28. Chaos

423 46 7
                                        

Pagi itu Lira terbangun dengan suara ribut dari luar kamar. Matanya yang masih sepet langsung melirik jam dinding-pukul enam lewat sepuluh menit. Dirinya menghela nafas panjang, sedikit agak kesal karena ini masih terlalu pagi untuk membuat keributan.

"ROILA, INI BAJU SIAPA YANG NYAMPUR SAMA CUCIAN GUE?!"

Suara teriakan Chaera menggelengar keseluruh penjuru kost.

Lira dengan kesal langsung bangkit dari kasur, keluar dari kamar dan langsung mendapati Chaera yang sedang berdiri di depan jemuran dengan wajah kesal sambil memegang kaos oversize berwarna hitam.

"Itu punya Yuriko kayanya, gue gak punya baju gitu." Roila menjawab santai sambil menyikat gigi di wastafel luar.

"Kenapa bisa nyampur sih?!"

"Lu kemarin malem kan nyuci bareng dia, masa lupa." Roila berkumur kemudian meludah. "Lagian emang kenapa kalo nyampur? Kuman Yuriko juga sama kayak kuman lu."

Chaera melotot horror kearah Roila yang terlihat sangat lempeng. "BUKAN ITU MASALAHNYA!"

Lira menggelengkan kepala, memilih tidak ikut campur dan langsung menuju kamar mandi yang ada diluar. Tapi belum sempat tangannya memegang kenop pintu, Mirta sudah keluar dengan handuk melingkar di leher.

"Pagi Lir, tumben bangun pagi."

Lira membeku sejenak, dirinya menatap Mirta dengan seksama, tetesan air masih terlihat di wajah tampannya. Entah kenapa tapi hal itu membuat Lira berdegup kencang.

Hubungan keduanya memang terbilang semakin dekat setelah insiden di taman, tapi keduanya bahkan tidak tahu jenis hubungan apa yang sedang mereka jalani. Intinya untuk saat ini mereka memang sedang menjalani Hubungan Tanpa Status?

"Lir? Kok bengong?" Mirta melambaikan tangannya di depan Lira, hal yang membuat Lira langsung tersentak.

"Dibangunin sama teriakan si Chaera," jawab Lira pada akhirnya. "Lu kenapa mandi di kamar mandi luar?" Lira mengalihkan pertanyaan

"Kamar mandi gue gak ada airnya."

Lira hanya mengangguk, setelahnya Mirta menepi mempersilahkan Lira untuk masuk ke dalam kamar mandi sementara dirinya melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.

"GUE UDAH TELAT BANGET NIH, ADA YANG MAU NEBENG GUE KE KAMPUS GAK?!" Bimo berteriak rusuh dari dalam kamarnya sambil sibuk memakai celana jeans.

"GUE MAU!" Yuriko keluar kamar dengan tas selempang sudah siap. Bimo sempat menatap Yuriko dengan tatapan ngeri. "Ini si Devan ngamuk gak lu nebeng gue?"

"Aman, dia kelas sore. Baru tidur subuh juga, gue gak tega kalo minta anterin."

Bimo hanya mengangguk, tidak lama Jayden menyusul dengan rambut basahnya. "Gue nebeng juga dong Bim, mobil gue lagi di bengkel sedangkan motor gue lupa isi bensin."

Bimo menoleh cepat kearah Jayden, "Lu mau kita deptil gitu? Lu gak lupa gue bawa motor kan ke Kampus?" Jayden menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Gimana dong?"

"Pake motor gue aja Jay, kebetulan hari ini gue gak ke kampus." Aruna tiba-tiba saja sudah berada dekat mereka sambil mengulurkan kunci motornya.

Jayden menatap Aruna dengan senyum yang menampilkan lesung pipitnya. "Nanti pulang kampus gue bawain makanan ya Run!" Runa hanya mengangguk cepat sementara Bimo langsung mengkode Yuriko untuk segera menyusulnya. Dia ada kelas jam 7 pagi ini.

Sementara di dapur, Jea sedang menggoreng telur untuk sarapan. Mira yang baru bangun menghampiri dengan mata masih setengah terbuka.

"Pagi Jea..."

ninenty-seven kostStories to obsess over. Discover now