26. Orang baik

565 67 4
                                        

"Kamu sayang gak sih sama aku?"

Jehan tersenyum dengan agak terpaksa, saat ini Roila sedang dalam masa periodnya, hal yang harus membuatnya berhati-hati dalam bertindak atau berkata karena akan sangat mempengaruhi mood kekasihnya itu.

"Sayang banget loh aku sama kamu, cinta segede ini gak keliatan kah sama kamu?" Jehan menjawab dengan dramatis. Roila berdecak kemudian mencubit lengan milik Jehan. Jejan sendiri hanya terkekeh kemudian merangkul kekasihnya itu berjalan menuju mobilnya yang terparkir.

"Jadwal sidang kamu udah keluar ay?"

Roila berdecak. "Baru juga aku acc sidang, daftarnya aja belum ya!" Jawabanya agak kesal. Jehan sendiri hanya nyengir. Pemuda itu kemudian membukakan pintu mobil untuk kekasihnya.

"Makan ramen mau gak? Atau kamu mau nasi?" Jeonghan melajukan mobilnya keluar dari perkarangan universitas.

"Ikut aja, yang penting jangan ke tempat rame."

Jehan hanya mengangguk paham, setelahnya hening lagi di dalam mobil, Jehan memutar musik sesekali Jehan maupun Roila ikut bernyanyi mengikuti musik.

"Kamu tau gak sih Ay ternyata Edwar suka sama Mira."

Jehan menoleh sekilas. "Oh iya? Tapi mereka gak cocok sih kalo menurut aku."

Roila mengangguk. "Lagian Mira udah punya cowok, agak kasian sih liat Edwar. Galau baget dia kaya gak punya gairah hidup."

Jehan refleks tertawa mendengar pernyataan kekasihnya. "Aku juga gitu, waktu kamu putusin aku karena salah paham aku galau berat."

Roila hanya mengerutkan keningnya, tanda tidak percaya. "Emang iya?"

Jeonghan mengangguk, "Kamu bisa tanya Josh."

"Ah ngomong-ngomong, nanti ajak anak Kost dateng ke nikahan Sonia sama Satria ya." Jehan memberi tahu saat teringat pernikahan yang akan dilaksanakan oleh kedua sahabantnya itu.

"Kok kamu yang ngundang?" Roila bertanya dengan heran. "Lagian kalo ngundang semua anak kost apa gak bangkrut kak Satria? Anak kost tuh makannya porsi kuli semua, termasuk aku." Roila cengengesan di akhir.

"Gapapa sih, Satria kan kaya."

Jehan menjawab sembari terkekeh, lima menit kemudian mereka sampai di restoran pilihan Jehan, sesuai request Roila yang tidak mau makan di tempat ramai, Restoran ini cenderung sepi dan tenang.

Keduanya masuk sembari bergandengan tangan, saat akan duduk Roila refleks menarik Jehan, Jehan agak terkejut kemudian menatap kekasihnya dengan aneh. "Kenapa sih ay?"

"Liat deh, itu Jila sama Mirta gak sih?" Jehan ikut menatap kearah yang ditunjukan oleh kekasihnya, memang terlihat Mirta dan Jila yang sedang makan bersama.

"Letak anehnya dimana? Ini tempat makan dan mereka lagi makan, normal kan?"

Roila langsung saja memberikan Jehan delikan, "masalahnya itu mereka kan mantannya, kan aneh kalo makan cuma berdua? Apa mereka diem-diem balikan?" Roila membuat asumsinya sendiri.

Jehan hanya menggeleng kemudian menarik lengan Roila untuk duduk di meja kosong karena mereka memang agak menghalangi jalan.

"Kamu kalo kepo nanti bisa tanyain di kost."

Roila akhirnya diam, tapi matanya masih kadang melirik penasaran kearah Meja Mirta dan Jila. Tidak ada niat untuk menghampiri karena Jehan melarangnya, mungkin mereka sedang membutuhkan privasi dan tidak ingin diganggu.

"Oh iya ay, aku mau nanya sesuatu boleh gak?" Jehan bertanya begitu mereka selesai memesan makanan mereka.

Jehan menatap kekasihnya itu. Roila menatap balik kemudian mengangguk. "Gak usah izin, tanyain aja langsung. Biasanya juga gitu kan?"

ninenty-seven kostStories to obsess over. Discover now