"Tumben banget mau diajak nonton Horror," Jehan bertanya agak heran.
Jehan dan Roila saat ini menuju ruang tunggu yang ada dibioskop, masih ada sekitar lima belas menit sebelum studio dibuka.
Roila hanya mengedikan bahunya, tangannya terulur untuk memberikan Popcorn pada mulut sang kekasih yang tentu saja disambut senang hati.
"Kata Aruna gak serem, jadi gapapa."
Bukan tanpa alasan Jehan bertanya, kekasihnya ini terkenal sangat penakut. Bahkan diawal Roila ngekost anak-anak ninety pun kaget. Kalo kata Yuriko, Roila ini mukanya gak kaya anak penakut.
"Oh iya, Devan sama Yuriko pacaran ya yang?" Roila yang baru saja akan menyuapkan popcorn langsung menoleh cepat kearah sang kekasih. "Rumor darimana deh?" Tanyanya dengan heran.
Jehan mengernyitkan dahinya. "Loh? Aku kir pacaran, soalnya pas hari apa gitu aku lupa aku ketemu mereka lagi makan bareng. Cuma gak sempet aku sapa soalnya kamu ngeburu-buruin aku dateng."
Roila hanya menggeleng. "Makan bareng aja biasa kali, anak kost kan gitu. Aruna aja sering makan bareng sama Edwar tapi gak pacaran tuh, malah katanya kan Edwar sukanya sama Mira. Makan bareng doang gak menjamin mereka pacaran." Roila menjelaskan dengan acuh tak acuh.
Jehan masih tidak setuju, "Tapi mereka kaya orang pacaran tau Ay."
"Kamu kalo liat aku makan bareng sama Mirta itu artinya pacaran gak? Enggak kan, aku pacar kamu. Nah kayanya Devan sama Yuriko juga gitu. Apalagi kan mereka satu prodi. Siapa tau emang bahas tugas."
Jehan menyerah, dirinya tidak lagi mendebat sang kekasih.
Asyik mengobrol, membuat lima belas menit berlalu dengan cepat, Roila dan Jehan bangkit untuk masuk kedalam studio, setelah menemukan nomor kursi keduanya duduk dengan nyaman.
"Yang nonton dikit loh Ay, serius gak takut?" Jehan mencoba menakuti. Roila mengedarkan pandangannya, hanya ada tiga orang dibelakang mereka dan empat orang dikursi depan, sedangkan yang dijajaran kursi mereka hanya ada mereka berdua.
"Belum pada masuk kali? Mereka ngaret."
Benar saja setelah mengatakan itu ada rombongan anak SMP yang memasuki studio. Jehan menggeleng takjub, "Dulu pas aku SMP kayanya gak pernah main ke bioskop, seringnya main kelereng."
Roila mencubit pelan lengan kekasihnya itu. "Suara kamu terlalu besar, nanti kedengeran!"
Jehan hanya nyengir setelahnya.
Untungnya studio terisi lumayan penuh, walau didominasi oleh anak sekolahan.
Lima belas menit awal masih aman untuk ditonton oleh Roila, tetapi setelahnya yang dilakukan oleh Roila adalah memeluk lengan Jehan dan bersembunyi.
"Suaranya gede banget ih Je, serem." Roila menutupi matanya menggunakan topi yang dipakai oleh Jehan. Jehan dengan sengaja menurunkan topi yang menutupi mata Roila, hal yang membuat gadis itu berdecak kesal.
"Masa kalah sama anak SMP, gak serem kok itu hantunya."
"Gak mau!"
Dan Jehan hanya terkekeh setelahnya.
Dua jam kemudian Roila dan Jehan keluar dari bioskop dengan wajah Roila yang cukup pias, Jehan yang tadinya ingin mengusili kekasihnya jadi tidak tega.
"Mau makan dulu gak?"
Roila menggeleng. "Pulang aja yuk, takut kalo kemaleman." Jehan mengernyitkan dahinya, dirinya refleks melihat jam tangan yang melingkar dipergelangannya. "Ini bahkan baru jam 7?" Jehan bertanya dengan agak heran.
