu. Lengket nih badan,"

Tanpa menunggu respon teman-temannya Roila langsung saja masuk kedalam kost.

Mirta sendiri memilih duduk di kursi yang memang ada di depan, diikuti Yasha dan Lira. "Kasian banget gue liat si Roila, semenjak di tinggal bang Jehan kaya gak punya semangat hidup." Bimo berkata dengan nada prihatin.

"Iya, tapi gimana gue kalo jadi Roila juga mening putus daripada LDR," Chaera menimpali.

Yuriko menggeleng tidak setuju. "Ngomong doang mah gampang chaer, mereka udah mau 8 tahun. Pasti susah lah."

Mirta mengangguk setuju. "Apalagi bang Jehan kayanya emang serius sama Roila, gue sama Devan pernah nebak bang Jehan bakal nikahin Roila begitu dia lulus."

Tanpa sadar mereka yang sedang bermain uno jadi termenung. Lira menghela nafas berat, "Gue kangen berantem sama Roila, gue kangen denger Aruna yang teriak-teriak. Sadar gak sadar suasana kost akhir-akhir ini menurut gue suram banget."

Semuanya mengangguk setuju, selain Roila. Aruna juga menjadi lebih menutup diri setelah kejadian tempo lalu, saat dirinya yang menjadi korban intimidasi dari mantan Jayden.

ninenty-seven kostStories to obsess over. Discover now