23. Party

690 63 7
                                        

"Gue rasa ini ide buruk." Mira berkata dengan tidak yakin.

Saat ini kedelapan gadis penghuni ninety-seven kost sedang berada di kamar Roila. Lira dan Chaera mengumpulkan semuanya dan mengajak mereka untuk girls timee. Awalnya Jea, Jila, dan yang lainnya hanya berfikir girls time biasa. Sampai saat jam menunjukan pukul satu pagi, tiba-tiba saja kedua gadis itu membagikan baju dan berkata mereka akan pergi berpesta.

"Gue setuju sama Mira, lagian gue liat di depan masih ada Mirta yang lagi main catur sama Jefran." Jea ikut menambahi. "Lagian kalo tunangan gue tau bisa abis gue,"

Lira menoleh cepat kearah Jea. "Gue butuh elu sama Jila ikut kita buat jagain kita, kalian kan yang paling dewasa disini."

Jila langsung saja menatap horror kearah Lira. "Gue dimanfaatin?!"

Roila yang sedari tadi diam langsung bangkit. "Kayanya sesekali gapapa deh, gue juga butuh sesuatu buat lampiasin rasa sress gue akhir-akhir ini." Chaera dan Lira langsung tersenyum mendengarnya.

"Gue juga, gue butuh alkohol buat lupain kejadian buruk yang belakangan gue alamin." Aruna ikut berbicara.

"Oke, tapi gimana cara kita keluar sekarang? Seperti kata Jea, anak cowok belum pada tidur semua.

"Yap, selain itu kita kesana mau pake apa? Mobil kita di garasi, kalo kita bawa otomatis itu mobil nyala dan anak cowok bakal tau." Yuriko ikut mengatakan pendapatnya.

Lira tersenyum misterius. "Gue punya rencana,"

Jea menghela nafas. "Lu emang udah ngerencanain ini kan?"

Lira tersenyum kemudian menjentikan jarinya. "Tepat sekali,"

Dan disinilah kedelapan gadis itu berakhir, di sebuah club malam yang terletak di pusat kota. Jangan bertanya bagaimana cara mereka keluar dan mengelabui para pria di kostnya.

Lira saat ini sudah asyik berjoget ria dengan kekasihnya —Tendra. Mereka memang datang menggunakan mobil Tendra dan juga teman pemuda itu Harsa.

Aruna, Chaera, Yuriko, dan Mira juga ikut menari di dance floor, sedangkan Jea dan Jila lebih memilih mengawasi teman-temannya. Berbeda dengan Roila yang memilih meminum minuman alkohol sendirian.

Yang tidak Roila sadari adalah, Harsa juga adalah teman kekasihnya Jehan. Kelakuannya malam ini tanpa dia sadari tentu saja sampai ketelinga sang kekasih.

Saat akan kembali meminum minuman alkohol miliknya, Jea langsung menjauhkan gelas beserta botolnya. "Udah, gak ada minuman buat lu lagi."

Roila merengek. "Mau minummm."

"Minum air putih,"

"Jeaaaaa, gue pengen mabuk." Roila kembali protes. Jea sendiri hanya menghela nafas kasar. "Lu udah mabuk, gue gak mau ya lu muntah gara-gara kebanyakan minum."

Roila diam, dirinya langsung menelungkupkan kepalanya dan menangis. "Jehan jahat banget, gue kangen berat sama dia. Dia gak ada inisiatif ngehubungin gue juga." Ujarnya.

Harsa, Jila, dan juga Jea sontak langsung berpandangan. "Tiba-tiba banget bahas Jehan?" Jila berkata dengan bingung.

Harsa hanya meggelengkan kepalanya dengan maklum. "Orang kobam emang suka gitu, gapapa biarin aja."

Jea mengangguk. "Lu gak gabung kesono bang?"

Harsa hanya menggeleng. "Gue disini aja jaga kalian, lagian gue gak berniat dateng kesini. Cuma Tendra ngancem gue jadi gue turutin deh bantuin mereka nyulik lu pada di kost." Candanya yang membuat Jea dan Jila tertawa.

"Jehan udah punya cewek lagi deh kayanya, gimana dong gue gak bisa hidup tanpa dia." Roila lagi-lagi meracau tidak jelas.

"Gak beres nih orang," Jila menggelengkan kepalanya tidak habis fikir.

ninenty-seven kostStories to obsess over. Discover now