Chaera sedang bersama Lira saat tiba-tiba saja Aruna menghubunginya. Keduanya berniat untuk pergi kesebuah cafe karena memiliki pekerjaan bersama.
"Siapa?" Lira melirik sekilas ponsel Chaera sedangkan dirinya duduk di kursi kemudi.
"Aruna." Jawabnya sebelum mengankat telepon dari gadis itu.
"Yoit Run, kenapa?"
Diam tidak ada jawaban, Chaera melirik kearah Lira yang mulai melajukan mobilnya keluar dari perkarangan kampus. "Kenapa run? Kok diem sih?" Chaera bertanya sekali lagi.
"Chaer."
Chaera yang tadinya menyandarkan tubuhnya di kursi langsung menegakan tubuhnya begitu mendengar suara Aruna yang bergetar. "Run? U okay?" Tanyanya.
Lira mengkode supaya Chaera mengaktifkan loudspeeaker ponselnya yang langsung dituruti oleh gadis itu. "Tolong gue."
Lira yang mendengar suara Aruna yang terlihat tidak baik-baik saja langsung menepikan mobil miliknya. "Lu dimana sekarang?"
Aruna memberi tahukan alamatnya dengan nada gemetar dan sesekali terisak, begitu mengetahui keberadaan Aruna yang masih ada diarea kampus, Lira langsung saja memutar balik mobilnya. Masa bodo dengan pekerjaan mereka, saat ini Aruna lebih membutuhkannya. Ini memang terkesan tidak profesional, tetapi mereka akan bertanggung jawab.
"Kontak tim mereka, bilang kalo kita gak bisa dateng ke tempat sekarang."
***
"Kamu kalo ngajak jalan aku cuma buat diemin aku, aku pulang aja ya ke kost!" Roila berkata dengan kesal. Sudah hampir setengah jam mereka hanya berjalan-jalan tanpa arah dan Jehan yang hanya diam membisu.
"Kamu mau beli ice cream gak ay?" Jehan menawarkan.
Roila menatap kekasihnya ini dengan tatapan menyelidik, "Kamu kenapa sih? Ada masalah?"
Dirinya paling tahu Jehan seperti apa, jika Jehan sudah diam seperti ini berarti ada sesuatu yang terjadi.
Jehan tersenyum, dirinya kemudian menggengam tangan Roila untuk masuk kesalah satu cafe, keduanya duduk setelah memesan.
"Kamu mau sekalian pesen dessertnya gak?"
Roila hanya mengangguk, dia tidak akan memaksa Jehan berbicara. Jika memang Jehan ingin memberi tahunya dia akan berbicara nanti.
Pesanan keduanya datang tidak lama kemudian, Roila langsung mengambil cake dan memakannya, sesekali memberikan Jehan juga suapan.
"Kamu tau gak sih aku gak pernah sebucin ini sama cewek?"
Roila mendongkak, dilihatnya Jehan sedang menatapnya dengan tatapan yang dalam.
"Bohong." Roila kembali menunduk dan memakan dessert miliknya.
Jehan tersenyum kecil kemudian mengacak gemas rambut milik kekasihnya itu. "Kalo aku bohong kita gak akan selanggeng ini."
Roila tersenyum. "Iya bercanda, tau kok. Kamu tau sendiri aku udah buta kalo itu soal kamu."
Jehan tersenyum, hening lagi kemudian.
"Sayang,"
"Hm?"
Jehan tiba-tiba saja mengengam lengan milik Roila, Roila menatap aneh kepada Jehan. "Jangan bilang kamu mau lamar aku disini ya! Minimal tempatnya yang lebih aneh jangan di cafe. Nanti aja kamu lamar aku pas konser Taylor Swift, cocok gak?"
