Setelah puas membeli makanan dan mengisi perut, para pemuda-pemudi itu akhirnya memilih untuk datang ke GOR yang memang ada disekitaran Kost. Jayden memaksa mereka semua untuk berolahraga dengan alih-alih sudah lama mereka punya waktu bersantai bersama seperti sekarang ini.
"Gue udah lama banget gak main basket!" seru Jayden sambil meregangkan tangannya. Aruna yang berjalan di sampingnya hanya tersenyum kecil melihat semangat Jayden yang begitu menggebu sedari tadi.
"Emang lu jago?" tanya Aruna sambil melirik.
Jayden menyeringai. "Jangan remehin gue ya."
"Buktiin dong nanti."
"Siap! Tapi kalo gue menang, lu traktir gue makan ya Run."
Aruna tertawa. "Kalo lu kalah gimana?"
"Terserah lu deh, gue yang traktir juga gue mau." Jayden menjawab santai sambil tersenyum lebar menampilkan lesung pipinya. "Lu minta action figur anime kesukaan lu juga gue beliin." Lanjutnya. Aruna langsung menunduk menyembunyikan senyumnya yang mengembang.
Di belakang mereka, Mirta berjalan seiring dengan Lira. Sesekali lengan mereka bersentuhan tapi tidak ada yang berkomentar apa-apa.
"Lu bisa main basket?" tanya Mirta.
"Bisanya cuma lempar bola doang, masuk enggaknya mah terserah Tuhan," jawab Lira jujur. Mirta tertawa mendengarnya.
"Nanti gue ajarin."
"Gak usah deh, gue lagi ogah keringetan."
"Ayolah, sekali-kali olahraga. Lagian..." Mirta mendekat ke telinga Lira dan berbisik. "...gue pengen liat lu main."
Lira langsung mendorong wajah Mirta menjauh dengan pipinya yang merona. "Jangan deket-deket!"
"Kenapa? Malu?" goda Mirta sambil nyengir.
"Berisik!"
Tidak jauh dari mereka, Devan dan Yuriko berjalan sambil berpegangan tangan. Sesekali Devan menyuapkan pentol pada Yulia yang dibelinya dijalan, Yulia hanya menerima dengan senang hati.
"Enak nih, nanti sebelum balik bungkus lagi ya beb!" Yuriko merangkul lengan Devan dengan erat.
"Oke ratu, kamu mau beli sama gerobaknya juga kakang mah sanggup." Devan menjawab santai sambil menggenggam tangan Yuriko lebih erat. Yasha yang kebetulan berjalan dibelakang keduanya sontak saja langsung memberikan gestrur muntah.
"Huekkkk!!!"
Yuriko dan Devan menoleh bersamaan. "Apasih jomblo, gak jelas banget!" Yuriko berkata dengan Julit.
"Liat aja, besok gue bawa cewek ke kost biar gak lu ledekin mulu!" Setelahnya pemuda itu langsung saja berjalan kedepan mendahului pasangan bucin itu. Devan dan Yulia tidak ambil pusing, keduanya kembali memakan pentol secara romantis.
Sementara di barisan paling depan, Mike berjalan di samping Roila. Tanpa Roila sadari, Mike selalu memperhatikannya. Saat Roila hampir tersandung batu kecil karena cara berjalannya yang urakan, Mike refleks menahan bahunya.
"Hati-hati."
"Makasih," jawab Roila singkat sambil melepaskan diri. Dirinya merasa sedikit tidak nyaman dengan perhatian Mike yang akhir-akhir ini memang terasa berbeda. Entahlah, dirinya memang agak sadar sepertinya pemuda itu memperlakukannya berbeda dibanding dengan penghuni wanita kost yang lain
Sesampainya di lapangan basket, mereka langsung membagi tim. Jayden, Bimo, Yasha, Edwar dan Juna satu tim. Sementara Mirta, Devan, Mike, dan Jefran di tim satunya. Sedangkan para gadis memilih menepi untuk bersorak.
