"La, makan dulu yuk!"
Roila mendongkak mendapati Lira dan Jea yang tersenyum sembari memamerkan sebuah papper bag. "Ini isinya makanan kesukaan lu, Mirta udah effort tau masakin lu dari siang, kalo lu gak makan dia bakal marah besar." Lira sengaja berkata demikian agar Roila mau setidaknya memakan beberapa suap.
Sudah tiga hari sejak Joshua mengabari Roila jika Jehan terlibat kecelakaan, selama tiga hari itu juga Roila tetap diam di rumah sakit menunggu sang kekasih untuk bangun. Dia sama sekali tidak ingin pulang atau pergi kuliah, alhasil teman-teman kostnya lah bergantian mendatangi Roila, memastikan setidaknya gadis itu makan dan beristirahat dengan benar.
"Gue belum laper."
Senyum di wajah Lira seketika luntur, gadis itu berdecak sebal kemudian bangkit dan menyeret lengan Roila untuk mengikutinya menjauhi ruang rawat Jehan. Roila yang memang tidak ada tenaga dan gairah tentu saja terseret, gadis itu sempat meronta meminta dilepaskan tapi Lira bersikap Tuli dan tetap menyeret gadis itu ke taman Rumah sakit yang kebetulan tidak terlalu ramai. Jea yang melihat itu mengikuti dari belakang dengan panik. Untung saja ada Devan dan Yuriko yang baru sampai, keduanya sempat bingung melihat Roila dan Lira.
"Itu kenapa Roila di seret gitu deh?" Yuriko bertanya dengan cepat mencegat Jea. Jea menggeleng, dirinya kemudian menyerahkan papper bag berisi baju ganti Roila kepada Yuriko. "Di ruangan bang Jehan lagi gak ada siapa-siapa, tolong jagain dulu biar gue susul mereka."
Setelah mendapat anggukan dari Devan dan Yuriko, Jea bergegas menyusul Lira dan Roila walau tertinggal jauh.
Sementara itu di taman Rumah Sakit, Roila mendorong pelan bahu Lira yang menghalanginya. "Minggir!"
"Gak akan!"
"Lu kenapa sih?! Cowok gue sendiri di dalem!"
"Lu kira Bang Jehan bakal seneng liat lu kaya mayat hidup kaya gini?!" Lira berkata agak membentak. Roila terdiam.
"Gue paham lu khawatir, tapi seengaknya makan dan urus diri lu sendiri dulu sebelum mikirin orang, lu gak keren dengan bersikap kaya gini. Anak-anak itu khawatir sama lu tapi kayanya lu gak sekalipun mikirin balik orang yang khawatirin lu ya?"
Melihat Roila sepertinya tidak akan membalasnya, Lira menambahkan. "Semua orang itu sibuk, tapi kita masih sempetin buat nemenin lu, nganterin baju ganti lu, bahkan buatin lu makanan. Tapi balesan lu ke kita apa?"
Roila menunduk, rambutnya yang tergerai menutupi wajahnya yang kini sudah dipenuhi air mata. "Gue... maaf," Roila berkata dengan mencicit.
Lira menghela nafas kemudian membawa Roila kedalam pelukannya. "Bang Jehan udah gak papa La, dokter sendiri bilang kalo dia udah lewatin masa kritisnya. Dia cuma lagi istirahat, sebentar lagi juga bangun. Lu percayakan?"
Roila mengangguk.
"Maafin gue karena ngebentak lu tadi, kalo gak di bentak kaya tadi, lu gak akan sadar soalnya." Lira kemudian mengurai pelukan mereka, lagi-lagi Roila hanya mengangguk mengerti.
"Balik yuk? Makan ya, kasian Mirta udah masak banyak kalo gak lu makan." Bujuknya lagi.
Roila mengusap air matanya, kemudian mengangguk. Dirinya tidak sadar banyak orang yang mengkhawatirkannya, harusnya dia bersyukur memiliki teman seperti mereka ini. Lira memang benar, Jehan tidak akan senang melihat dirinya yang sekarang ini.
Tidak lama setelah keduanya memutuskan untuk kembali, Jea datang dengan ngosh-ngosan. "Kalian darimana aja sih?" Jea berkata agak kesal. "Gue cariin juga, cepet banget ilangnya." Lanjutnya.
"La, lu gak papa kan?" Jea mendekat kearah Roila, Lira yang mendengar hal itu langsung saja memutar kedua bola matanya malas.
"Lu kira gue abis apain Roila? Lagian lu ngapain disini? Bang Jehan sama siapa?"
