35. Perpisahan

285 36 3
                                        

Jam dingding masih menunjukan pukul lima pagi, tapi Roila sudah merusuh. Gadis itu sudah mencuci muka dan langsung mengetuk pintu kamar semua penghuni kost.  Bahkan dengan totalitas dia mengambil TOA yang entah Roila dapatkan darimana.

Jayden membuka pintu dengan wajah bantalnya. "Apasih la? Masih pagi ini, gue gak ada kelas hari ini."

Tidak lama satu persatu penghuni ikut membuka pintu kamar mereka. Lira mendelik saat melihat waktu yang masih menunjukan pukul lima pagi. "Tau, biasanya juga lu bangun jam 10!"

"Enak aja! Gue itu morning people ya!"

"Gue gak paham motivasi lu bangunin kita pagi-pagi gini apaan." Aruna mengucek kedua matanya kemudian menguap, tanda masih mengantuk.

"Kalo kalian lupa, hari ini terakhir Mike disini. Jadi kita harus bantuin dia beres-beres dan lainnya!" Roila berkata dengan semangat.

Pada akhirnya setelah drama pagi yang dibuat oleh Roila, satu persatu penghuni Kost mulai beranjak.  Mirta  adalah orang pertama yang turun ke dapur. Dirinya berniat membuat sesuatu untuk mengisi perutnya. Sesampainya di dapur Mirta mendapati Mike sudah ada di dapur, sedang merebus air dengan punggung menghadap pintu.

"Pagi." Mirta berkata singkat.

"Pagi." Mike membalas tanpa menoleh.

Mirta membuka kulkas, mengambil telur, kemudian mulai memasak tanpa banyak bicara. Mike juga diam. Suasana keduanya masih agak canggung akibat pembahasan semalam. Baik Mike dan Mirta sama-sama tidak tahu harus memulai percakapan darimana.

Baru ketika Mirta meletakkan piring berisi telur dadar di meja, Mike mengikuti pria itu untuk duduk.

"Makasih." Mike berkata pelan.

"Gue masakin buat semua orang, bukan cuma buat lu." Mirta menjawab datar, duduk di seberang Mike sambil menuang kopi satchet yang entah milik siapa.

Hening lagi.

"Lu masih marah sama gue?" Mike bertanya.

Mirta menatap Mike sekilas sebelum kembali fokus untuk mengaduk kopi yang terlalu banyak air. "Gue gak marah tuh."

"Tapi?" Mike menaikan satu alisnya.

"Gue cuma belum siap aja." Mirta akhirnya mendongak, menatap Mike dengan tatapan jujur. "Gue tau lu harus pergi dan gue bangga sama lu, Mik. Tapi gue belum siap dan gue rasa itu boleh kan buat gue ngerasa gitu?"

Mike mengangguk pelan. "Boleh."

Mirta menghela nafas kemudian ikut duduk di hadapan Mike. "Gue bakal marah banget kalo lu lost contact sama gue. Ini berat bagi gue, tapi gue juga tau ini lebih berat buat lu. Sorry soal semalem." Mirta akhirnya mengalah, dia akan mencoba menerima keputusan Mike. Selama tujuan Mike adalah untuk menjadi lebih baik, Mirta tidak memiliki alasan untuk menahan Mike.

"Gue bakal terus hubungin kalian kok, tenang aja."

Satu per satu penghuni lain mulai turun dan ikut duduk di meja makan.

Arjuna dan Yasha datang bersamaan, sempat melirik Mike sebentar sebelum mengambil piring masing-masing. Tidak ada omongan atau candaan yang biasa dilontarkan. Suasana terlihat masih dingin walau tidak sedingin kemarin. Edwar hanya mengangguk. Jefran duduk paling jauh dan sibuk dengan ponselnya sendiri.

Bimo yang turun belakangan justru langsung menepuk pundak Mike ketika melewatinya.

"Butuh bantuan beres-beres kamar gak bro?" Jayden bertanya singkat.

Mike sedikit terkejut. "Gue seneng aja kalo dibantuin,"

"Lu bawa semua barang ke China? Terus ini lu langsung otw ke bandara dari Kost? Gak balik dulu?" Arjun bertanya setelah meneguk air mineral.

ninenty-seven kostStories to obsess over. Discover now